Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 November 2014

repost

Percaya, ini nyata..
dari uni rissa aka mbak cangkir :)

Suatu hari nanti, kalian semua akan jatuh cinta tanpa dibuat-buat.

Tanpa perasaan posesif kekanak-kanakan atau rasa ingin pamer kasih sayang yang berlebihan.

Akan kalian temui seseorang yang membuat kalian jatuh hati tanpa alasan.

Yang membuat kalian tidak takut pada jutaan omong kosong soal sakitnya patah hati.

Yang membuat kalian sudi menjadi diri kalian sendiri.

Tidak dengan ucapan manis atau perilaku yang berpura-pura.

Kalian akan jatuh cinta dengan seadanya, tapi juga dengan segalanya.

Kalian akan jatuh cinta dan berani mempertanggungjawabkannya.

Bukan dengan pujian palsu atau rasa kagum sesaat.

Tapi dengan tatap mata dan rasa saling percaya.

Suatu waktu nanti akan datang seseorang yang datang dan membuat kalian jatuh cinta tanpa alasan,

Yang akan kalian jadikan prioritas,

Bukan sekedar kalian banggakan di media sosial tapi kalian bohongi di kehidupan nyata.

Suatu hari nanti, kalian akan bertemu seseorang yang akan mendengarkan cerita kalian di sisa hidupnya.

Yang akan membuat kalian paham benar apa itu arti kata sayang.

Yang membuat kalian tidak sabar untuk menghabiskan hari tua bersama, berdua, tanpa ragu, tanpa sempat terpikir untuk berpindah ke lain hati.

Kamis, 24 April 2014

Bertahan

Bertahan

by Azhar Nurun Ala

Terberkatilah mereka manusia-manusia yang merdeka—siapa saja yang telah berani melangkah dari masa lalu, bahwa memang tak seharusnya kita terus menangisi apa-apa yang telah terjadi. Terberkatilah kita yang telah jauh berjalan hingga ke titik ini—titik di mana kita hanya bicara tentang hari ini dan hari esok, sementara hari-hari yang lalu hanya sesekali kita tengok untuk kita tertawakan, untuk kemudian melaju lagi jauh ke depan dengan ritme yang lebih cepat.
Kita pernah terseok, terjatuh, juga terluka hingga tak henti-hentinya berair mata. Kita pernah ceroboh melakukan hal yang bodoh, keliru, juga melakukan begitu banyak dosa sampai-sampai merasa tak layak lagi hidup di dunia. Tapi hidup adalah perjalanan, bukan? Dan di dalam perjalanan itu memang jalan tak selamanya mulus: ada jalan menurun dan menanjak di sana, ada kelokan-kelokan biasa hingga tajam, ada cabang-cabang jalan buntu yang menipu, ada godaan-godaan untuk melupakan arah tujuan yang membuat kita hanya menikmati saja semua yang tersedia, ada cacian-cacian yang memuakkan, ada juga rasa lelah yang dengan terampil kita dramatisasi untuk kita klaim ‘aku telah berusaha sekuat mungkin’ lantas kita duduk menyerah—kita pasrah seolah-seolah ketakberdayaan yang kita rasakan adalah anugerah Tuhan yang tak tertolak. Setiap perjalanan punya dinamika masing-masing, dan kabar paling baik dari semua kenyataan ini adalah bahwa kita tidak pernah sendiri.
Meski aku tak selalu di sampingmu, bukankah Tuhan begitu dekat dan selalu ada?
Jadi bertahanlah.
Percayalah bahwa beban yang kini tengah kita tanggung ada dan hanya akan ada atas izin-Nya. Percayalah bahwa bekas-bekas luka yang pernah tercipta akan membuat kita selalu sadar bahwa kita memang manusia biasa, sekaligus menjadi pengingat dan pelecut semangat kita bahwa perjuangan—apapun bentuk dan tujuannya—selalu membutuhkan pengorbanan. Yakinlah bahwa segala bentuk ketertekanan yang kini tengah menderamu, adalah cara Tuhan untuk membuatmu lebih kuat—memaksamu meangoptimalkan semua potensi yang ada karena tiap kita punya benih untuk menjadi hebat. Tiap kita punya kesempatan untuk menjadi juara.


karena tiap kita punya benih untuk menjadi hebat. Tiap kita punya kesempatan untuk menjadi juara.

Sabtu, 05 April 2014

yg salah

Cerita itu tentang Ani Komariah Sriwijaya, seorang ibu rumah tangga asli Boyolali tapi tinggal di bandung, lulusan ITB, yang pada 2006 lalu menggegerkan masyarakat karena membunuh ketiga anaknya yang masih kecil dengan cara membekap mereka dengan bantal sampai meninggal. Mungkin masih banyak yang ingat kasusnya. Banyak yang mengira bahwa alasan pembunuhan itu adalah karena Bu Ani depresi memikirkan masalah ekonomi dan mengkhawatirkan masa depan anaknya yang suram. Bu Ani kemudian diputus bebas oleh pengadilan dan diperintahkan untuk menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa. Pak Faudzil Adhim kebetulan tergabung didalam tim psikologi yang memeriksa kondisi kejiwaan Bu Ani waktu itu, dan cerita latar belakang kenapa Bu Ani memutuskan untuk mengakhiri hidup anak2nya inilah yang mengundang kucuran airmata dan menegakkan bulu roma kami semua yang mendengarnya.

Bu Ani sendiri, boleh dibilang adalah potret sempurna dari keberadaan seorang anak. Dari kecil sampai lulus ITB, prestasi akademiknya selalu cemerlang. Pengalaman sosialnya juga bagus. Intinya, dari luar dia merupakan anak yang diidam-idamkan semua orangtua, titik. Ketika kemudian menikah dan menjadi seorang ibu, dia juga tidak beda dengan ibu-ibu lainnya yang sangat menyayangi anak-anaknya, segenap jiwa dan raga. Lantas kenapa dia sampai memutuskan mengakhiri hidup anak-anaknya sendiri?? Sebelum mengungkapkan alasan yang berhasil digali oleh tim psikologi yang memeriksanya, Pak Faudzil menggambarkan suasana siang itu, ketika Bu Ani melaksanakan niat yang sudah bulat diambilnya sejak beberapa waktu sebelumnya.

Siang itu si anak sulung Nadhif (6 tahun) baru pulang sekolah. Mungkin sekitar dhuhur, ketika sehabis sholat Bu Ani menyambut kedatangan si sulung dengan senyum dan pelukan sayang seperti biasa. Kemudian disiapkannya makan siang untuk Nadhif, ditemaninya si sulung makan siang bersama adiknya Faras (3 tahun, si anak tengah) . Si bungsu Umar (9 bulan) saat itu sedang tidur siang.

Sepanjang makan siang itu, Bu Ani lebih banyak mengelus rambut anak2 dan menciumi kepala mereka daripada hari-hari yang lain. Setelah selesai disuruhnya Nadhif dan Faras mandi. Sehabis mandi, mereka diberi pakaian yang nyaman dan dibedak seluruh tubuhnya sampai harum. Bu Ani kemudian menyuruh si sulung bermain di ruangan lain sementara dia mengantar si tengah tidur siang di kamar. (Aku tidak yakin yang mana diantara mereka yang lebih dulu diminta untuk tidur siang, tetapi kurang lebih begitu kejadiannya, satu anak diantar tidur siang dan yang lain bermain di luar kamar).

Bu Ani tak lupa mengajak si anak membaca doa sebelum tidur, bahkan dengan lembut menyanyikan beberapa lagu pengantar tidur yang diminta anaknya. Ketika kemudian dia yakin bahwa si anak sudah tertidur pulas, diambilnya bantal dan ditangkupkannya ke wajah anaknya tersebut….kuat-kuat….lama…
.cukup lama sampai nafas si anak berhenti…

Kemudian Bu Ani memanggil si anak lain yang sedang bermain di luar kamar. “Ayo, temani saudaramu tidur siang nak…” Dengan kelembutan dan kasih sayang yang sama diantarkannya si kecil ke hangatnya tidur siang dan mimpi yang indah… Dan Bu Ani sekali lagi mengambil bantal untuk ditangkupkan ke wajah si kecil… Si kecil pun kembali meregang nyawa tepat disamping saudara yang tanpa sepengetahuannya sudah lebih dulu meninggalkannya.

Dan terakhir, si bungsu Umar, yang masih bayi dan terlelap tidur pun, kemudian menyusul kedua kakaknya…meregang nyawa didalam pelukan Bu Ani…

***

Kisah diatas sangat mengerikan buat kita semua, tentu saja… Tetapi kalau ada yang lebih mengerikan adalah alasan Bu Ani melakukannya. Kalau melihat latar belakang pendidikannya, tentu hal seperti ini kurang masuk akal. Seharusnya Bu Ani sebagai seseorang yang berpendidikan tinggi, lebih bisa mengatasi tekanan mental maupun emosi didalam dirinya. Tetapi apa yang dialaminya (seperti yang diceritakan oleh Pak Fauzdil di PSC) ternyata memang sangat besar, jauh lebih besar daripada yang kami semua kira.
Setelah melewati penggalian yang lama dan dalam oleh tim psikologi, terungkap alasan sebenarnya dibalik keputusan Bu Ani…

Ani Komariah, dari luar memang potret anak yang sempurna. Tetapi sangat ironis dan dramatis, kecemerlangan dirinya dihadapan semua orang, ternyata tidak bisa dilihat oleh si Ani terpancar keluar dari mata ibu kandungnya sendiri. Ibunda dari Ani, diceritakan tidak pernah merasa puas dengan apapun yang dicapai oleh putrinya. Dan sang Ibu adalah tipe wanita yang SANGAT PENGOMEL!! Sekeras apapun Ani berusaha memberikan yang terbaik dalam hidupnya, tetap saja yang dia dapat ketika pulang adalah omelan tidak puas dari ibunya. Sebanyak apapun nilai A yang dia dapat, begitu berhadapan dengan ibunya langsung menjadi tidak berarti karena akan selalu dibandingkan dengan prestasi teman lain yang nilai A nya lebih banyak. Setinggi apapun prestasi yang dicapai Ani, yang dilihat sang Ibu adalah orang lain yang berprestasi lebih tinggi lagi. Omelan demi omelan tanda ketidakpuasan, sepertinya hanya itu yang Ani dapat selama dia tumbuh dewasa. Dan itu merupakan sebuah luka yang besar yang kemudian berurat akar dalam dirinya.

Ketika Ani menikah serta melahirkan ketiga anak-anaknya, omelan-omalen tak puas dari sang ibu bahkan sama sekali bukanlah yang terburuk yang bisa terjadi…

Selama mendidik putra-putrinya, pelan-pelan Ani belajar dan menyadari bahwa kebiasaan ibunya mendidik dia dulu, tanpa sadar seringkali dilakukannya pada anak-anaknya. Sekeras apapun niatnya untuk bertekad tidak mau meniru cara mendidik ibunya yang penuh omelan tak puas itu, tetapi sesering itu juga tanpa disadarinya, itu terjadi… Anaknya tumbuh dengan omelan yang (walaupun tidak sebanyak dirinya, tetapi) mirip dengan yang selalu diterimanya dulu dari sang ibu…

Ani kemudian belajar dan menemukan bahwa luka yang ditorehkan sang ibu didalam hidupnya, tak mungkin terhapuskan… Lebih buruk lagi, kemudian dia memutuskan bahwa luka itu menular, menurun dan melukai anak-anaknya juga… Luka yang kali ini dia timbulkan sendiri…. Dia torehkan tanpa sadar kedalam hidup anak-anak yang dicintainya… Luka yang menyebar dengan kuat, bahkan tekad bulatnya yang kuat untuk menjadi ibu yang baik pun, tak kuasa menghentikannya…

Sebagai seorang ibu, Ani merasa bahwa dia adalah ibu yang sudah terlanjur terlaknat. Terlaknat oleh luka dan kebiasaan buruk tak tersembuhkan yang sudah kadung ditorehkan ibunya dulu. Dan lebih buruk lagi, sekarang, tanpa dia sadari dan bisa hentikan, dia akan mencetak 3 calon orangtua yang terlaknat juga, yaitu anak-anaknya. Ani merasa nanti ketika anak2nya sudah menjadi orangtua, tanpa sadar mereka pasti akan mewarisi caranya memperlakukan anak-anak, sekeras apapun mereka mungkin akan mencoba menghentikannya.

Tak terbayangkan oleh Ani nasib cucu dan keturunannya, kalau luka ini akan terus menjalar turun kepada keturunannya. Kalau omelan-omelan jahanam itu akan terus menelan korban, melukai hidup banyak orang karena tidak bisa dihentikan penularannya. Melukai banyak orang yang kemudian hanya akan berakhir sama, menjadi penyebar dan pembawa kebiasaan terkutuk itu…

Konon, Bu Ani masih mengakui betapa cintanya dia pada sang bunda… Tetapi pada akhirnya, sebagai seorang ibu yang juga sangat mencintai Nadhif, Faras dan Umar, Bu Ani memutuskan bahwa dia tidak sanggup lagi mencintai anak-anaknya… Tidak dengan cara seperti itu…
 
 
 
cara mencintai yg salah.. terkadang, menjadi takut menjadi ibu, setidaknya dalam waktu dekat ini. terkadang teramat rindu, tapi.. ah,mungkin kisah ibu diatas adalah kisah seorang manusia yg tidak mengenal dirinya, juga tidak mengenal Tuhannya, dan juga tidak mengenal tarbiyah
Allah..save me please.. until the end, until the last breath...  

saya minta maaf untuk yg sering kecipratan cara saya mencintai yang salah, saya memang penuntut..dan tidak sabaran..
semoga Allah terus mampukan saya utk belajar dan memperbaiki diri..
:')
surga memang mahal..

Sabtu, 29 Maret 2014

DeepPray (cemburu yang memuncak)

http://internasional.kompas.com/read/2014/03/24/1627151/Pengadilan.Mesir.Vonis.Mati.529.Anggota.Ikhwanul.Muslimin 





Cahaya di seberang sana 
Meredup tertutupi gelap angkara 
Saat panji Islam terinjak anarki 
Dihadang barisan tirani 

Tak mungkin kami biarkan 
Orang-orang zholim kuasai bumi 
Sakiti mereka pun sakiti kami 
Terusik jiwa raga kami 

Seribu doa untukmu Mesir 
Allah selamatkan negeri anbiya 
Jaga ulama cahaya kami 
Selamatkan, Mesir merdeka 
~SERIBU DOA (UNTUKMU MESIR) ~ AZZAM

http://www.antaranews.com/berita/426423/mesir-didesak-batalkan-vonis-mati-pendukung-moursi

http://www.dw.de/mesir-vonis-mati-529-anggota-ikhwanul-muslimin/a-17516190 

seperti apa bau surga saudaraku?
seperti apa rasa gembiramu?
529...
kita pasti kan terus perjuangkan keadilan!
529..
alih-alih nyawa, waktu saja kadang enggan kuberikan bagi dakwah ini!
alih-alih nyawa, harta saja luar biasa berat berikan tuk kelancaran dakwah ini
ah, jauh sekali.. jauh sekali..
entah apa makna jihad bagi kami yang disini..
huks TT_TT

walaupun tetep ada segelintir yang luarbiasa
kitakah itu? itukah kita?
jawabannya masing2 ya yang tahu

gembirakan mereka ya Allah..
dan mampukan kami..
*gerimis*

#JusticeForIM529
#PrayForEgypt

Kamis, 09 Januari 2014

tahukah kau?

Tahukah kau . .
 
Garis terdepan jalan juang ini ditempati mereka yang tidak ada ruang pemakluman bagi dirinya sendiri dan orang lain dalam kebaikan. Aku melihat dengan mataku sendri. Mereka ditempa dengan api membara hingga mereka bisa berjalan meski berdarah darah, tetap tegak bediri dan terus melaju tanpa sakit meski dicerca diinijak injak oleh qiyadah jika mereka salah, bukan balik menyalahkan qiyadah karena beliau menempanya begitu keras. Mereka diajarkan untuk menutup semua ruang pemakluman yang mungkin akan datang. Karena mereka amat paham, kamu belum mengerahkan semua ikhtiarmu untuk memenangkan pertarungan ini. Kamu belum mengeluarkan semua ikhtiarmu untuk menyukseskan acara ini, kemudian kamu memintaku memaklumi sebuah hal kecil yang sebenarnya besar ?

diambil dari sini


 

Minggu, 05 Januari 2014

sepucuk surat (copas)


Sepucuk Surat Rindu Teruntuk Wanita dengan Alis dari Hitam Garis Cahaya

Teruntuk bidadari dengan …alis dari garis cahaya.. aku telah banyak membaca mengenai surga dan kenikmatan didalamnya yang kekal dan abadi.
Sungguh saat ini aku sedang membidik perasaanku ke arah kenikmatan surga.
Aku begitu tertegun kala mengetahui sifat-sifatmu yang Allah kabarkan dalam Al-qur’an maupun hadist-hadist beserta penjelasan shohih dari para ulama salaf.
Kukabarkan padamu dengan penuh harapan bahwa aku sungguh merindukanmu.
Tentulah percikan tulisan melalui penaku ini belum dan tak akan mampu menumpahkan segala kerinduan yang ada.
Aku berharap kelak kita akan bertemu pandang kala berjumpa di mata air salsabil.
Akan kuajak engkau menyusuri sungai bariqh (sungai para syuhada) yang dekat dengan pintu surga. Engkau pasti tau bahwa riak airnya begitu menggoda hati untuk meneguknya..
Ingin kuajak engkau bercanda sambil bermain di pelataran taman2 surga sembari mendengarkan merdunya nyanyian burung-burung yang bersimponi ala mereka. Mereka merumput dibawah Arsy Allah dan minum dari mata air tasnim yang sangat murni dan merupakan minuman terbaik bagi penduduk surga.
Sungguh pemandangan yang menakjubkan, bukan??
Bagaimana tidak, taman tempat kita bermain begitu mengagumkan pandangan dan menyejukkan jiwa. Tanahnya adalah kesturi dan za’faran yang begitu lembut bagai tepung terigu yang amat halus saat disentuh.
Namun saat ini kita ditakdirkan belum berjumpa. Aku tak akan sedih dan gundah. Aku kan selalu tersenyum dengan senyum yang memekarkan sungging penuh rindu. Aku hanya bisa mengobati rinduku dengan menuntut ilmu syar’i agar mampu merentas jalan menuju negerimu, yaitu jalan istiqomah yang telah didahului para salaf..
Semoga Allah menganugerahkanku syahid dalam keadaan menuntut ilmu.. tunggu aku dalam tenda mutiara jingga di dekat mata air salsabila.
Salam rindu dari pangeran yang kau tunggu,
Hamba Alloh yang fakir
Fachrian Almer Akira
(Yani Fachriansyah Muhammad As-samawiy)
********
catatan :
ini adalah file tulisanku 16 bulan yg lalu. aku berharap agar kita para ikhwan (termasuk aku sendiri) berusaha itiqomah karena fitnah syubhat wa syahwat selalu datang menghantam karang keimanan.. mudah2n sedikit terobati dengan adanya sepucuk suratku ini. Begitu pula dengan akhwat agar tegar menyusuri jalan istiqomah sehingga membuat bidadari begitu cemburu..
Subhanaka allahumma wabihamdika astaghfiruka wa atuubu ilaika.


karna menurut saya bagus dan saya males nyimpen di dokumen pribadii..maka..saya publish saya d blog ya..gpp kan? udah gpp. dan ga usah protes :p
makasih :D

Selasa, 12 November 2013

harga ketaatan

Zāhidun fid-dunyā, Rāghibun fil-ākhirah

Kedua hal ini adalah kunci dari karakter para sahabat/sahabiyah yang dididik langsung oleh Rasūlullāh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Zuhud di dunia, dan hasrat kuat pada akhirat..
Sungguh.. logika ini sangat sulit diterjemahkan oleh kita yang terbiasa RASIONAL dan EGOISTIK… Yang terbiasa mempertimbangkan segala sesuatu dengan sudut pandang :
"apa manfaatnya buat gw?" 
"kalo gw nikah sama dia, gw dapet apa?"
"kalo gw ngaji, ntar waktu gw buat istirahat kurang dong?"
"gw udah infaq, tapi kok rejeki gw seret-seret aja ya?"
"ngga mau kajian ah, ujan.. ntar basah lagi.. ngga nyaman"

Betapa menyedihkan kondisi iman yang seperti ini.. Ibadah hanya untuk self-service...

Memang… 
Iman kita memang harus sering diasah, agar lebih tergoda dengan janji Jannah, lebih gembira dengan janji doa malaikat, lebih tergiur dengan pahala dan ampunan...
Kalo direnung-renung, ketaatan kita masih gampang dibeli oleh dunia dan harta, oleh hawa nafsu…
Misal, mau puasa ngga jadi karena dapet tawaran traktiran.. Berarti harga ketaatan lo ya seharga sepiring nasi.
Mau berjilbab syar'i tapi enggan karena takut disangka udah nyokap-nyokap. Berarti harga ketaatan lo cuma seharga kritikan orang….

Sedangkan para shahabat/shahabiyah itu, mereka bahkan rela menebus NYAWA-nya, SELURUH HARTA-nya, bahkan orang-orang yang dicintainya dengan JANNAH… Dan ketaatan kita masih mudah terbeli dengan televisi atau internet… Merelakan waktu shalat dan munajat dan ditukar dengan bulaian kasur.. Ah betapa murah iman kita…. :(

Kalau ketaatan kita masih mudah ditukar dengan perkara-perkara sepele, 
maka…..pantaskah diri ini duduk bersanding dengan para sahabat/sahabiyah?

Sejenak mengukur harga ketaatan diri, dan meratapi kemurahannya… :'
 
 
diambil dari sini

Minggu, 10 November 2013

begitu ingin


Apa-apa yang tak berbicara, tak selalu berarti bisu. Sebagaimana apa-apa yang tak tampak, tak selalu bermakna tiada.

Aku begitu ingin, suatu waktu, mengerti benar bahasa langit. Atau bahasa dedaunan yang terhempas di musim gugur. Sebab betapapun lisanku berkata indah akan dunia, tetap saja aku terbata mengucap syukur dan bersujud dengan penuh kerendahan hati.

Aku pun ingin berguru pada hujan yang dilupakan, yang hadirnya terjejak pada pepohonan yang subur. Atau kepada awan yang berbincang dengan angin, yang beriring menuju satu savana, sabar meniti jarak.

Hingga lalu kusaksikan pada suatu masa, bunga-bunga nan merekah di musim semi, ataupun keteduhan nan hijau yang begitu lebat di musim panas. Disana, semacam tertera satu niscaya, bahwa pada ketaatan yang disempurnakan, ada kisah yang kan berbuah jadi indah.


Achmad Lutfi
9 November 2013

Lokasi: Bahnhof Calberlah

Senin, 29 April 2013

Satu Kaki, KerjaKeras, dan Sabar tanpa Tepi

      Airmata para dosen jatuh. Standing applause di ruang teater Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membahana. Diantara mereka sampai tidak ada yang sanggup berdiri. Tiada kebanggaan dimiliki seorang dosen dan keluarga menyaksikan ujian hidup sesosok mahasiswi dengan predikat Indeks Prestasi (IP) tertinggi meski selama bertahun-tahun dihantam keterbatasan. Sejarah telah tercatat. Melly dianugerahi Alumni Terbaik FIDKOM 2010 pada saat pelepasan Wisudawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kendati selama ini hidup dengan satu kaki. Sebelah kakinya harus diamputasi setelah penyakit kanker tulang menyerangnya di pertengahan kuliah. Ya meski begitu, Melly tidak mau menyerah pada kenyataan. Ia mendapat gelar cumlaude jauh di atas para mahasiswa lainnya, termasuk mahasiswa yang kedua kakinya masih lengkap.
     Melly akhirnya keluar setelah memberi pidato sambutannya di ruangan teater Profesor Aqib Suminto. Ia dipapah dengan kursi roda. Memang tidak ada lagi gerak enerjiknya, tapi semua mahasiswa UIN mengelu-elukan namanya. Lebih dari Ahmadinejad ketika mengunjungi UIN Jakarta 2008 silam. Sedangkan beberapa dosen masih terdiam, hanya lelehan air mata turun dari keikhlasan hati melepas Melly dari UIN. Melly tersenyum, tangannya terkepal. Di hatinya, ia puas berhasil membuktikan kepada semua orang bahwa jarak antara keterbatasan diri dan kecintaan terhadap ilmu lebih tipis dari kulit bawang!.
Perjalanan Awal Melly
      Nama aslinya adalah Nurmeilita. Tipikal mahasiswi berkerudung lebar yang tidak percaya bahwa hidup tidak bisa ditaklukan. Bahwa satu-satunya cara menaklukan ketakutan adalah dengan menghadapinya. Sayyid Quthb berkelamin feminim yang menyatakan lebih baik mati daripada menyerah pada keterbatasan. Namanya kini tertanam pada seluruh mahasiswa FIDKOM. Bahwa Allah, Kita, dan Arti Sebuah Perjuangan adalah keniscayaan.
     Alumni salah satu SMA Negeri favorit di Bekasi ini memang unik. Kalau banyak jebolan SMA memilih untuk kuliah di kampus umum, Melly lebih memilih kuliah di UIN. Itupun bukan di Fakultas Kedokteran, Sains, dan MIPA. Ia memilih jalur Ilmu Dakwah dengan jurusan Konseling Islam. Dengan akal yang masih polos, banyak orang bertanya padanya, “Mau cari mati dengan gaya apa seorang siswa lulusan SMA masuk ke Fakultas Keislaman di UIN yang ketat dalam studi keagamaan. Modal Rohis kuliah disini belum cukup. Hasan Al Banna bisa menjadi Sartre di UIN.” Maklum kala itu UIN Jakarta mendapat kekhawatiran tingkat tinggi setelah para mahasiswa jurusan Akidah Filsafat di UIN Sunan Gunung Djati Bandung melakukan penistaan terhadap Allah. Kala itu stigma kampus kami berubah dari Institut Agama Islam Negeri (sebelum menjadi UIN) diplesetkan menjadi “Ingkar Allah Ingkar Nabi”. Cibiran itu terasa betul. Lebih pedas dari cabai rawit sekalipun.
    Melly kali pertama masuk UIN Jakarta pada tahun 2004. Memulai karir sebagai mahasiswa semester satu seperti pada umumnya: polos, manut kata senior dan pasrah mengikuti Program Pengenalan Studi dan Almamater (Propesa atau Ospek sebagaimana kita mengenalnya). Saat tiba giliran bagi tiap mahasiswa baru memberikan pandangan tentang jurusan barunya di UIN, Melly tampil memberikan beberapa patah kata. Dari situ orang sudah berkesimpulan bahwa Melly bukan orang sembarangan. Gaya bicaranya bukan seperti anak SMA. Ia sudah berani membeberkan bahasa-bahasa ilmiah di tiap kalimat pembukanya. Tampaknya ia sadar, ia bukan lagi anak remaja.
Detik-detik Menghadapi Ujian
Setelah berjalan satu tahun kedepan, Melly berkembang menjadi mahasiswi UIN yang berbeda. Kecintaannya terhadap ilmu membawanya menjadi mahasiswi yang melebihi usianya. Melly seperti bukan mahasiswi UIN berumuran 19 tahun pada umumnya. Kecintaannya terhadap ilmu membuatnya sering terlihat nongkrong di perpustakaan ketimbang menghabiskan waktu di bioskop. Mengutak-atik isi buku daripada larut dalam pergaulan semu.

Nilai semester awalnya selalu diatas 3,5. Berkat kecerdasannya, sebagai presiden BEM (Sistem di UIN mengharuskan menyebut pemimpin BEM, dengan sebutan presiden bukan ketua) saya mengamanahkannya untuk mengisi pos Departemen Keilmuan. Sebuah departemen yang tentunya terhitung danger bagi tiap-tiap BEM di UIN. Departemen ini harus aktif mengadakan seminar, kuliah umum, pelatihan, hingga diskusi-diskusi mingguan yang temanya pun tidaklah ringan. Selain tema ke-Islaman, beberapa kali kajian ini juga membahas tentang Pendekatan Rasional Emotif, Behavioris, hingga Logoterapi. Kami ingin mahasiswa memiliki framework seimbang antara kuat dengan spirit keislaman tapi tidak awam jika suatau saat dihantam oleh gagasan Barat. Dan Melly menikmati itu. Ia memang sangat menyukai diskusi dengan nalar kritisnya yang tajam. Maklum Melly besar di Lembaga Dakwah Kampus, ia memiliki framework Islam yang cukup kuat untuk tidak begitu saja menerima pandangan di luar Islam.
Waktu berganti waktu, hingga kemudian Melly mulai mengidap penyakit misterius. Teman-temannya tidak lagi melihatnya di kampus. Aura tidak sedap mulai meliputi perasaan kami semua. Kabar angin tidak begitu jelas memberitahu dimana keberadaan Melly saat itu. Hingga kemudian kami mendapat informasi, Melly kini menderita kelumpuhan dalam arti sebenarnya. Ya mahasiswi penikmat panjat gunung itu terbaring tidak bisa kemana-mana. Kakinya terdiam tak dapat bergerak, sedangkan di dalam kerudungnya kerontokan mulai meliputi mahkotanya satu per satu. Mata kami tercengang mendengar berita menyakitkan itu.
Kawan-kawan kami pun kemudian bergegas mengunjunginya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat. Setelah membuka pintu kamar, rekan-rekan sekelas Melly menutup mulut kecilnya. Mereka jatuh haru berderai air mata melihat sosok gadis enerjik dan periang tersebut telah terkulai lemah. Sebagian civitas akademika mahasiswa Konseling Islam tidak mampu berkata apa-apa. Jiwa kami terbungkam. Melly yang kami kenal sebagai mahasiswi solehah sedang diberi ujian maha dahsyat oleh Allah. Sampai-sampai kami beranggapan inikah akhir dari perjalanan hidup Melly? Melihat beratnya ujian yang ia alami.
Ketegaran Seorang Pecinta Ilmu Yang Pantang Menyerah
Uniknya, keharuan dari para sahabat dengan cepat ia tepis. Melly dengan gaya tomboynya menyadarkan kawan-kawan untuk tidak bersusah payah menangisi dirinya. Melly adalah tipikal wanita tegar, ia benci air mata. Apalagi sengaja disuguhkan untuk dirinya. Bahkan berkali-kali Melly harus menyadarkan temannya bahwa ia tidak seburuk yang kami perkirakan. Walau Melly sadar betul kankernya bisa merenggut nyawanya sewaktu-waktu. “Tapi sumpah, Mel baik-baik aja kok.” ucapnya menyiratkan ia tidak ingin kita semua larut dalam kesedihan panjang.
Di tengah keterbatasan itu, ada cita-cita yang tidak ikut lumpuh seperti kakinya. Sekalipun kondisinya amat lemah, namun kecintaannya terhadap ilmu membuatnya tetap ingin melanjutkan kuliah. Meski pada akhirnya, ia harus siap menganggung beban: bolak-balik ke perpus, naik lift dengan kursi roda, mengejar mata kuliah meski harus bertarung dengan harapan!. Itu pun belum dihitung rasa sakitnya. Namun, bukan Melly namanya jika menyerah pada kenyataan. Ia telah berikrar untuk tidak menangis. Keinginan terkuatnya adalah memberikan kado manis kepada Allah dan keluarga tercinta tentang makna terindah seorang pecinta ilmu. Meski tak berapa lama lagi ia hanya memiliki satu kaki. Beberapa kali ia sempat mendiskusikan skripsinya dengan saya. Kala itu saya sendiri sudah dalam tingkat akhir menyelesaikan kuliah. saya memang memiliki pengalaman diskusi panjang dengan Melly. Menurut penulis, Melly adalah salah satu mahasiswi yang cukup berani hadir untuk diskusi dengan mahasiswa yang lebih senior. Ia cukup “tahan” diajak untuk menelanjangi psikoanalisis. Ya psikologi vulgar yang mengatakan tuhan itu hanya hasil ilusi manusia.
Tidak hanya disitu, sebelumnya Melly sadar. Ia harus diuji kembali oleh beberapa nilai kuliahnya yang belum ia ambil di semester tujuh. Termasuk mata kuliah lainnya yang mesti mengulang di semester awal. Hingga jika ditotal keseluruhan ada tujuh mata kuliah yang harus ia ambil. Bayangkan di tengah kondisi kaki tak bisa digerakkan, ia tetap rajin ke kampus menyelesaikan segala kekurangannya. Dan itu benar-benar dilakukannya lebih dari ikhlas, meski jarak Bekasi-Ciputat terlalu jauh bagi seorang perempuan yang diuji dengan keterbatasan. Namun sekali lagi, kesabaran dan kekuatan memupuskan segala ketakutannya. Melly yakin Allah akan memperlakukannya dengan baik, jika ia selalu berusaha dan berdoa, meski ia kini berkursi roda.
Seiring berjalannya waktu, ujian Allah betul-betul menyentuh titik terlemah tubuhnya. Melly harus menerima kenyataan pahit bahwa dokter pengasuhnya di RSCM memberi tahu sang keluarga bahwa kaki si buah hati harus segera diamputasi. Dengan penuh ketegaran, Melly memasrahkan dirinya kepada Allah. Aktifis dakwah kampus ini bersiap hidup dengan kaki pincang. Kanker bisa jadi adalah keladi yang menggagalkan kehidupannya. Tapi Melly paham betul bahwa kita harus selalu berbaik sangka kepada Allah. Melly boleh kecewa, tapi tidak untuk kecewa kepada Allah.
Setelah operasi selesai dilaksanakan, Melly sadar dari pembiusannya. Dengan kekuatan mentalnya, ia memberanikan diri mengangkat kepala untuk melihat kakinya. Melly tersenyum meratapi sebelah kakinya telah menghilang. Namun ia tetap tidak mau menyerah. Bagaimanapun hidup harus terus berlanjut. Tak berapa lama ia kemudian mengerjakan segala tugas kuliah di pembaringan RSCM. Ya tujuh mata kuliah yang belum sempat usai ia ambil, karena keburu menjalani operasi. Semuanya berjalan beriringan ditengah rintihannya menahan rasa sakit pasca operasi.
Setelah semua mata kuliahnya selesai, ujian kembali datang. Ia ingat masih ada satu lagi hutangnya kepada kampus, yakni membuat skripsi. Subhanallah lagi-lagi Melly tak putus asa. Ia sama sekali tak berniat melempar handuk lalu memilih berkutat dengan rasa sakitnya. Bayangkan Melly pun juga tidak memelas kepada pihak kampus agar ia dibebaskan dari skripsi. Inilah yang melatarbelakangi saya tidak menyesal memberinya posisi Departemen Keilmuan kepadanya saat saya menjadi ketua BEM. Bahkan di BEM, Melly juga ikut membantu bidang departemen yang lain. Dalam acara training motivasi, safari dakwah, mabit, pelatihan, ta’aruf mahasiswa baru, dan sebagainya. Melly selalu hadir disitu. Ibarat kata Melly selalu memberi semangat jika BEM kami “kurang darah”. Sampai disitu, kami sama sekali tidak terfikir tentang bakal ujian apa yang akan menimpanya. Tidak ada satupun tanda-tanda mengarah kesana.
Kado Terindah Dari Allah
Akhirnya dengan kerja kerasnya selama ini, Melly berhasil menyelesaikan skripsi dengan baik. Semuanya dilakukan di kasur pembaringan, lengkap dengan rasa sakit yang terus menggerogoti tubunya. Keletihan pasca operasi dan proses menjalani Kemoterapi tiap harinya.
Melly kemudian menjalani Sidang Munaqosyah. Di hadapan para penguji, ia menjelaskan tentang penelitiannya. Dosen tidak merasakan betapa di tengah presentasinya, Melly sebenarnya menahan rasakan sakitnya. Senyum Melly membuat orang lupa bahwa ia masih menjalani Kemoterapi secara intens di RSCM. Semua keluarga hanya bisa bangga dalam hati betapa Melly begitu trengginas menjawab pertanyaan penguji. Mereka bangga bukan karena Melly adalah mahasiswi pintar, mereka bukan bangga karena sang buah hati adalah bidadari cinta yang berhasil bertahan di tengah kondisi tak berperi, tapi mereka bangga telah dikaruniai seorang buah hati yang kuat imannya dan tak pernah sekalipun terlontar dari mulutnya tentang arti kekecewaannya kepada Allah.
Sampai pada waktu setelah selesai sidang, ia tidak sadar bahwa nilai skripsinya tergolong tinggi. Baginya, ia sudah cukup bersyukur dengan bisa menyelesaikan skripsi ini. Namun sapa nyana, logika seorang Melly masih jauh dibawah rencana Allah. Kejutan itu datang, saat ia diwisuda. Melly mendapat kabar gembira bahwa ia telah berhasil mencatatkan dirinya sebagai mahasiswa dengan indeks prestasi tertinggi di fakultas (cumlaude) dan berhak atas gelar alumni terbaik. Ya mahasiswi satu-satunya dalam sejarah UIN yang mendapatkan gelar mahasiswa terbaik meski hanya memiliki satu buah kaki. Satu-satunya mahasiswa yang tidak memberi ruang bagi air mata untuk menyerah. Melly adalah bukti bahwa tauhid bukan sekedar kata kunci, tapi juga kata kerja. Kerja nyata untuk membangun harapan kepada Allah setelah diuji dengan pemaknaan.
Saya mengucapkan tasbih berkali-kali. Bagaimana mungkin orang yang saya kenal hidup dengan keterbatatsan, meski bolak-balik RSCM-Ciputat untuk Kemoterapi, meski menahan sakit dalam mengerjakan skripsi, harus tetap semangat meski harapan diguncang kenyataan, bisa memiliki IP cumlaude dan menduduki peringkat IP tertinggi Se FIDKOM serta yakin Allah dibelakang ini semua. Melly adalah kata. Fragmentasi keterpecahan rasa takut untuk menjadi energi. Jangan pernah katakan tidak pada keterbatasan.
Ketika saya mengkonfirmasi kepada Ketua Jurusan apakah gelar terbaik itu hanyalah kado dari Dekanat atas jerih payahnya selama ini. Ketua Jurusan itu menampik dengan keras. Ia mengatakan bahwa Melly lulus murni, tanpa ada bantuan keringanan nilai atas simpati dosen meski secuil. Subhanallah. Inikah janji Allah atas seorang pecinta ilmu yang mengerahkan segala daya ikhtiarnya hanya kepada Allah.
Kita mungkin kemudian mencoba bertanya, bagaimana dengan masa depan Melly seterusnya. Sebagai seorang wanita, adalah lumrah bahwa mungkin cinta adalah kata yang jauh jika melihat kondisinya. Saat itu saya membuka HP dan mengirim pesan selamat kepadanya. Saya kemudian malah terkejut saat diberi tahu bahwa ada bonus dari Allah untuk dirinya. Bahwa ternyata ia telah menikah sesaat setelah dirinya diwisuda. Seorang dosen dari IPB telah berhasil memikat hatinya. Subhanallah dengan kondisi seperti ini, Melly masih sanggup menikah dan yakin bahwa keadilan Allah adalah nyata.Saya kemudian bertanya-tanya inikah yang dijanjikan Allah tentang orang-orang yang bersabar, tentang kisah orang-orang yang memakai akalnya untuk berfikir, bukan untuk kecewa.

Betatapun Hancurnya Kita, Yakinlah Allah Tetap Bersama Kita.
Ikhwah fillah, ada satu fase dalam hidup kita, betapa kekecewaan bisa menghadapkan kita pada jalan kenistaan. Kadang ujian dan cobaan Allah menjadi buah bibir kita atas sumpah serapah kita kepada Allahuta’ala. Ikhwah fillah, sadarlah, Allah akan menguji kita di titik terlemah kita. Allah akan menyentuh di bagian terpenting yang menjadi ciri ketidakberdayaan kita. Apakah itu kehilangan anggota tubuh kita, kehilangan fungsi tubuh kita, hingga kehilangan daya tubuh kita. Namun yakinlah ikhwah jika itu tidak dapat kita tanggulangi dengan hati jernih, bukan tidak mungkin hal itu akan berdampak pada konten yang lebih dalam lagi. Dimulai dengan kehilangan iman kita, kehilangan fungsi iman kita, hingga kehilangan daya iman kita. Namun yakinlah ikhwah, sekalipun Allah menguji di titik terlemah kita, Allah tidak akan tega membiarkan hambaNya sampai betul-betul menjadi lemah.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Al Baqoroh 286)

tulisan: Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi
ah, malu sekali..
malu sekali........
T.T
eh iya itu judul sebikin bikinnya saya,bukan judul aslinya :D

Al Khansa' :')

Rasanya memang saat ini saya harus banyak2 buka kuping untuk mendengar nasehat dan buka buku/kitab untuk mengafirmasi segala tindakan saya (benar atau salah, baik atau tidak). Ya,semoga membantu.
Ini salah satu tulisan yang semoga bisa menyembuhkan luka dan mengembalikan keyakinan itu..Sungguh Allah akan memeluk mimpi2 itu dan akan memberikannya pada kita DISAAT yang TEPAT :D
selamat membaca dan memetik banyak banyak hikmah ^^


Ia adalah Al-Khansa’, namun nama sebenarnya adalah Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah. Al Khansa’ merupakan seorang sahabat wanita yang mulia dan sangat terkenal sebagai penyair. Al-Khansa’ wanita yang bijaksana dan cerdas. Semua orang mengetahui kedudukan dan keahliannya yang luar biasa dalam berpuisi. Bahkan, semua sastrawan sepakat bahwa tidak ada wanita yang memiliki kekuatan puisi yang lebih hebat dari Al-Khansa’, baik di masa lalu maupun masa berikutnya. Selain mahir berpuisi, sebenarnya Al-Khansa’ juga memiliki kepribadian yang sangat kuat, akhlak mulia, pandangan yang tajam, sabar dan berani.
Masuk Islam
Takdir Allah Swt akhirnya menghendaki iman berarak di atas Al-Khansa’ yang kemudian menumpahkan air hujan keimanan ke dalam dadanya, hingga iman menyentuh lubuk hatinya yang paling dalam dan memberi denyut kehidupan hakiki kepadanya. Al-Khansa’ bangkit dengan menepis debu-debu jahiliyah dan mengusung panji tauhid untuk memberi pelajaran kepada seluruh jagat raya yang tidak akan dilupakan dalam catatan sejarah sepanjang masa.
Al-Khansa’ ikut dalam rombongan kabilahnya, Bani Sulaiman, untuk menemui Nabi Saw. dan menyatakan keislamannya. Al-Khansa’ sangat sedih dan menangisi perjalanan hidup yang telah dilaluinya yang jauh dari cahaya iman dan merasa telah tertinggal begitu jauh dari sekian banyak kebaikan. Untuk itu, ia bertekad untuk mengejar ketertinggalannya dan rela mengorbankan apa saja yang dimiliknya demi membela agama yang agung ini.
Keadaannya berubah total setelah ia masuk Islam, ujian yang dialaminya menjadi kesabaran yang didasari iman dan dihiasi oleh takwa, hingga ia tidak lagi merasa sedih ketika kehilangan apa pun dari kenikmatan duniawi ini. Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, Al-Khansa’ turut berangkat bersama keempat puteranya untuk menyertai pasukan tersebut.
Empat putera kandung Al-Khansa’ yang merupakan buah hati dan denyut jantungnya, bergabung dengan pasukan muslim yang ditugaskan menyerang Qadisiyah. Sehari sebelum perang, Al-Khansa’ ra. Menyampaikan beberapa wasiat kepada putera-puteranya,
“Hai Putra-putraku, kalian semua memeluk Islam dengan suka rela dan berhijrah dengan senang hati. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah keturunan dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak pernah merendahkan kehormatan dan merubah garis keturunan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia yang fana.
Putra-putraku, sabarlah, tabahlah, bertahanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. Jika kalian melihat gendering perang telah ditabuh dan apinya telah berkobar, maka terjunlah ke medan laga dan serbulah pusat kekuatan musuh, pasti kalian akan meraih kemenangan dan kemuliaan, di dalam kehidupan abadi dan kekal selama-lamanya”.
Keesokkan harinya, mereka terjun ke medan laga dengan gagah berani. Jika ada seorang di antara mereka yang semangatnya mulai surut, maka saudara-saudaranya langsung mengingatkannya dengan nasihat Ibunda mereka yang telah tua renta, dengan begitu semangatnya berkobar kembali dan menyerbu musuh seperti singa yang mengamuk. Serangan-serangannya seperti siap melumat musuh-musuh-Nya. Mereka tetap berjuang dengan penuh semangat, hingga satu persatu berguguran menjadi syuhada. Sebelum jatuh ke tanah dan meraih mati syahid, setiap orang dari putra Al-Khansa’ ra. Itu sempat melantunkan pernyataan yang dirangkai dalam bait-bait puisi:
Putra pertama berkata,
Saudara-saudaraku, wanita tua yang memberi nasihat itu
telah memberi nasihat kepada kita tadi malam
Nasihatnya sangat jelas dan pernyataannya lugas
Kalian akan berhadapan dalam pertempuran
Dengan bala tentara pasukan Sasan (Persia)
Mereka hanya seperti anjing yang melolong

Putra kedua berkata,
Sesungguhnya wanita tua itu
yang tekadnya bulat dan tegar itu
Telah menyuruh kita agar tetap teguh dan benar
Itulah nasihat yang menunjukkan kasih sayangnya kepada kita
Maka teruslah berperang dan habisi musuh sebanyak-banyaknya

Putra ketiga berkata,
Demi Allah, kita tidak akan melanggar sedikit pun nasihat wanita tua
Karena itu nasihat dan bukti kasih sayang yang tulus dan lembut
Kobarkan semangat perang dan serbulah pasukan musuh
Hingga kalian berhasil melumat pasukan Kisra habis-habisan

Putra keempat berkata,
Aku tidak pantas menjadi anak Al-Khansa’ dan Akhram
Aku tidak pantas menjadi orang terhormat yang membanggakan
Jika tidak berada di garis depan pasukan melawan pasukan ‘Ajam
Menyerbu tanpa rasa gentar dan melibas setiap rintangan
Ketika sang Ibunda mendengar berita kematian empat puteranya dalam hari yang sama, ia sama sekali tidak menampar pipi sendiri dan tidak pula merobek pakaiannya, melainkan menerima berita duka itu dengan penuh keimanan dan kesabaran. “Alhamdulillah yang telah memberiku kemuliaan dengan kematian mereka. Aku berharap, Allah akan mengumpulkanku dengan mereka di tempat limpahan kasih sayang-Nya”, harap Al-Khansa’. Di masa jahiliyah, Al-Khansa’ ra. Memenuhi dunia dengan tangisan dan keluh kesah atas kematian saudara kandungannya, Shakhr. Setelah ditempa oleh Islam dengan luar biasa ia sanggup merelakan empat putera kandungnya sendiri untuk meraih mati syahid dalam perang Qadisiyyah.
Ia begitu tulus dan tabah dengan pengorbanan besarnya itu demi meraih anugrah menjadi penghuni surga, karena Rasulullah Saw. pernah bersabda,
“Siapa yang merelakan tiga orang putra kandungnya (meninggal dunia), maka dia akan masuk surga. Seorang wanita bertanya, bagaimana jika hanya dua putra?, Rasulullah Saw. kemudian menjawab: ‘begitu juga dua putra”. (Diriwayatkan oleh Nasa’I dan Ibnu Hibban dari Anas radhiyallahu’anhu dalam kitab Al-Albani Shahiihul Jaami’ no 5969).
 Sumber :
Mahmud Al-Mishri, 35 Sirah Nabawiyah : 35 Sahabat Wanita Rasulullah saw., Al-I’tishom, 2012, Jakarta.
Teguh Pramono, 100 Muslim Terhebat Sepanjang Masa, Diva Press, 2012, Jogjakarta.



saya jadi teringat Bunda Helvy..
karakternya kuat sekali dalam berpuisi
beliau juga seorang dg jiwa sosial yang tinggi
diterima dan bisa menerima semua kalangan
ah..jauh sekali kamu ket...
Allah..karuniakanlah..

Jumat, 08 Maret 2013

Re-Imaging Setan dalam Makanan



Memang lezat rawon yang dijual di warung seberang hotel J.W. Mariot, Surabaya, itu. Apalagi menu rawon yang saya pesan : Rawon Buntut. Bumbu dan porsinya pas (kecuali kecambah mentahnya yang dari dulu saya nggak pernah doyan). Saya rasa restoran itu sudah sangat terkenal, terlihat dari penuhnya kursi dengan para tamu dan berbarisnya mobil yang terparkir di depannya. Restoran itu hanya buka di malam hari. Makanya namanyapun sangat beraroma malam : Rawon Setan !!!

Astaghfirullah... hampir saja saya tersedak mengingat namanya. Dan selera makanpun jatuh lunglai. Kenapa harus setan ? Ya, saya baru teringat dengan sejumlah nama restoran dan makanan yang belakangan banyak diembel-embeli kata “setan” : Gado-gado Setan, Nasi Goreng Setan, Bakso Setan, Bakmi Setan, Bebek Setan... Hebatnya, pengunjungnya meningkat sejak menunya bergelar setan. Mungkin karena penasaran, atau mungkin karena memang enak.

Bulu kuduk saya mulai merinding... Saya membayangkan sejumlah orangtua mengajak anak-anaknya makan di restoran bermenu setan-setanan. Mereka makan gado-gado setan dan ternyata enak; mereka makan nasi goreng setan dan ternyata lezat; mereka makan bebek setan dan ternyata lekker. Lalu, akhirnya anak-anak itu dengan lugunya menyimpulkan :

“Bunda, ternyata setan enak ya...”

Ups... sebuah konklusi sederhana yang logis dan sangat masuk akal : setan telah terasosiasi di alam bawah sadar anak sebagai sesuatu yang enak, lezat dan menyenangkan. Ya, mirip iklan-iklan rokok yang dalam jangka panjang mampu menciptakan citra gagah, cowok sejati, setia kawan, kemapanan, kreatif dan sebagainya. Bentuk fisik rokoknya memang tak ditayangkan, namun citra positifnya menjadi investasi jangka panjang di alam bawah sadar pemirsanya.

Tapi... saya rasa koki dan pengelola menu setan-setanan tersebut tak berniat untuk mempromosikan setan. Cuma, setanlah yang membisiki hati para koki dan pengelola restoran untuk menggunakan namanya sebagai brand. Lalu, setanpun membisiki alasan yang masuk akal atas “brand” tersebut : “Jangan terlalu serius lah... Ini cuma  buat lucu-lucuan... Minimal untuk bikin konsumen penasaran, kemudian tertarik untuk mencicipinya...

Huh... Setan sejak dulu selalu begitu :  mengelabui, menyamarkan, berkamuflase. Allah sudah mengingatkan, salah satu dari satanic action adalah ghamudul-haq, alias menyamarkan kebenaran. Kompatriot Iblis ini selalu mengambil jalan pengecut : menelikung dari belakang. Kita tak menyadari kehadirannya, namun mereka menyadari kehadiran kita : “Dia dan pengikutnya melihat kalian dari tempat di mana kalian tak dapat melihatnya” (Q.S. 7 : 27).

Sebuah label telah Allah berikan terhadap kelakukan mereka : Tipu daya – politicking. Dan tampaknya setan sedang menggunakan siasat lamanya untuk melakukan re-imaging lewat makanan. Rupanya setan sedang melakukan strike-back, sebuah serangan balik, terhadap citra buruk yang dilekatkan para penegak kebenaran terhadap kaum mereka. Hehehe... bukan hanya koruptor yang melakukan strike-back. Setanpun ingin belajar dari koruptor. Maklumlah, mereka sejatinya bersaudara...

Dasar setan !!! Atau... sayanya saja yang lagi parno ???

Wallahu ‘alam...


**copas dari notes pak adriano rusfi yg ternyata bapaknya mba asiah kakak tingkat di kampus -___- (kemana aja ket selama ini)
judul asli tulisan: setan re-imaging

Minggu, 03 Maret 2013

DICARI: LELAKI LUQMANUL HAKIM

”Duhai Ananda, usah kau sekutukan Allah.
Sungguh menyekutukan Allah itu aniaya yang besar”


Terbayang kalimat itu mengalir dari bibir lembut seorang ibu, mengajarkan tauhid pada Sang Buah Hati sambil mengusap rambutnya dengan penuh cinta. Terbayang raut wajah teduh keibuan, berbekal sayang bercampur cemas menasihati anaknya yang manja dipangkuan, agar terhindar dari murka Allah.
Tapi tidak. Itu ternyata bukan petuah bunda. Itu ternyata adalah nasihat seorang ayah yang sedang menjalani tanggung jawab kelelakiannya sebagai Muslim untuk mendidik anaknya. Petuah itu mengalun dari hati seorang lelaki sejati bernama Luqmanul Hakim, yang sadar penuh akan titah syari’ah bahwa kelelakiannya bukan hanya untuk membuahi dan mencari nafkah, tapi juga sebagai pendidik.

Lalu, kemana Luqman – Luqman itu kini ? Kemana kaum lelaki dan sang Ayah ketika narkoba mengepung anak-anaknya, ketika putranya tertangkap dalam huru-hara tawuran, atau ketika putrinya positif hamil di luar nikah ? Yang tampak hanyalah para ibu yang tergopoh tunggang-langgang mengemasi beribu masalah dengan kedua tangan halusnya, sementara suaminya duduk manis di beranda menikmati layanan sehabis pulang kerja. Ketika itu para ibu memang memilih untuk tergopoh, tinimbang memikul rasa pilu dihardik suami dituduh tak becus mendidik anak.

Tergopoh mungkin menjadi takdir seorang istri masa kini, ketika Luqman – Luqman hilang entah ke mana. Yang tersisa tinggallah para suami yang telah mendegradasi perannya sebatas pencari nafkah keluarga belaka, sedangkan peran lainnya telah didelegasikan kepada sang istri. Seakan hak seorang lelaki tersaji dari langit begitu besarnya, bahkan hak untuk mendelagasikan tanggung jawab domestik apapun. Karena tampaknya kiprah di dunia publik terasa lebih seksi dan bergengsi.

Ruang publik memang seksi. Terasa lebih lapang dan warna-warni bagi para lelaki yang memang tercipta dengan kaki panjang-panjang. Dan menjadi pencari nafkah lebih menjanjikan martabat, karena segepok uang di saku bisa membeli kepatuhan dan memaksakan ketergantungan orang-orang di rumah. Daya pikat dunia luar rumah itu menggoda, bahkan bagi kaum ibu. Karena bisa menjadi alasan jitu untuk keluar dari kepengapan domestik yang seringkali berakhir tragis, sambil sesekali berjalan di mal-mal membeli harga diri dari uang yang dicari sendiri.

Maka, tersisalah rumah-rumah sunyi dihuni para istri yang ibu rumah tangga, berteman keluh kesah yang terpaksa didengarnya sendiri. Ia mengeluh tentang anak yang keras kepala, atau pornografi yang bersembunyi di kamar tidur, atau tetangga yang gemar bergunjing, atau tentang uang belanja yang makin susut oleh inflasi. Lalu, sang suami membalasnya tak berdaya, ”Gajiku hanya segitu”. Ia memang hanya bisa mengeluh, karena ia tak lagi punya suami yang piawai berdiskusi tentang anak yang masih mengompol atau tentang kenapa harga bawang melambung.

Entah siapa yang mulanya bersalah sehingga lelaki tak lagi menjadi Luqmanul Hakim yang cakap memimpin, mencari nafkah, menjadi suami dan menjadi ayah. Mungkin saja itu bermula ketika lelaki memutuskan untuk mendegradasikan peran tradisionalnya. Atau barangkali ketika majelis ta’lim tak menawarkan kajian kerumahtanggaan kepada kaum ayah. Sementara buku dan seminar tentang keluarga tak menganggap laki-laki adalah pasarnya.

Siapakah yang bersalah ketika seorang suami tak lagi peka membaca kerling kehendak sang istri yang disiratkan dalam kata bersayap khas perempuan ? Majelis Ta’lim angkat bahu, karena ajakannya untuk mengaji kepada para lelaki selalu ditampik atas dalih waktu yang tersita di perburuan nafkah. Lalu siapakah yang bertanggung jawab kala ayah tak lagi bisa menemani keluh anaknya yang ditikam rasa jatuh cinta dengan teman sekelas ? Pengelola seminar dan penerbit bukupun geleng kepala, karena yang selama mereka tahu itu memang urusannya para ibu.

Hanya zaman yang tahu seberapa digdayakah seorang perempuan untuk mengemasi seluruh masalah rumahtangga dengan satu tangan, karena tangan yang satu lagi disibukkan oleh pengabdiannya bagi suami tercinta. Beban berat itu hanya dapat mereka adukan kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karena mereka tak dapat mengadu kepada suami yang telah berubah menjadi tuhan-tuhan kecil, tapi tanpa kasih sayang. Pernah mereka mengadukan hasrat untuk bersekolah lagi, tapi tuhan-tuhan kecil itu melarangnya tanpa sedikitpun empati, beralasan bahwa ibadah perempuan ada di dapur. Pernah mereka merayu untuk turut membantu mencari nafkah, namun lagi lagi tuhan-tuhan kecil itu menampiknya, mengutip firman Tuhan Yang Maha Besar bahwa perempuan harus tinggal di rumah.
Tuhan-tuhan kecil itu merasa telah mendapat mandat dari Tuhan Yang Maha Besar, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, untuk menjadi wakilNya di rumah tangga. Ya, mandat ketuhanan, namun tanpa sifat kasih dan sayang yang justru menjadi akhlaq utama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu, jadilah mereka diktator kecil yang memegang firman Tuhan di tangan kanannya, dan tangan kirinya menuding-nuding seisi rumah. Tuhan-tuhan kecil tanpa kasih-sayang ini kemudian membungkam suara-suara kebumian yang merengek dari dalam kamar, menyumpalnya dengan suara-suara langit. Tuhan-tuhan kecil ini minta ditaati secara absolut, berbekal kemampuannya memelintir dan memanipulasi firman Allah yang memang absolut itu.

Tinggallah para orang rumah yang tertindih dan tak dapat mengadu kepada siapapun kecuali Allah. Tragis, karena mereka justru ditindih oleh orang yang Allah ciptakan sebagai teman mengadu. Dan adalah masuk akal jika tragedi yang lahir dari paradoks pada akhirnya akan berbuah keputusasaan. Dan keputusasaan yang tragis akan melahirkan tragedi-tragedi berkelanjutan. Keputusasaan yang hampa itulah yang akhirnya menakdirkan istri-istri yang bunuh diri, ibu-ibu yang membakar anaknya, atau perempuan-perempuan yang berjualan narkoba.

Tapi itu tak sepenuhnya kesalahan para lelaki. Kita, lingkungan dan budaya patriarkhi kita yang feodal tak dapat cuci tangan sepenuhnya, karena kitalah yang telah mendegradasikan peran lelaki hanya sebatas pencari nafkah. Lingkunganlah yang menciptakan para suami yang rasional namun sekaligus miskin emosional dan kepekaan batin. Budayalah yang melahirkan ayah-ayah yang besar kepala, namun kecil hati. Allah, rasul-Nya dan agama sama sekali tak dapat dipersalahkan dan turut bertanggung jawab. Karena titah agama teramat jelas, bahwa lelaki adalah pemimpin, suami, ayah dan teman dalam rumah tangganya. Sedangkan mencari nafkah hanyalah alat bantu untuk menjalankan segala peran dan tanggung jawab itu.
Dunia domestik memang tak mudah. Dan itulah yang membuat para suami, istri dan anak-anak berlomba dan berpacu untuk meninggalkannya, masuk ke dunia publik yang lebih menggairahkan dan penuh penghargaan. Dunia domestik adalah dunia tanpa pujian, publikasi dan penghargaan, sehingga hanya manusia-manusia tulus yang mengidamkan ridha-Nyalah yang akan sanggup bertahan di dalamnya. Dunia domestik itu rutin, monoton dan tanpa imbalan, yang modal dasarnya adalah keikhlasan. Sementara, dunia telah menyebabkan para lelaki menjadi terlalu maskulin, profesional, pragmatis dan publikatif.

Padahal, nun di Madinah sana lima belas abad silam, ketika Allah menurunkan ayat-ayat khusus untuk perempuan, ketika turun ayat ayat tentang rumah tangga dan pendidikan anak, Rasulullah SAW justru mengumpulkan para lelaki di masjidnya. Beliau sampaikan isinya dan beliau jelaskan maksudnya.. Lalu pada akhirnya beiau bersabda, ” Pulanglah kalian, dan sampaikanlah kepada istri-istri dan anak-anak perempuan kalian”. Beliau, Shalallahu ’alaihi wassalam, adalah suami yang menumbuk tepung, mencuci pakaian dan tahu cara menyenangkan istri-istrinya.

Adalah kita yang harus memulai perubahan dan melahirkan kembali Luqmanul Hakim – Luqmanul Hakim yang baru. Khutbah-khutbah Jum’at perlu membahas tentang menjadi suami. Kantor-kantor tempat lelaki mencari nafkah perlu mengadakan kajian kerumahtanggaan. Masjid-masjid pasar tempat sang ayah berdagang perlu berceramah tentang pendidikan anak. Seminar-seminar komersial dan para penerbit buku perlu peduli dengan tema lelaki dan rumah tangga.

Kita yang akan mengubahnya.

seutuhnya copas: Adriano Rusfi, Psikolog, Konsultan SDM & Pendidikan