Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Oktober 2014

Takdir yang mempercantik iman




Mungkin benar, Allah maha pencemburu..
Tiap kali kita menemukan cinta yang begitu manis atau bahkan ketika itu hanya dalam harap. IA iangatkan, IA kembalikan kita dengan cara-Nya..
Maka, lihatlah takdir yang telah mempercantik iman dalam hatimu..
seperti saat orang terkasihmu berpulang tanpa bisa kau cegah, iman dalam hatimu kan berujar, “sebelum ini, Allah mencintaiku melalui orang terkasih..dan kini Allah mencintaiku tanpa perantara lagi”


Kamis, 24 April 2014

kamu bukan bocah (kecil) lagi

...

....

...

jika ada doa yang mengancam, mungkin akan ada doa yang menggugat

"kenapa aku"

"lah,kenapa bukan kamu?"

inget posisimu adalah hamba, jalani yang menjadi jatahmu, selesaikan yang menjadi bagianmu, hadapi, hadapi..

ayo kuat! kamu bukan bocah kecil lagi yang bisa cari perhatian dengan 'nakal' terus-terusan
kuat!! selesaikan jatah hidupmu..

DIA yang paling tahu kok bagaimana kamu

kuatlah!
dan husnudzonlah..

ayo bangkit, move on, kamu bukan bocah kecil lagi yang bisa teriak2 nangis biar dikasih permen..

"permintaanku sederhana, kenapa aku harus membayar mahal sekali untuk permintaan sederhana yang DIA berikan GRATIS pada banyak orang?!!, kenapa aku? kenapa aku?"

"aku sudah dibatas, aku tak bisa meneruskannya, mungkin setelah ini aku akan gila"

hei heii.. hush..
pasti ada maksudnya, pasti RENCANA-NYA SELALU YANG TERBAIK

kuatlah..
ayo..


23 tahun, adakah definisi itu jelas bagiku
bolehkah aku menggugat-Mu?
*astaghfirullah*

sudahlah,
ayo..
kamu bukan bocah kecil lagi.. se-le-sai-kan jatahmu didunia
pasti ada jalan,
semua akan indah pada saatnya
rencana-Nya selalu yang terbaik
kamu hanya belum tahu saja.. kamu hanya sedang di-uji oleh-Nya..
sudahlah,
ayo..
kamu bukan bocah kecil lagi

S-T-R-O-N-G
#ntms kalian tahu #ntms kan?
note to my self, bukan NOT to my self
:p 

Sabtu, 29 Maret 2014

memori yang terseret

berpikir. ya.oke, saya suka dengan aktivitas ini, disamping terlihat keren, berpikir juga menjadi bagian dari rasa syukur: memanfaatkan akal.
berpikir tentang banyak hal, terutama evaluasi diri. saya teringat beberapa tahun silam.
diri ini mungkin identik dengan kelemahan, diam, tertutup, sunyi dan tak terlihat.
tidak suka muncul terlalu banyak, padahal sih pengin *eh
diri ini juga identik dengan perasa nya yang luar biasa, cemburuannya ranking 1 pokoknya. hahaa
tapi, diri ini juga banyak dicinta *eaa walaupun tak banyak dipuja (?) ya,maksudnya..orang2 sih sadar banyak jeleknya, tapi tetep aja dicinta, dengan setia pula *asik
yah, begitulah kira-kira.
ada gemuruh yang sangat bergelora, kadang terlalu sentimentil, sedikit menggebu-gebu.
dan..beberapa tahun silam, sepertinya saya sudah diingatkan akan hal ini.
hm..
dekat, dan nyata sekali pertemuan itu
pertemuan di alam yang berbeda, alam mimpi.
saya berharap mimpi itu sungguhan pertemuan, bukan sekedar mimpi. setidaknya dengan begitu, salah satu kekasihnya terkekasih pernah saya jumpai :)
kala itu disiang hari,
usia belum genap 15 tahun, kelelahan sepulang sekolah, kegiatan OSIS dan berbagai macam les *ya,gini2 rajin les juga lho saya, sekarang juga rajin,rajin ngeles :p
sedari kecil terbiasa membaca banyak kisah, dan salah satunya tentangnya..salah seorang sahabat
ia tak terlalu sering disebut dalam riwayat, tak juga tersebut pada 10 yang dijamin masuk surga, tak pernah menjadi pemimpin, bukan sosok elitis nan populis. dia sosok yang sangat menggebu, tapi disisi lain jiwanya lemah, hanya saja cintanya pada yang terkasih begitu besar, sehingga kelemahannya dihiasi dengan indahnya keimanan.
tahu,siapa yang saya maksud?
ia bahkan meninggal dalam keadaan terasing, hampir tak terurus jasadnya. akhirnya ada yang memberikan kain baginya, dan kain itupun tak cukup menutupi jasadnya.
sebelumnya ia memang mengasingkan diri, memilih hidup dengan zuhud dan jauh dari kekuasaan
sudah tahu siapa yang kumaksud?
ya, dialah Abu Dzar Al Ghiffari
ia tentu bukan yang terbaik, tak sekaliber Abu Bakar lah :), tapi ia adalah Sahabat Nabi..beberapa ada riwayatnya dalam hadist..
dan jujur, ia sebenarnya bukan termasuk yang teridolai *tsah..
tapi ketemu di alam yang lain, begitu nyata, membuat saya sering mengingatnya
dan mengkontempelasikan #apadehmaksudnya diri ..bisa jadi.. ya, bisa jadi.. (tidak perlu saya jabarkan lebih jauh) :D

yang jelas, saya ambil hikmah banyak2..saya teringat kisahnya kala ia-abu dzar al ghiffari- menghina bilal -muadzin kesayangan yang terkasih- dengan sebutan budak hitam.. dan yang terkasih menegurnya keras. dan abu dzar pun memina maaf pd bilal dan rasulullah sambil berurai air pd matanya
atau fragment lainnya, saat abu dzar meminta jabatan -nah,mohon ini dikoreksi,saya agak lupa persisnya- dan yang terkasih tak memberikan karna jiwa abu dzar lemah, sementara jabatan untuk yang kuat.
ada juga potongan kisah lainnya saat abu dzar menegur dengan keras penguasa kala itu -duh,siapa ya penguasanya,lupa maning-, abu dzar juga yang mengingatkan untuk selalu hidup dengan zuhud, ya..itu sisi baiknya, dia teguh pegang prinsip yang diyakininya, meski kelemahannya -menurut saya- ia sang kekasih yg terkasih cukup emosial

ada kenangan yang tersimpan, ia tetap mulia-insyaAllah- disisi-Nya, ya,ia sahabat Rasulullah! bagaimana ia tak mulia..
dan setiap mendengar penggal kisahnya, saya masukkan dalam sebuah arsip khusus tentangnya..untuk saya ambil banyak2 hikmahnya..

tetep boleh dong pengen seperti abu bakar, yang dipanggil semua pintu Surga.. yang disebutkan dalam alqur'an bersanding dengan yang terkasih-Rasulullah- dan yang ketiganya adalah Allah :D.. yang memahami sebelum perginya yang tercinta pd musim haji wada.. yang juga disebut lelaki yang paling dicintai Rasulullah..
tetep boleh dong pengen seperti umar, yang ketegasannya membuat banyak orang tunduk pada islam, walaupun konon dalam riwayat pd masa kepemimpinannya, orang2 lebih takut pada Umar dibanding takut pada Allah..hehe..
atau mungkin untuk figur pemimpin, cukup dekat dengan sosok ustman, emang ustman ini gimana sih? ustman termasuk tipikal melankolis-plegmatis -semoga ini bukan sotoy- haha, sama kayak saya :p
apa lebihnya ustman? tentu saja ia lebih harta, kaya betul orangnya, dan dermawan luarbiasa, yang yang penting termasuk 10 yang dijamin masuk surga..yeeyy ^^9 *kenapa lu?
saat menjadi khalifah, Ustman lebih suka menghindari pertikaian, ia cinta kedamaian, tak suka peperangan *nah kan, plegmatis kan :D
ia yang dermawan, pada akhir hidupnya meninggal dalam keadaan tersakiti, terdzolimi..ia begitu perasa *melankolis
begitulah Ustman.. tapi, ada satu kisah menariknya.. saat ia dinikahkan oleh..erg..oleh..*yap,saya lupa lagi..dengan seorang gadis berusia 18 tahun, sementara dirinya sudah 80 tahun.
perjodohan yang ia tsiqohkan pd yang menjodohkan, sama sekali tak tahu,jika dirinya--ustman--akan dinikahkan dengan gadis kecil itu *namanya cari tau sendiri,saya lupa T.T
saat melihatnya ustman terkaget, ia sampaikan dirinya suda tua, ia tunjukkan uban2 dikepalanya,menunjukkan dirinya tak sekedar tua,tapi tua bangka, hehe.. dan sang gadis menjawab: "hidupmu tlah kau habiskan untuk bersama yang terkasih-Rasulullah- aku bangga dengan itu"
wah, iki dialog paling romantis menurutku sepanjang kisah kasih lainnya :D, ya, selain dialognya ali sm fatimah juga ding ;) begitulah ustman..
dan tentu boleh dong kepengen seperti Aisyah dan Fatimah..dua wanita yang bikin saya jadi...huum..jadi tertampar, karna masih jauh banget bangeett.. -,-

eh, jadi panjang yah.. padahal tadinya cuma mau cerita mimpi..pas jaman smp.. jaman semono, kok sekarang nggak pernah mimpi kayak gitu lagi ya?kebanyakan maksiat kayane..ckckck

tobat yuh tobat...

sambut sahabat,
kejar surga tertinggi,
bertemu yang terkasih,
menatap wajah-Nya,
bertetanggaan dengan para assabiqunal awwalun..

Allah...karuniakan syahid pada kami

*ambil kaca, belum pantes
tapi kabar baiknya, Allah bentangkan peluang pengampunan sepanjang hayat :D
sampai ketemu di Surga yaa..
Griya IM, 28 Jumadil Awal 1435 H

 

Selasa, 12 November 2013

harga ketaatan

Zāhidun fid-dunyā, Rāghibun fil-ākhirah

Kedua hal ini adalah kunci dari karakter para sahabat/sahabiyah yang dididik langsung oleh Rasūlullāh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Zuhud di dunia, dan hasrat kuat pada akhirat..
Sungguh.. logika ini sangat sulit diterjemahkan oleh kita yang terbiasa RASIONAL dan EGOISTIK… Yang terbiasa mempertimbangkan segala sesuatu dengan sudut pandang :
"apa manfaatnya buat gw?" 
"kalo gw nikah sama dia, gw dapet apa?"
"kalo gw ngaji, ntar waktu gw buat istirahat kurang dong?"
"gw udah infaq, tapi kok rejeki gw seret-seret aja ya?"
"ngga mau kajian ah, ujan.. ntar basah lagi.. ngga nyaman"

Betapa menyedihkan kondisi iman yang seperti ini.. Ibadah hanya untuk self-service...

Memang… 
Iman kita memang harus sering diasah, agar lebih tergoda dengan janji Jannah, lebih gembira dengan janji doa malaikat, lebih tergiur dengan pahala dan ampunan...
Kalo direnung-renung, ketaatan kita masih gampang dibeli oleh dunia dan harta, oleh hawa nafsu…
Misal, mau puasa ngga jadi karena dapet tawaran traktiran.. Berarti harga ketaatan lo ya seharga sepiring nasi.
Mau berjilbab syar'i tapi enggan karena takut disangka udah nyokap-nyokap. Berarti harga ketaatan lo cuma seharga kritikan orang….

Sedangkan para shahabat/shahabiyah itu, mereka bahkan rela menebus NYAWA-nya, SELURUH HARTA-nya, bahkan orang-orang yang dicintainya dengan JANNAH… Dan ketaatan kita masih mudah terbeli dengan televisi atau internet… Merelakan waktu shalat dan munajat dan ditukar dengan bulaian kasur.. Ah betapa murah iman kita…. :(

Kalau ketaatan kita masih mudah ditukar dengan perkara-perkara sepele, 
maka…..pantaskah diri ini duduk bersanding dengan para sahabat/sahabiyah?

Sejenak mengukur harga ketaatan diri, dan meratapi kemurahannya… :'
 
 
diambil dari sini

Minggu, 10 November 2013

begitu ingin


Apa-apa yang tak berbicara, tak selalu berarti bisu. Sebagaimana apa-apa yang tak tampak, tak selalu bermakna tiada.

Aku begitu ingin, suatu waktu, mengerti benar bahasa langit. Atau bahasa dedaunan yang terhempas di musim gugur. Sebab betapapun lisanku berkata indah akan dunia, tetap saja aku terbata mengucap syukur dan bersujud dengan penuh kerendahan hati.

Aku pun ingin berguru pada hujan yang dilupakan, yang hadirnya terjejak pada pepohonan yang subur. Atau kepada awan yang berbincang dengan angin, yang beriring menuju satu savana, sabar meniti jarak.

Hingga lalu kusaksikan pada suatu masa, bunga-bunga nan merekah di musim semi, ataupun keteduhan nan hijau yang begitu lebat di musim panas. Disana, semacam tertera satu niscaya, bahwa pada ketaatan yang disempurnakan, ada kisah yang kan berbuah jadi indah.


Achmad Lutfi
9 November 2013

Lokasi: Bahnhof Calberlah

Sabtu, 18 Mei 2013

tokoh muslim,politik,muslim negarawan

hehe,judulnya saya ubah suka2.. :D
tulisan ini bagus, saya suka,ya..suka tulisannya lah, haha

sarat makna, komplit..ya, baca aja ya ampe selese, nggak nyesel dah bener :)
ah, saudara seperjuangan yg terus menjadi.. ini baru satu yg di solo, apa kabar yg dibandung? semarang? jogja? jakarta? huehee..belakangan kalian aku rindukan lebih.. Ulul Albab.. Ulul Albab..
semoga Allah himpun kita lagi ya saudara saudari..dalam himpunan yg jauh lebih baik lagi..
eh, kenapa jadi curhat gini.. haha, oke.. selamat membaca tulisannya akh prof.alqaan (itu gelar prof sudah istiqomah beliau sematkan sejak sekolah lhoo) atau yg biasa dipanggil bang botak oleh rekan se-almamaternya, insyaAllah bermanfaat!

HILANGNYA TOKOH MUSLIM DARI PANGGUNG POLITIK 

oleh: Alqaan Maqbullah Ilmi

Tahun ini, ya 2013, menjadi sebuah keadaan yang sangat ketat bagi tiap kepentingan politik melakukan propagandanya. Dan menjadi sesuatu yang unik bahwa mulailah bermunculan setiap niatan yang tersembunyi. Untuk kemudian menggiring orang-orang pada sebuah opini yang telah dipersiapkan untuk dirinya. Namun akan tetap sama, massa mengambang adalah sasaran empuk bak hidangan di atas piring yang siap diperebutkan.

Dalam tulisan ini saya ingin mengkaji kembali banyaknya opini yang mengatakan bahwa tahun 2014 adalah kuburan bagi partai islam. Bagi saya kata-kata ini bukanlah sebuah ramalan tapi ini adalah bagian dari rencana banyak orang untuk kemudian menyingkirkan lawan politiknya yang memiliki ideologi sangat kuat, yaitu umat islam. Saya katakan ideologi yang sangat kuat karena apa yang diperjuangkan oleh umat islam adalah jelas dan sangat konkret. Bahkan sejarah sampai hari ini telah membuktikan bahwa di sinilah perjuangan akan nilai kemanusiaan sesungguhnya lahir dan berkembang. Mengembalikan manusia pada harkat dan martabat. Mengembalikan manusia pada kebahagiaan yang hakiki. Mengembalikan manusia pada nilai produktivitas yang luhur untuk dunia dan akhiratnya.

Alif laam miin. Kitab[11] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman[13] kepada yang ghaib[14], yang mendirikan shalat[15], dan menafkahkan sebahagian rezki[16] yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu[17], serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. QS Al Baqoroh : 1-5

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. QS At Tiin : 4-6

Ada pernyataan yang mungkin tidak asing di telinga kita,”islam yes, partai islam no”. Ada yang tidak saya pahami di sini. Apakah kita harus kembali belajar sejarah bahwa bangsa dan negara ini didirikan atas darah siapa? Tanah air ini dipertahankan pada masa revolusi atas darah siapa? Apakah belum cukup bagaimana teriakan bung Tomo? Apakah kalian mau merasakan bagaimana Soedirman menahan sakitnya saat perang gerilya padahal dia bisa saja cukup menjadi seorang kepala sekolah?

Kita perlu belajar dan kembali memahami. Atas ketakutan apa kemudian kita tidak menyepakati bahwa politik adalah bagian dari peran penting yang harus diambil umat islam. Bahwa di sinilah sendi kemaslahatan itu hidup dan diperjuangkan. Bahwa adanya kedzaliman di sini akan menjadi sumber kedzaliman yang lain. Ya, bukankah keputusan tentang BBM juga bagian dari politik? Bukankah penghianatan NAMRU-2 juga bagian dari politik? Bukankah bodohnya kedaulatan pangan juga bagian dari politik? Dan hari ini perlu lah kita mengingat kembali para tokoh pembesar negeri ini.

Anda mengenal Soekarno, siapa dia? Anda mengenal Kartosuwiryo? Anda mengenal Semaun? semua orang ini mempunyai satu guru yang sama, mempunyai satu mentor yang sama, HOS Cokroaminoto. Inilah salah seorang muslim negarawan. Seorang yang menyebarkan semangat kebangsaan bahwa umat islam haruslah berdaulat.

Kita mengenal sejarah Indonesia adalah kumpulan kerajaan Islam yang terpecah karena pengaruh belanda. Masih ingatkah kita dengan kisah pecahnya kerajaan mataram menjadi keraton solo dan jogja. Namun kemudian suara itu menyatukan kita. Jika bukan karena Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari, maka hari ini kita belum akan memiliki kesatuan yang utuh. Komando yang terpusat untuk bergerak bersama.

Ingatlah kalian, negara manakah yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia, ya mesir. Siapakah pria yang menjadi penghubung pentingnya? Dialah Adam Malik, mentri luar negeri kita yang mengunjungi Hasan Al-Banna untuk kemudian menekan Raja Mesir untuk membantu rakyat Indonesia secara politik.
Atau kita perlu membaca teks Piagam Jakarta, sepertinya perlu agar kemudian memahami bagaimana ia memiliki kesamaan semangat dengan piagam Madinah di awal masa hijrah nabi bahkan isinya juga. Hai, perlukah saya bacakan kembali kisah perjuangan rakyat aceh dan jogja dalam membesarkan bayi Indonesia sehingga keduanya pantas memiliki status keistimewaan.

Saya rasa kita adalah orang yang cerdas dan mampu memahami. Tidak berkelit dan tidak menutup telinga kita pada hal yang telah nyata dalam keseharian kita. Manakah yang lebih kalian percaya atas berita tentang umat ini, yang datang dari penyerunya atau yang datang dari musuhnya? Ya, hari ini pesan-pesan itu sangat kuat, fitnah-fitnah itu sangat besar. Menampar keraguan kita akan agama kita sendiri, akan saudara kita sendiri, akan perjuangan mereka menegakkan bagian diinnya.

Ini bukan pertama kalinya, sungguh dalam awal islam pun perpecahan dalam umat ini sudah pernah terjadi. Ingatlah ketika sebuah pasukan berbeda pemahaman tentang perintah sholat ashar dalam perjalanan ke medan perang. Namun nabi mendiamkan dan membenarkan keduanya. Ingatlah ketika di medan perang, pasukan muslimin dari berbagai suku membaca qur’annya masing-masing saat bertilawah bersama. Saat itu hampir terjadi pecah perang karena dianggap yang lain adalah berdosa menggubah kitab suci. Namun kemudian khalifah utsman menyatukannya dengan dialek quraisy. Ingatlah perpecahan panjang pada masa khalifah ali, dan kemudian hasan menyerahkan kursi khalifahnya pada muawiyah untuk menyatukan kembali kepemimpinan umat.

Namun ingatlah kalian, ketika datangnya perang salib. Bagaimana antar pemimpin islam kala itu justru membantu kulit putih dengan menunjukkan kelemahan saudaranya. Mereka saling berebut kekuasaan dan merasa paling benar. Dimanakah ukhuwah? Dimanakah kepentingan umat? Dan hari ini kita mengulanginya. Dan hari ini kembali kita akankah mengulanginya. Ya, hanya karena beda golongan kemudian saling menyerang. Padahal umat islam keseluruhannya merupakan bahan bangunan. Bata, pasir, kapur, semen bahkan air yang lembut. Semua memiliki fungsi masing-masing untuk membangun sebuah gedung yang tinggi lagi kokoh. Semua dapat mengambil tempatnya masing-masing untuk mencapai satu kesatuan yang saling menguatkan.

Coba kalian perhatikan. Ketika muslim palestina menangis, apakah karena beda negara kemudian kita tidak peduli? Masih ingatkah kalian bahwa Soeharto pernah membantu muslim Bosnia ketika seluruh dunia diam terhadap genosaid? Kemanakah suara umat muslim merah putih hanya sekadar menyebrang ke rohingnya? Mungkin akan jarang terlihat di televisi bagaimana keadaan saudara kita di Mali. Atau kita akan punya pendapat yang berbeda tentang saudara kita di Suriah. Ya tentu, tidak perlu jauh-jauh. Lah di negeri kita saja setiap ada suatu golongan muslim dicampakkan yang lain malah kegirangan bahkan bersyukur, saya tidak habis pikir, dimana letak loyalitasnya pada islam. Ketika yang satu disinggung kolot yang lain disinggung fundamentalis. Dan setiap yang berbeda akan saling menghina.

Kawan, inilah pentingnya kita bersatu untuk kemudian menatap bersama mana musuh kita. Untuk kemudian menggetarkan kaki kuda-kuda kita sampai ke ulu hati melewati baju besi mereka yang di hadapan kita. Saling membantu dan mengisi, berbagi dalam kelebihan dan kekurangan. Ya, kita kembalikan kewibawaan umat ini.

Islam itu tinggi dan tidak diungguli. (HR. Ad-Daraquthni, berderajat hasan menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari).

Ingatlah saudaraku. Sesungguhnya umar bin khattab pernah memberi contoh bagi kita bagaimana seorang muslim negarawan juga melindungi seorang yahudi. Kisah tulang untuk amru bin ash di mesir mungkin cukup mengingatkan kita bahwa seorang muslim beramanah untuk seluruh alam. Darah para syuhada telah dibuka pintu lebar untuk toleransi agama lain bahkan di tanah yang kita injak ini. Tapi lihat ketika islam adalah minoritas, lihat!

Masih tentang umar. Seorang uskup pernah salah mengira bahwa yang disambutnya di atas keledai justru sang pelayan khalifah, itu terjadi ketika akan menyerahkan kunci kota palestina. Dan seorang kurir juga pernah salah mengira ketika ada seorang yang tanpa alas kaki menuntun kudanya memasuki madinah, sampai kemudian ada yang menyapa,”ya amirul mukminin”.

Dan tentang umar lagi. Dia memecat salah seorang hakim yang dalam persidangan justru memudahkan urusannya untuk tidak berbuat adil. Dan mungkin takkan bosan tentang umar. Pernahkah kalian temukan ada seorang yang memarahi perutnya dengan berkata,”hai perut, biarlah kamu lapar tapi aku dulukan rakyatku” bahkan sampai dia sendiri meminggul gandum untuk seorang janda yang memakinya,”sungguh umar tak pantas menjadi khalifah”.

Dan kemudian lengkaplah kisah umar dengan tanggapan sahabatnya,”sungguh umar membuat susah pemimpin setelahnya” ya, hari ini, siapakah seorang pemimpin yang dapat menyamainya. Dimanakah sosok muslim negarawan itu akan lahir kembali. Mungkin kita tak perlu jauh, ada yang pernah membaca tak berapa lama sebuah artikel beredar bahwa seorang muhammad hatta ternyata masih memimpikan sepasang sepatu sampai kematiannya.

Kawan. Inilah karakter muslim negarawan itu. Mereka yang mementingkan umatnya di atas kepentingannya. Mereka yang berpikir tentang kemaslahatan umat dan mengusung persatuan. Namun hari ini, siapa? Siapa? Adakah seorang Natsir? Adakah seorang Sultan HB IX? Adakah seorang HOS Cokroaminoto?

Hari ini, memang belum. Karena hari ini kita masih perlu menangis. Entah keadaan menyudutkan para tokoh muslim kita. Atau mereka sendirilah yang belum ingin berjuang dengan menggunakan jaket mereka hanya sebagai jalan. Tapi apapun itu, bagi saya adalah penting kita mendukung apapun bentuk perjuangan umat islam. Agar muncul persatuannya. Agar muncul kemaslahatannya. Karena telah jelas di semua tempat ketika ideologi islam yang memimpin maka kemaslahatan lah yang muncul, tidak ada yang terdzolimi meski minoritas karena kita memahami konsep kafir dzimmi. Orang-orang yang tetap harus dilindungi.

"Barangsiapa mengganggu seorang kafir dzimmi, maka sungguh ia mengganggu saya, dan barangsiapa mengganggu saya, maka sungguh ia mengganggu Allah." (Riwayat Thabarani) 

"Barangsiapa mengganggu seorang kafir dzimmi, maka saya adalah musuhnya, dan barangsiapa memusuhi saya, maka akan saya musuhinya nanti di hari kiamat." (Riwayat al-Khatib)

"Barangsiapa berlaku zalim kepada seorang kafir 'ahdi, atau mengurangi haknya, atau memberi beban melebihi kemampuannya, atau mengambil sesuatu daripadanya dengan niat yang tidak baik, maka saya adalah pembelanya nanti di hari kiamat." (Riwayat Abu Daud)

Dengan tulisan ini saya ingin mengajak semua umat islam agar merendahkan hati kita, mendinginkan kepala kita. Bahwa urusan politik pun adalah tanggung jawab kita semua. Karena semua hal ( pendidikan, kesehatan, hukum, sosial) ada di tangan politik, namun bila kita memberi ruang untuk orang-orang bengis mengambil kursi yang sah, maka tunggulah kehancurannya. Dan inilah poin-poin itu:
  1. Melepaskan masalah poltik untuk tidak ikut mengambil peran adalah sebuah kedzaliman. Jika kita tidak memilliki orang-orang yang baik pada posisi penting, apakah kita akan membiarkan terjual aset warisan negeri?
  2. Bila belum mampu untuk memberikan dukungan maka setidaknya janganlah untuk ikut menyalahkan partai islam, apapun. Ingatlah perpecahan pada masa-masa perang salib sehingga hari ini kita tercecer dan terhina.
  3. Wajib bagi orang-orang islam yang memiliki jabatan publik agar amanah padanya. Tidak menggunakan jabatan itu untuk kepentingan partainya dengan membenarkan hal yang jelas salah. Profesional lah seperti umar, maka itu akan menguatkan kewibawaan islam.
  4. Dan jika suatu hari nanti kita mampu, berhimpunlah dalam satu. Sebagaimana kita telah merasakannya dalam perjuangan masyumi. Sebagaimana sultan HB IX pun merasakan pentingnya persatuan. Sebagaimana dua kerajaan besar dahulu (romawi dan persia) dapat terpenuhi janji nabi menguasai kedua ibu kotanya (konstaninopel dan istana putih).
Sungguh hari ini adalah desakan yang sangat besar untuk memancing emosi umat Islam. Akankah kita bersatu? Atau justru semua dari kita memanfaatkan situasi untuk keinginan kita. Namun semoga masih jelas loyalitas kita pada islam. Ingat bahwa wala’ dan bara’ adalah bagian dari aqidah islam, jadi dengan ketidakberpihakan kita pada kepentingan islam, atau malah kegirangan dengan jatuhnya dakwah adalah jelas dipertanyakan keislamannya.

Bagi semua analis yang cerdas dan rendah hati tentu akan secara jelas dapat memahami yang benar dan salah telah jelas. Demikianlah tulisan ini untuk memberikan gambaran bahwa sungguh sesuatu yang memalukan apabila kemampuan yang kita miliki tidak tersalurkan untuk membangun negeri ini atas label muslim negarawan sejati. Saya katakan muslim negarawan sejati seperti khalifah umar, seperti bung tomo. Mereka yang mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingannya. Bukan sekadar klaim atas frasa tadi. Kita akan sama-sama menanti seseorang yang berideologi islam kuat dan kemudian mampu mewadahi segala golongan untuk menggunakan potensi itu demi kemaslahatan.

Semoga lahir di antara kita, sosok yang ditunggu sang muslim negarawan. Yang membela tanah airnya dengan tulus dan kemudian meninggikan kewibawaan islam sebagai tali yang kita pegang. Dan kita pun menunggu persatuan umat islam atas isu yang sekarang beredar karena saya sangat yakin sebentar lagi akan ada yang bermain smash dengan mencitrakan sebagai golongan yang terdzolimi.  

 

 

ah, merinding berkali kali
nampaknya..kalau pak chanan membaca tulisan ini pun akan tersedu
muridnya yg dibanggakan..tlah mampu menggetarkan semangat muslim
tentu saya tak pernah lupa saat dengan lantang bapak menyampaikan "negeri ini adalah milik para ulama anak-anakku, negeri ini milik kalian!" dan saya pun masih merinding mengingat moment itu..
semoga bapak selalu sehat ya..salam rindu dari kami..ya, kami pak,anak2 bapak :') 

Minggu, 03 Maret 2013

DICARI: LELAKI LUQMANUL HAKIM

”Duhai Ananda, usah kau sekutukan Allah.
Sungguh menyekutukan Allah itu aniaya yang besar”


Terbayang kalimat itu mengalir dari bibir lembut seorang ibu, mengajarkan tauhid pada Sang Buah Hati sambil mengusap rambutnya dengan penuh cinta. Terbayang raut wajah teduh keibuan, berbekal sayang bercampur cemas menasihati anaknya yang manja dipangkuan, agar terhindar dari murka Allah.
Tapi tidak. Itu ternyata bukan petuah bunda. Itu ternyata adalah nasihat seorang ayah yang sedang menjalani tanggung jawab kelelakiannya sebagai Muslim untuk mendidik anaknya. Petuah itu mengalun dari hati seorang lelaki sejati bernama Luqmanul Hakim, yang sadar penuh akan titah syari’ah bahwa kelelakiannya bukan hanya untuk membuahi dan mencari nafkah, tapi juga sebagai pendidik.

Lalu, kemana Luqman – Luqman itu kini ? Kemana kaum lelaki dan sang Ayah ketika narkoba mengepung anak-anaknya, ketika putranya tertangkap dalam huru-hara tawuran, atau ketika putrinya positif hamil di luar nikah ? Yang tampak hanyalah para ibu yang tergopoh tunggang-langgang mengemasi beribu masalah dengan kedua tangan halusnya, sementara suaminya duduk manis di beranda menikmati layanan sehabis pulang kerja. Ketika itu para ibu memang memilih untuk tergopoh, tinimbang memikul rasa pilu dihardik suami dituduh tak becus mendidik anak.

Tergopoh mungkin menjadi takdir seorang istri masa kini, ketika Luqman – Luqman hilang entah ke mana. Yang tersisa tinggallah para suami yang telah mendegradasi perannya sebatas pencari nafkah keluarga belaka, sedangkan peran lainnya telah didelegasikan kepada sang istri. Seakan hak seorang lelaki tersaji dari langit begitu besarnya, bahkan hak untuk mendelagasikan tanggung jawab domestik apapun. Karena tampaknya kiprah di dunia publik terasa lebih seksi dan bergengsi.

Ruang publik memang seksi. Terasa lebih lapang dan warna-warni bagi para lelaki yang memang tercipta dengan kaki panjang-panjang. Dan menjadi pencari nafkah lebih menjanjikan martabat, karena segepok uang di saku bisa membeli kepatuhan dan memaksakan ketergantungan orang-orang di rumah. Daya pikat dunia luar rumah itu menggoda, bahkan bagi kaum ibu. Karena bisa menjadi alasan jitu untuk keluar dari kepengapan domestik yang seringkali berakhir tragis, sambil sesekali berjalan di mal-mal membeli harga diri dari uang yang dicari sendiri.

Maka, tersisalah rumah-rumah sunyi dihuni para istri yang ibu rumah tangga, berteman keluh kesah yang terpaksa didengarnya sendiri. Ia mengeluh tentang anak yang keras kepala, atau pornografi yang bersembunyi di kamar tidur, atau tetangga yang gemar bergunjing, atau tentang uang belanja yang makin susut oleh inflasi. Lalu, sang suami membalasnya tak berdaya, ”Gajiku hanya segitu”. Ia memang hanya bisa mengeluh, karena ia tak lagi punya suami yang piawai berdiskusi tentang anak yang masih mengompol atau tentang kenapa harga bawang melambung.

Entah siapa yang mulanya bersalah sehingga lelaki tak lagi menjadi Luqmanul Hakim yang cakap memimpin, mencari nafkah, menjadi suami dan menjadi ayah. Mungkin saja itu bermula ketika lelaki memutuskan untuk mendegradasikan peran tradisionalnya. Atau barangkali ketika majelis ta’lim tak menawarkan kajian kerumahtanggaan kepada kaum ayah. Sementara buku dan seminar tentang keluarga tak menganggap laki-laki adalah pasarnya.

Siapakah yang bersalah ketika seorang suami tak lagi peka membaca kerling kehendak sang istri yang disiratkan dalam kata bersayap khas perempuan ? Majelis Ta’lim angkat bahu, karena ajakannya untuk mengaji kepada para lelaki selalu ditampik atas dalih waktu yang tersita di perburuan nafkah. Lalu siapakah yang bertanggung jawab kala ayah tak lagi bisa menemani keluh anaknya yang ditikam rasa jatuh cinta dengan teman sekelas ? Pengelola seminar dan penerbit bukupun geleng kepala, karena yang selama mereka tahu itu memang urusannya para ibu.

Hanya zaman yang tahu seberapa digdayakah seorang perempuan untuk mengemasi seluruh masalah rumahtangga dengan satu tangan, karena tangan yang satu lagi disibukkan oleh pengabdiannya bagi suami tercinta. Beban berat itu hanya dapat mereka adukan kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karena mereka tak dapat mengadu kepada suami yang telah berubah menjadi tuhan-tuhan kecil, tapi tanpa kasih sayang. Pernah mereka mengadukan hasrat untuk bersekolah lagi, tapi tuhan-tuhan kecil itu melarangnya tanpa sedikitpun empati, beralasan bahwa ibadah perempuan ada di dapur. Pernah mereka merayu untuk turut membantu mencari nafkah, namun lagi lagi tuhan-tuhan kecil itu menampiknya, mengutip firman Tuhan Yang Maha Besar bahwa perempuan harus tinggal di rumah.
Tuhan-tuhan kecil itu merasa telah mendapat mandat dari Tuhan Yang Maha Besar, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, untuk menjadi wakilNya di rumah tangga. Ya, mandat ketuhanan, namun tanpa sifat kasih dan sayang yang justru menjadi akhlaq utama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu, jadilah mereka diktator kecil yang memegang firman Tuhan di tangan kanannya, dan tangan kirinya menuding-nuding seisi rumah. Tuhan-tuhan kecil tanpa kasih-sayang ini kemudian membungkam suara-suara kebumian yang merengek dari dalam kamar, menyumpalnya dengan suara-suara langit. Tuhan-tuhan kecil ini minta ditaati secara absolut, berbekal kemampuannya memelintir dan memanipulasi firman Allah yang memang absolut itu.

Tinggallah para orang rumah yang tertindih dan tak dapat mengadu kepada siapapun kecuali Allah. Tragis, karena mereka justru ditindih oleh orang yang Allah ciptakan sebagai teman mengadu. Dan adalah masuk akal jika tragedi yang lahir dari paradoks pada akhirnya akan berbuah keputusasaan. Dan keputusasaan yang tragis akan melahirkan tragedi-tragedi berkelanjutan. Keputusasaan yang hampa itulah yang akhirnya menakdirkan istri-istri yang bunuh diri, ibu-ibu yang membakar anaknya, atau perempuan-perempuan yang berjualan narkoba.

Tapi itu tak sepenuhnya kesalahan para lelaki. Kita, lingkungan dan budaya patriarkhi kita yang feodal tak dapat cuci tangan sepenuhnya, karena kitalah yang telah mendegradasikan peran lelaki hanya sebatas pencari nafkah. Lingkunganlah yang menciptakan para suami yang rasional namun sekaligus miskin emosional dan kepekaan batin. Budayalah yang melahirkan ayah-ayah yang besar kepala, namun kecil hati. Allah, rasul-Nya dan agama sama sekali tak dapat dipersalahkan dan turut bertanggung jawab. Karena titah agama teramat jelas, bahwa lelaki adalah pemimpin, suami, ayah dan teman dalam rumah tangganya. Sedangkan mencari nafkah hanyalah alat bantu untuk menjalankan segala peran dan tanggung jawab itu.
Dunia domestik memang tak mudah. Dan itulah yang membuat para suami, istri dan anak-anak berlomba dan berpacu untuk meninggalkannya, masuk ke dunia publik yang lebih menggairahkan dan penuh penghargaan. Dunia domestik adalah dunia tanpa pujian, publikasi dan penghargaan, sehingga hanya manusia-manusia tulus yang mengidamkan ridha-Nyalah yang akan sanggup bertahan di dalamnya. Dunia domestik itu rutin, monoton dan tanpa imbalan, yang modal dasarnya adalah keikhlasan. Sementara, dunia telah menyebabkan para lelaki menjadi terlalu maskulin, profesional, pragmatis dan publikatif.

Padahal, nun di Madinah sana lima belas abad silam, ketika Allah menurunkan ayat-ayat khusus untuk perempuan, ketika turun ayat ayat tentang rumah tangga dan pendidikan anak, Rasulullah SAW justru mengumpulkan para lelaki di masjidnya. Beliau sampaikan isinya dan beliau jelaskan maksudnya.. Lalu pada akhirnya beiau bersabda, ” Pulanglah kalian, dan sampaikanlah kepada istri-istri dan anak-anak perempuan kalian”. Beliau, Shalallahu ’alaihi wassalam, adalah suami yang menumbuk tepung, mencuci pakaian dan tahu cara menyenangkan istri-istrinya.

Adalah kita yang harus memulai perubahan dan melahirkan kembali Luqmanul Hakim – Luqmanul Hakim yang baru. Khutbah-khutbah Jum’at perlu membahas tentang menjadi suami. Kantor-kantor tempat lelaki mencari nafkah perlu mengadakan kajian kerumahtanggaan. Masjid-masjid pasar tempat sang ayah berdagang perlu berceramah tentang pendidikan anak. Seminar-seminar komersial dan para penerbit buku perlu peduli dengan tema lelaki dan rumah tangga.

Kita yang akan mengubahnya.

seutuhnya copas: Adriano Rusfi, Psikolog, Konsultan SDM & Pendidikan 

Kamis, 27 Desember 2012

al akhfiyaa'

ini baru yg namanya #jleb
Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah pertemukan dg mereka meski hanya lewat tulisan.. mereka yg mengingatkan, mereka yg nggaplok kita biar sadar.. ah, terimakasih :)
kali ini, namanya mbak yurisa..ehm..belum tau gimana2nya, baru tahu si mbak angkatan 2007, hehe..penulusuran akan terus berlanjut.
selamat membaca ^^

kalau sedang di jalan... melihat bapak-bapak tua yang dagang mainan anak-anak, atau tukang sol sepatu, ibu-ibu yang berjuang dijalan menjajakan makanan, atau tukang bangunan..  tersirat di hati:
kita ga tau, mungkin mereka-mereka inilah yang masuk surga duluan. mereka yang mungkin adalah Al-Akhfiyaa', tidak dikenal di dunia, di dunia nyata apalagi dunia maya, yang keberadaannya ada atau tiada sama saja. tapi mereka terkenal di masyarakat langit dengan amal-amal shalih mereka yang tersembunyi. 
sedangkan sekarang, di zaman ngga karuan gini, popularitas, narsis, dan 'eksis' adalah budaya. banyak orang yang senang ketika terkenal, ketika kebaikan diketahui oleh seantero dunia (padahal kebaikannya itu itu aja), bahkan yang lebih sedih maksiat pun sudah tidak malu lagi dipublikasi... jadi barang dagangan.. ah zaman topeng.. fasilitasnya begitu mudah. kalau orang dulu kalau mau pamer amal harus lewat lisan dan perbuatan, harus lewat jabatan-harus kaya raya-harus jadi artis-harus masuk TV, tapi di zaman sekarang SEMUA ORANG cukup mengetik saja di soc-med, seketika seorang yang bertahajud sendirian di kamar diketahui seluruh kawan-kawannya sekampung senegara. seorang yang membaca Quran sendirian tiba-tiba sudah terkenal amalnya dalam sekian detik, padahal baca Quran-nya 5 menit, twitteran 1-2jam.. memang adakalanya perlu syi'ar untuk mencontohkan, tapi jika harus setiap hari ditulis? hei apa kabar hati? ittaqullah...ittaqullah...ittaqullah... padahal ulama terdahulu menggunakan sejuta cara untuk menyembunyikan amal shalihnya, misal berpura-pura flu untuk menyembunyikan tangisnya saat shalat, keluar di malam hari bergelap-gelap agar tiada satupun lihat ia berinfaq, berpura-pura baru bangun tidur padahal semalaman ia berdiri shalat.... gurat mukanya akan berubah sedih jika rahasia amal shalihnya ketahuan... 
ini untuk refleksi diri, dan juga refleksi keluarga kita di rumah.. jujurlah...
bukan untuk merefleksi orang lain..
di akhirat kita akan sibuk dengan amal kita sendiri, dan bukan amal orang lain...
sudahkah selamat dari budaya riya' dan ujub ini?
rasa-rasanya..... hanya pertolongan dan cinta Allah lah yang membuat kita bisa tegar berdiri dengan genggam iman..
Ya Robbi..
belajarkan kami... 
masukkan kami dalam golongan Al-Akhfiyaa'
golongan yang gemar beramal shalih dengan sembunyi-sembunyi...
yang amal-amalnya menjadi rahasia,
antara kami dan Engkau saja.... 

  

kita tidak ditakdirkan bernasib dijajah zionis melalui roket dan bom... tapi lewat televisi, lewat pemikiran sekuler, lewat hingar bingar hiburan yang menjauhkan diri dari Allah..

di palestina, ujian iman tingkat tinggi, bagaimana mereka diberi kesempatan berkorban nyawa untuk-Nya... dan dikaruniakan kesempatan menjadi mujahid yang terjanji surga..

di Indonesia, ujian iman kita....yang pemudanya lebih banyak galau tentang masa depan...aktivis dakwahnya dilema antara "syuro dan jatuh cinta".. 

kita memang belum pantas.......

Kamis, 29 November 2012

"maslahat" yang terlahir

aku adalah lumpur hitam
yang Allah sempurnakan dengan bentuk
aku adalah liat yang teronggok bau membusuk
yang Allah karuniakan dengan akal dan ruh
aku adalah air yang hina
yang Allah sampaikan pada takdir bertemu dengan jalan-Nya yang mulia
yang Allah sampaikan pada takdir bertemu dengan misi-misi yang telah ditolak gunung-gunung dan makhluk semesta yang lain
yang Allah sampaikan pada takdir ‘untuk bertemu dan menemukan’ ihsan, ikhlas

aku adalah mad’u yang pernah tersesat
aku adalah jundi yang kian ringkih
aku adalah da’i yang...masih mencari jati diri

aku adalah batu bata
yang bertemu dengan semen, pasir, air
aku adalah batu bata
yang selalu siap dipotong, digores, dan diletakkan dimanapun celah dinding yang membutuhkanku

aku adalah tangga-tangga yang reot
berderit decit tiap tapaknya
aku adalah tangga-tangga yang berlubang
tambal sebelah. retak sebelah
aku adalah tangga-tangga yang menyusun tapak-tapaknya menjulang
menuju langit
aku adalah tangga-tangga dengan bentukku

aku adalah si buah palmae
kelapa yang bersantan
aku adalah buah kelapa dipohon yang tinggi
terterpa angin kencang
sampai akhirnya gaya gravitasi menjatuhkanku ke bumi
berbentur dengan tanah yang kadang sekeras batu
aku adalah kelapa yang dicabik-cabik kulitnya
kemudian diparut dan diperas dagingnya
sampai “maslahat” itu terlahir
santan yang berkualitas dan penuh nutrisi

ya, aku adalah batu bata,
aku adalah tangga-tangga yang reot,
aku adalah buah kelapa yg siap jatuh dan menjadi maslahat
aku adalah mereka yang bermula dari lumpur hitam, liat teronggok yang membusuk, juga air yang hina

dan bersamaan dengan penciptaanku, Allah menitipkan tugas-tugas mulia itu, dengan misi-misi yang telah ditolak gunung-gunung

ya, aku adalah da’i
sebelum menjadi apapun

*merindukanmu langit biru yang mengajarkan kelapangan, melihatmu riang rasanya, padahal kau harus tetap ditempatmu sampai waktumu habis
meridukanmu bebatu yang mengajarkan tangguh dan berkeras kepala untuk terus menjadi abdi yang terbaik, hamba yang terbaik
(15 Muharam 1434H // 29 Nov 2012 ::hamasah)