”Duhai Ananda, usah kau sekutukan Allah.
Sungguh menyekutukan Allah itu aniaya yang besar”
Terbayang
kalimat itu mengalir dari bibir lembut seorang ibu, mengajarkan tauhid
pada Sang Buah Hati sambil mengusap rambutnya dengan penuh cinta.
Terbayang raut wajah teduh keibuan, berbekal sayang bercampur cemas
menasihati anaknya yang manja dipangkuan, agar terhindar dari murka
Allah.
Tapi
tidak. Itu ternyata bukan petuah bunda. Itu ternyata adalah nasihat
seorang ayah yang sedang menjalani tanggung jawab kelelakiannya sebagai
Muslim untuk mendidik anaknya. Petuah itu mengalun dari hati seorang
lelaki sejati bernama Luqmanul Hakim, yang sadar penuh akan titah
syari’ah bahwa kelelakiannya bukan hanya untuk membuahi dan mencari
nafkah, tapi juga sebagai pendidik.
Lalu,
kemana Luqman – Luqman itu kini ? Kemana kaum lelaki dan sang Ayah
ketika narkoba mengepung anak-anaknya, ketika putranya tertangkap dalam
huru-hara tawuran, atau ketika putrinya positif hamil di luar nikah ?
Yang tampak hanyalah para ibu yang tergopoh tunggang-langgang mengemasi
beribu masalah dengan kedua tangan halusnya, sementara suaminya duduk
manis di beranda menikmati layanan sehabis pulang kerja. Ketika itu para
ibu memang memilih untuk tergopoh, tinimbang memikul rasa pilu dihardik
suami dituduh tak becus mendidik anak.
Tergopoh
mungkin menjadi takdir seorang istri masa kini, ketika Luqman – Luqman
hilang entah ke mana. Yang tersisa tinggallah para suami yang telah
mendegradasi perannya sebatas pencari nafkah keluarga belaka, sedangkan
peran lainnya telah didelegasikan kepada sang istri. Seakan hak seorang
lelaki tersaji dari langit begitu besarnya, bahkan hak untuk
mendelagasikan tanggung jawab domestik apapun. Karena tampaknya kiprah
di dunia publik terasa lebih seksi dan bergengsi.
Ruang
publik memang seksi. Terasa lebih lapang dan warna-warni bagi para
lelaki yang memang tercipta dengan kaki panjang-panjang. Dan menjadi
pencari nafkah lebih menjanjikan martabat, karena segepok uang di saku
bisa membeli kepatuhan dan memaksakan ketergantungan orang-orang di
rumah. Daya pikat dunia luar rumah itu menggoda, bahkan bagi kaum ibu.
Karena bisa menjadi alasan jitu untuk keluar dari kepengapan domestik
yang seringkali berakhir tragis, sambil sesekali berjalan di mal-mal
membeli harga diri dari uang yang dicari sendiri.
Maka,
tersisalah rumah-rumah sunyi dihuni para istri yang ibu rumah tangga,
berteman keluh kesah yang terpaksa didengarnya sendiri. Ia mengeluh
tentang anak yang keras kepala, atau pornografi yang bersembunyi di
kamar tidur, atau tetangga yang gemar bergunjing, atau tentang uang
belanja yang makin susut oleh inflasi. Lalu, sang suami membalasnya tak
berdaya, ”Gajiku hanya segitu”. Ia memang hanya bisa mengeluh, karena ia
tak lagi punya suami yang piawai berdiskusi tentang anak yang masih
mengompol atau tentang kenapa harga bawang melambung.
Entah
siapa yang mulanya bersalah sehingga lelaki tak lagi menjadi Luqmanul
Hakim yang cakap memimpin, mencari nafkah, menjadi suami dan menjadi
ayah. Mungkin saja itu bermula ketika lelaki memutuskan untuk
mendegradasikan peran tradisionalnya. Atau barangkali ketika majelis
ta’lim tak menawarkan kajian kerumahtanggaan kepada kaum ayah. Sementara
buku dan seminar tentang keluarga tak menganggap laki-laki adalah
pasarnya.
Siapakah
yang bersalah ketika seorang suami tak lagi peka membaca kerling
kehendak sang istri yang disiratkan dalam kata bersayap khas perempuan ?
Majelis Ta’lim angkat bahu, karena ajakannya untuk mengaji kepada para
lelaki selalu ditampik atas dalih waktu yang tersita di perburuan
nafkah. Lalu siapakah yang bertanggung jawab kala ayah tak lagi bisa
menemani keluh anaknya yang ditikam rasa jatuh cinta dengan teman
sekelas ? Pengelola seminar dan penerbit bukupun geleng kepala, karena
yang selama mereka tahu itu memang urusannya para ibu.
Hanya
zaman yang tahu seberapa digdayakah seorang perempuan untuk mengemasi
seluruh masalah rumahtangga dengan satu tangan, karena tangan yang satu
lagi disibukkan oleh pengabdiannya bagi suami tercinta. Beban berat itu
hanya dapat mereka adukan kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang, karena mereka tak dapat mengadu kepada suami yang telah
berubah menjadi tuhan-tuhan kecil, tapi tanpa kasih sayang. Pernah
mereka mengadukan hasrat untuk bersekolah lagi, tapi tuhan-tuhan kecil
itu melarangnya tanpa sedikitpun empati, beralasan bahwa ibadah
perempuan ada di dapur. Pernah mereka merayu untuk turut membantu
mencari nafkah, namun lagi lagi tuhan-tuhan kecil itu menampiknya,
mengutip firman Tuhan Yang Maha Besar bahwa perempuan harus tinggal di
rumah.
Tuhan-tuhan
kecil itu merasa telah mendapat mandat dari Tuhan Yang Maha Besar, Yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, untuk menjadi wakilNya di rumah
tangga. Ya, mandat ketuhanan, namun tanpa sifat kasih dan sayang yang
justru menjadi akhlaq utama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu, jadilah
mereka diktator kecil yang memegang firman Tuhan di tangan kanannya, dan
tangan kirinya menuding-nuding seisi rumah. Tuhan-tuhan kecil tanpa
kasih-sayang ini kemudian membungkam suara-suara kebumian yang merengek
dari dalam kamar, menyumpalnya dengan suara-suara langit. Tuhan-tuhan
kecil ini minta ditaati secara absolut, berbekal kemampuannya memelintir
dan memanipulasi firman Allah yang memang absolut itu.
Tinggallah
para orang rumah yang tertindih dan tak dapat mengadu kepada siapapun
kecuali Allah. Tragis, karena mereka justru ditindih oleh orang yang
Allah ciptakan sebagai teman mengadu. Dan adalah masuk akal jika tragedi
yang lahir dari paradoks pada akhirnya akan berbuah keputusasaan. Dan
keputusasaan yang tragis akan melahirkan tragedi-tragedi berkelanjutan.
Keputusasaan yang hampa itulah yang akhirnya menakdirkan istri-istri
yang bunuh diri, ibu-ibu yang membakar anaknya, atau perempuan-perempuan
yang berjualan narkoba.
Tapi
itu tak sepenuhnya kesalahan para lelaki. Kita, lingkungan dan budaya
patriarkhi kita yang feodal tak dapat cuci tangan sepenuhnya, karena
kitalah yang telah mendegradasikan peran lelaki hanya sebatas pencari
nafkah. Lingkunganlah yang menciptakan para suami yang rasional namun
sekaligus miskin emosional dan kepekaan batin. Budayalah yang melahirkan
ayah-ayah yang besar kepala, namun kecil hati. Allah, rasul-Nya dan
agama sama sekali tak dapat dipersalahkan dan turut bertanggung jawab.
Karena titah agama teramat jelas, bahwa lelaki adalah pemimpin, suami,
ayah dan teman dalam rumah tangganya. Sedangkan mencari nafkah hanyalah
alat bantu untuk menjalankan segala peran dan tanggung jawab itu.
Dunia
domestik memang tak mudah. Dan itulah yang membuat para suami, istri
dan anak-anak berlomba dan berpacu untuk meninggalkannya, masuk ke dunia
publik yang lebih menggairahkan dan penuh penghargaan. Dunia
domestik adalah dunia tanpa pujian, publikasi dan penghargaan, sehingga
hanya manusia-manusia tulus yang mengidamkan ridha-Nyalah yang akan
sanggup bertahan di dalamnya. Dunia domestik itu rutin, monoton dan
tanpa imbalan, yang modal dasarnya adalah keikhlasan. Sementara, dunia telah menyebabkan para lelaki menjadi terlalu maskulin, profesional, pragmatis dan publikatif.
Padahal,
nun di Madinah sana lima belas abad silam, ketika Allah menurunkan
ayat-ayat khusus untuk perempuan, ketika turun ayat ayat tentang rumah
tangga dan pendidikan anak, Rasulullah SAW justru mengumpulkan para
lelaki di masjidnya. Beliau sampaikan isinya dan beliau jelaskan
maksudnya.. Lalu pada akhirnya beiau bersabda, ” Pulanglah kalian, dan
sampaikanlah kepada istri-istri dan anak-anak perempuan kalian”. Beliau,
Shalallahu ’alaihi wassalam, adalah suami yang menumbuk tepung, mencuci
pakaian dan tahu cara menyenangkan istri-istrinya.
Adalah
kita yang harus memulai perubahan dan melahirkan kembali Luqmanul Hakim
– Luqmanul Hakim yang baru. Khutbah-khutbah Jum’at perlu membahas
tentang menjadi suami. Kantor-kantor tempat lelaki mencari nafkah perlu
mengadakan kajian kerumahtanggaan. Masjid-masjid pasar tempat sang ayah
berdagang perlu berceramah tentang pendidikan anak. Seminar-seminar
komersial dan para penerbit buku perlu peduli dengan tema lelaki dan
rumah tangga.
Kita yang akan mengubahnya.
seutuhnya copas: Adriano Rusfi, Psikolog, Konsultan SDM & Pendidikan