Tampilkan postingan dengan label maaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maaf. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Desember 2014

Ada saat-saat

ada saat-saat kita hanya menjadi lilin padam yang tak bisa membagi cahaya

ada saaat-saat kita harus menyelesaikan ini sendiri-segera

tanpa meminta, dan tanpa menoleh sekitaran

seperti misalnya menanyai kabar kalian :(

maafkan aku ya dik.. karna fase pasca ini masih kusesuaikan..
karna kini tembok yang harus kuruntuhkan lebih kuat
karna kini jurang yang harus kulompati pun lebih lebar dan berbahaya

maafkan aku ya dik, jika kini alpa dalam sapa
apalagi sama sekali tanpa memberikan sedikit cahaya yang kumiliki..

maafkan aku ya dik, dengan banyak keterbatasan dan alasan..
aku hanya bisa memastikan temu kita dalam doa
aku hanya bisa memastikan sapa kita dalam sujud yang sama

bagaimana aku bisa memelukmu hangat kini, sedangkan lilinku sedang padam

tak ada yang perlu kau tau

tapi jika kau berkenan untuk tahu..

ketahuilah..aku mencintai-mu, bersyukur membersamai-mu, dan selalu berharap terbaik untuk-mu

*ah, pengin nangis T_T

selamat menapaki tangga-tangga yang sering berdecit reyot..
selamat melewati gelombang-gelombang yang mendebarkan
selamat melompati tiap tantangan..
semoga Allah ridho.. :*

untuk adik2 di GAMAIS FAPERTA yang sedang musyang, untuk adik2 di BEM yang baru usai pemira, untuk adik2 di KAMMI yang siap untuk akselerasi
juga untuk Nungky Suryo Nugroho yang terpilih menjadi Presiden BEM Faperta,
juga untuk M.Ali Husein yang terpilih menjadi Presidem BEM-U

dan spesial untuk adikku Azimatusyahidah yang terpilih menjadi Ketua Umum UKI IB

juga tak pernah sepi dalam ingatan, mujahidah2 faperta:
Tia Lestari, Rahmatika Udhiya, Ulfah Fauziyyah, Riga Putri, Sundhus Chafidoh, Nabila Faradina, Nurini Cahyaningtias, Dewi Tri, dan lain-lain :D

juga yang selalu bikin kangen, INTEGRITY MUSLIMAH crew.. termasuk eks2-nyaa :p
Syfa Handayani, Hanifah, Chusnul Hotimah, Erni Suryani, Enur Azizah, Nur Ratnasari, Mega, Irma, Fatiya, Athiim, Syfa jr, Aji, Okta, Saladin, Resty, Afra, Uzi

:*

Pare, usai scoring :D
19 Desember 2014, 11.44 p.m

Sabtu, 05 April 2014

yg salah

Cerita itu tentang Ani Komariah Sriwijaya, seorang ibu rumah tangga asli Boyolali tapi tinggal di bandung, lulusan ITB, yang pada 2006 lalu menggegerkan masyarakat karena membunuh ketiga anaknya yang masih kecil dengan cara membekap mereka dengan bantal sampai meninggal. Mungkin masih banyak yang ingat kasusnya. Banyak yang mengira bahwa alasan pembunuhan itu adalah karena Bu Ani depresi memikirkan masalah ekonomi dan mengkhawatirkan masa depan anaknya yang suram. Bu Ani kemudian diputus bebas oleh pengadilan dan diperintahkan untuk menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa. Pak Faudzil Adhim kebetulan tergabung didalam tim psikologi yang memeriksa kondisi kejiwaan Bu Ani waktu itu, dan cerita latar belakang kenapa Bu Ani memutuskan untuk mengakhiri hidup anak2nya inilah yang mengundang kucuran airmata dan menegakkan bulu roma kami semua yang mendengarnya.

Bu Ani sendiri, boleh dibilang adalah potret sempurna dari keberadaan seorang anak. Dari kecil sampai lulus ITB, prestasi akademiknya selalu cemerlang. Pengalaman sosialnya juga bagus. Intinya, dari luar dia merupakan anak yang diidam-idamkan semua orangtua, titik. Ketika kemudian menikah dan menjadi seorang ibu, dia juga tidak beda dengan ibu-ibu lainnya yang sangat menyayangi anak-anaknya, segenap jiwa dan raga. Lantas kenapa dia sampai memutuskan mengakhiri hidup anak-anaknya sendiri?? Sebelum mengungkapkan alasan yang berhasil digali oleh tim psikologi yang memeriksanya, Pak Faudzil menggambarkan suasana siang itu, ketika Bu Ani melaksanakan niat yang sudah bulat diambilnya sejak beberapa waktu sebelumnya.

Siang itu si anak sulung Nadhif (6 tahun) baru pulang sekolah. Mungkin sekitar dhuhur, ketika sehabis sholat Bu Ani menyambut kedatangan si sulung dengan senyum dan pelukan sayang seperti biasa. Kemudian disiapkannya makan siang untuk Nadhif, ditemaninya si sulung makan siang bersama adiknya Faras (3 tahun, si anak tengah) . Si bungsu Umar (9 bulan) saat itu sedang tidur siang.

Sepanjang makan siang itu, Bu Ani lebih banyak mengelus rambut anak2 dan menciumi kepala mereka daripada hari-hari yang lain. Setelah selesai disuruhnya Nadhif dan Faras mandi. Sehabis mandi, mereka diberi pakaian yang nyaman dan dibedak seluruh tubuhnya sampai harum. Bu Ani kemudian menyuruh si sulung bermain di ruangan lain sementara dia mengantar si tengah tidur siang di kamar. (Aku tidak yakin yang mana diantara mereka yang lebih dulu diminta untuk tidur siang, tetapi kurang lebih begitu kejadiannya, satu anak diantar tidur siang dan yang lain bermain di luar kamar).

Bu Ani tak lupa mengajak si anak membaca doa sebelum tidur, bahkan dengan lembut menyanyikan beberapa lagu pengantar tidur yang diminta anaknya. Ketika kemudian dia yakin bahwa si anak sudah tertidur pulas, diambilnya bantal dan ditangkupkannya ke wajah anaknya tersebut….kuat-kuat….lama…
.cukup lama sampai nafas si anak berhenti…

Kemudian Bu Ani memanggil si anak lain yang sedang bermain di luar kamar. “Ayo, temani saudaramu tidur siang nak…” Dengan kelembutan dan kasih sayang yang sama diantarkannya si kecil ke hangatnya tidur siang dan mimpi yang indah… Dan Bu Ani sekali lagi mengambil bantal untuk ditangkupkan ke wajah si kecil… Si kecil pun kembali meregang nyawa tepat disamping saudara yang tanpa sepengetahuannya sudah lebih dulu meninggalkannya.

Dan terakhir, si bungsu Umar, yang masih bayi dan terlelap tidur pun, kemudian menyusul kedua kakaknya…meregang nyawa didalam pelukan Bu Ani…

***

Kisah diatas sangat mengerikan buat kita semua, tentu saja… Tetapi kalau ada yang lebih mengerikan adalah alasan Bu Ani melakukannya. Kalau melihat latar belakang pendidikannya, tentu hal seperti ini kurang masuk akal. Seharusnya Bu Ani sebagai seseorang yang berpendidikan tinggi, lebih bisa mengatasi tekanan mental maupun emosi didalam dirinya. Tetapi apa yang dialaminya (seperti yang diceritakan oleh Pak Fauzdil di PSC) ternyata memang sangat besar, jauh lebih besar daripada yang kami semua kira.
Setelah melewati penggalian yang lama dan dalam oleh tim psikologi, terungkap alasan sebenarnya dibalik keputusan Bu Ani…

Ani Komariah, dari luar memang potret anak yang sempurna. Tetapi sangat ironis dan dramatis, kecemerlangan dirinya dihadapan semua orang, ternyata tidak bisa dilihat oleh si Ani terpancar keluar dari mata ibu kandungnya sendiri. Ibunda dari Ani, diceritakan tidak pernah merasa puas dengan apapun yang dicapai oleh putrinya. Dan sang Ibu adalah tipe wanita yang SANGAT PENGOMEL!! Sekeras apapun Ani berusaha memberikan yang terbaik dalam hidupnya, tetap saja yang dia dapat ketika pulang adalah omelan tidak puas dari ibunya. Sebanyak apapun nilai A yang dia dapat, begitu berhadapan dengan ibunya langsung menjadi tidak berarti karena akan selalu dibandingkan dengan prestasi teman lain yang nilai A nya lebih banyak. Setinggi apapun prestasi yang dicapai Ani, yang dilihat sang Ibu adalah orang lain yang berprestasi lebih tinggi lagi. Omelan demi omelan tanda ketidakpuasan, sepertinya hanya itu yang Ani dapat selama dia tumbuh dewasa. Dan itu merupakan sebuah luka yang besar yang kemudian berurat akar dalam dirinya.

Ketika Ani menikah serta melahirkan ketiga anak-anaknya, omelan-omalen tak puas dari sang ibu bahkan sama sekali bukanlah yang terburuk yang bisa terjadi…

Selama mendidik putra-putrinya, pelan-pelan Ani belajar dan menyadari bahwa kebiasaan ibunya mendidik dia dulu, tanpa sadar seringkali dilakukannya pada anak-anaknya. Sekeras apapun niatnya untuk bertekad tidak mau meniru cara mendidik ibunya yang penuh omelan tak puas itu, tetapi sesering itu juga tanpa disadarinya, itu terjadi… Anaknya tumbuh dengan omelan yang (walaupun tidak sebanyak dirinya, tetapi) mirip dengan yang selalu diterimanya dulu dari sang ibu…

Ani kemudian belajar dan menemukan bahwa luka yang ditorehkan sang ibu didalam hidupnya, tak mungkin terhapuskan… Lebih buruk lagi, kemudian dia memutuskan bahwa luka itu menular, menurun dan melukai anak-anaknya juga… Luka yang kali ini dia timbulkan sendiri…. Dia torehkan tanpa sadar kedalam hidup anak-anak yang dicintainya… Luka yang menyebar dengan kuat, bahkan tekad bulatnya yang kuat untuk menjadi ibu yang baik pun, tak kuasa menghentikannya…

Sebagai seorang ibu, Ani merasa bahwa dia adalah ibu yang sudah terlanjur terlaknat. Terlaknat oleh luka dan kebiasaan buruk tak tersembuhkan yang sudah kadung ditorehkan ibunya dulu. Dan lebih buruk lagi, sekarang, tanpa dia sadari dan bisa hentikan, dia akan mencetak 3 calon orangtua yang terlaknat juga, yaitu anak-anaknya. Ani merasa nanti ketika anak2nya sudah menjadi orangtua, tanpa sadar mereka pasti akan mewarisi caranya memperlakukan anak-anak, sekeras apapun mereka mungkin akan mencoba menghentikannya.

Tak terbayangkan oleh Ani nasib cucu dan keturunannya, kalau luka ini akan terus menjalar turun kepada keturunannya. Kalau omelan-omelan jahanam itu akan terus menelan korban, melukai hidup banyak orang karena tidak bisa dihentikan penularannya. Melukai banyak orang yang kemudian hanya akan berakhir sama, menjadi penyebar dan pembawa kebiasaan terkutuk itu…

Konon, Bu Ani masih mengakui betapa cintanya dia pada sang bunda… Tetapi pada akhirnya, sebagai seorang ibu yang juga sangat mencintai Nadhif, Faras dan Umar, Bu Ani memutuskan bahwa dia tidak sanggup lagi mencintai anak-anaknya… Tidak dengan cara seperti itu…
 
 
 
cara mencintai yg salah.. terkadang, menjadi takut menjadi ibu, setidaknya dalam waktu dekat ini. terkadang teramat rindu, tapi.. ah,mungkin kisah ibu diatas adalah kisah seorang manusia yg tidak mengenal dirinya, juga tidak mengenal Tuhannya, dan juga tidak mengenal tarbiyah
Allah..save me please.. until the end, until the last breath...  

saya minta maaf untuk yg sering kecipratan cara saya mencintai yang salah, saya memang penuntut..dan tidak sabaran..
semoga Allah terus mampukan saya utk belajar dan memperbaiki diri..
:')
surga memang mahal..

Senin, 28 Oktober 2013

cukupkanlah ya Allah

bismillah..

saya tahu dan sadar betul
saya hanyalah debu diarea ini..berguna tidak, sering bikin batuk dan perih mata iya (hehee ^^v)
saya tahu
seringkali saya dzolim terhadap saudara2 saya, membiarkan mereka berjuang sendiri..
tapi, saya tahu
Allah selipkan banyak hikmah atas semua ini
apa yg mesti kau tanggung,
dan apa yg mesti kutanggung
beda, terlampau malah
saya memang begitu perasa..terkadang, antara kelewat pede dan sotoy, saya tahu betul apa yg sedang kau rasakan saudaraku..
Demi Allah! jikalah semua ini sanggup kulewati tanpa menyakiti..
tapi, bukankah ingin manusia memang tak pernah habis?

Rabb.. dahulu aku sering meminta ini dan itu
Rabb.. dahulu aku sering mempertanyakan mengapa begini dan begitu
Rabb...dahulu aku sering, teramat..eh, teramat sering protes..dan tidak bersyukur..dan lupa untuk meminta sabar..lupa untuk meminta kekuatan..
dahulu, betapa seringnya aku ambil kendali yang seharusnya kuserahkan sepenuhnya kepada-Mu?

Rabb.. sampai hari ini dan kapanpun..
tentu aku akan terus meminta ini dan itu.. ya, pada siapa lagi?

Maka Rabb.. kuminta.. cukupkanlah apa2 yg sudah kau beri sejak lahirku sampai hari ini
cukupkanlah hatiku untuk menerimanya
cukupkanlah jiwaku..untuk sanggup menopangnya
cukupkanlah... agar aku mampu lewati ini, sepotong pedih yg tak kunjung lalu
sepotong luka yg selalu menganga, tidak setiap tahun, tidak setiap bulan.... usiaku sudah 22 Rabb...
22 tahun dg luka.. dg pedih... terlalu bebalkah aku? ya, sepertinya ada yg salah dg ikhlasku.. ada yg salah dengan berserah diriku..
usiaku sudah 22 Rabb... aku minta sepotong saja..jika Engkau akan memberikannya utuh..nanti..tak apa.. tapi cukupkanlah... cukupkanlah segalanya.. agar aku lewati semua ini dg baik....
kerinduan ini...
buncah segala rasa ini..
Rabb... begitu istimewakah keluarga kecil kami? hingga kau memisahkan kami yg bertiga di tiga tempat berjauhan...bertahun2...
Rabb... hamba teramat rindu... teramat... teramat...

*bagus, lagi2 mewek d blog*


abi....habis kata2ku..berapa puisi untukmu, berapa getar rindu untukmu, berapa doa untukmu... abi...habis kataku..
ummi...habis pula kataku..berapa tangkai bunga kusiapkan..berapa kalimat indah nan romantis ingin kuungkapkan..bertanya hingga larut..kapan? kapan? kapan? kapan ummi? hiks.....
dan kau makhluk planet kripton..aku tak minta cepat2..tapi segeralah selesaikan semua persiapanmu..dan 'selamatkan' aku dari segala ini

mimpiku sederhana saja Rabb.. T.T (rumah,9 dzulhijah 1434)
sabar ya mbak..karna apapun itu.. (rumah,27oktober2013)

Jumat, 28 Juni 2013

saya hanyalah

saya hanyalah seorang jundi.. yg sering lupa, bahwa qiyadah punya tanggungjawab lebih besar, beban lebih berat, permasalahan lebih pelik..
saya hanyalah jundi.. yg sering lupa, bahwa qiyadah selalu inginkan yang terbaik..bagi amanahnya..bagi jundi-jundinya..
bahwa qiyadah, telah lebih dulu mentarbiyah dirinya..untuk tetap tegak, meski pundak serasa rapuh..
saya hanyalah jundi.. yg sering lupa..tsiqoh itu tak hanya satu pihak..tapi ketenangan antar pihak..
dan..
saya hanyalah jundi.. yang sering lupa..bahwa qiyadah juga adalah seorang manusia..butuh dinasehati..butuh diingatkan..butuh juga didengarkan..



jadi?

yaa,begitulah :)

Selasa, 18 Juni 2013

hujan tapi kering

saya terpikir judul sebuah puisi "hujan tapi kering" itu secara spontan ketika kuliah sing hari senin kemarin.. ternyata, sepertinya.. mmm.. ga bakal jadi puisinya...
maaf yaa -___-

"kebersamaan kadang saling meniadakan, menghapuskan, melunturkan..
tapi..
lebih sering kebersamaan itu menguatkan, mengokohkan, dan memperpanjang jejak jejak"

pertemuan, perkenalan, sampai kita merasakan keakraban, sayang, cinta, butuh..
sampai kita merasakan jauh, sepi, kangen, sakit, perih, hancur..dan terbakar..

aku selalu bersyukur atas pertemuan ini, atas perkenalan ini, juga atas keakraban, sayang, cinta.. dan aku lebih bersyukur untuk pembelajaran tak terganti soal jauh, sepi, kangen, sakit, perih, hancur dan..ter-ba-kar...

terkadang dan sering kali manusiawi.. aku mengutuk dan menuntut, meski selintasan, meski hanya sekilas.. Alhamdulillah, Allah hadirkan penjelasan..dan kesadaran.. "ah, bukankah kau pun sering seperti itu? jadi siapa yang sebenarnya tak kau sukai? dirimu sendiri kan?"
karna seolah kau bercermin..dan melihat kekurangan2mu pada diri orang lain..akhirnya kau benci keduanya sekaligus...ya, keduanya sekaligus..

terkadang dan seringkali, bahkan pernah..semua terasa sudah hancur..lebur..tak lagi mau berharap..
pun kau kini..merasakan itu.. selesai sudah..

tapi ya Allah...jahatkah, jika aku hanya menjawab dalam hati.. "esok kau kan tahu.. esok kau kan mengalaminya sendiri.."

hujan tapi kering..
seperti gurun nan gersang, seketika hilang segala sifat kegersangannya dengan siraman air hujan, menyapu semua, menghapus semua, tanpa meninggalkan sisa, sisa yang berbekas..

"kadang, cara terbaik menyayangi mungkin dengan menjauhi..membiarkan waktu yang mengobati... karna mendekat terus, dan memaksa untuk mengerti..apalagi berkali-kali memaksa untuk memaafkan khilaf diri justru akan semakin menyakiti..justru akan semakin menyakiti....T.T"

Allah, ampuni hamba..bila hamba selama ini tlah dzalim.. salah mengambil sikap.. tidak tepat dalam bertindak.. Faghfirlii, faghfirlanaa T.T




**aku sungguh tak pernah tahu, seberapa lama waktu yang tersisa untuk kita
semoga beriringan dengan khilafku, tertakdirkan juga maafmu untukku
akhirnya mungkin kau makin tahu, bukankah aku manusia biasa?

Senin, 17 Juni 2013

FOKUS lah

ayo dong fokus...
-_____-
tahun ini..tahun ini...
mau menunda berapa lama lagi untuk "pulang"??
ayoo laah ket..
FOKUS!

Allah ga akan membiarkan hambanya tanpa solusi.
Ayooo..
Ya Allah..
faghfirlii.. faghfirlii...






masih kurang apa frekuensi bolak baliknya?
hemm..
ayolah ket, tau diri! jangan lebih lama lagi membebani

Sabtu, 15 Juni 2013

temu

berulangkali
dan saya harus berani untuk menjadi tega
tentu bukan hal mudah bagi orang-orang melankoli nan perasa seperti saya untuk tega, tapi.. saya harus melakukannya
semoga tidak menjadi menyakiti, walaupun saya sadar saya telah menyakiti
maaf ya dik..

karna aku begitu begini..
padahal kau butuh aku yg tidak begitu..
semoga waktu memberikan jawabannya satu per satu..
ini hanya permulaan saja bukan? ^o^
akan ada bilangan menit-jam-hari dan bulan yang akan kita lewati bersama (insyaallah)
dan aku akan terus berusaha menemukannya
menemukan titik aku dan kamu benar-benar menjadi saudara





dik..uhibbukifillah..aku akan selalu ingat moment kau mengucap itu dengan lirih di tengah pintu
:D

Senin, 29 April 2013

Satu Kaki, KerjaKeras, dan Sabar tanpa Tepi

      Airmata para dosen jatuh. Standing applause di ruang teater Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membahana. Diantara mereka sampai tidak ada yang sanggup berdiri. Tiada kebanggaan dimiliki seorang dosen dan keluarga menyaksikan ujian hidup sesosok mahasiswi dengan predikat Indeks Prestasi (IP) tertinggi meski selama bertahun-tahun dihantam keterbatasan. Sejarah telah tercatat. Melly dianugerahi Alumni Terbaik FIDKOM 2010 pada saat pelepasan Wisudawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kendati selama ini hidup dengan satu kaki. Sebelah kakinya harus diamputasi setelah penyakit kanker tulang menyerangnya di pertengahan kuliah. Ya meski begitu, Melly tidak mau menyerah pada kenyataan. Ia mendapat gelar cumlaude jauh di atas para mahasiswa lainnya, termasuk mahasiswa yang kedua kakinya masih lengkap.
     Melly akhirnya keluar setelah memberi pidato sambutannya di ruangan teater Profesor Aqib Suminto. Ia dipapah dengan kursi roda. Memang tidak ada lagi gerak enerjiknya, tapi semua mahasiswa UIN mengelu-elukan namanya. Lebih dari Ahmadinejad ketika mengunjungi UIN Jakarta 2008 silam. Sedangkan beberapa dosen masih terdiam, hanya lelehan air mata turun dari keikhlasan hati melepas Melly dari UIN. Melly tersenyum, tangannya terkepal. Di hatinya, ia puas berhasil membuktikan kepada semua orang bahwa jarak antara keterbatasan diri dan kecintaan terhadap ilmu lebih tipis dari kulit bawang!.
Perjalanan Awal Melly
      Nama aslinya adalah Nurmeilita. Tipikal mahasiswi berkerudung lebar yang tidak percaya bahwa hidup tidak bisa ditaklukan. Bahwa satu-satunya cara menaklukan ketakutan adalah dengan menghadapinya. Sayyid Quthb berkelamin feminim yang menyatakan lebih baik mati daripada menyerah pada keterbatasan. Namanya kini tertanam pada seluruh mahasiswa FIDKOM. Bahwa Allah, Kita, dan Arti Sebuah Perjuangan adalah keniscayaan.
     Alumni salah satu SMA Negeri favorit di Bekasi ini memang unik. Kalau banyak jebolan SMA memilih untuk kuliah di kampus umum, Melly lebih memilih kuliah di UIN. Itupun bukan di Fakultas Kedokteran, Sains, dan MIPA. Ia memilih jalur Ilmu Dakwah dengan jurusan Konseling Islam. Dengan akal yang masih polos, banyak orang bertanya padanya, “Mau cari mati dengan gaya apa seorang siswa lulusan SMA masuk ke Fakultas Keislaman di UIN yang ketat dalam studi keagamaan. Modal Rohis kuliah disini belum cukup. Hasan Al Banna bisa menjadi Sartre di UIN.” Maklum kala itu UIN Jakarta mendapat kekhawatiran tingkat tinggi setelah para mahasiswa jurusan Akidah Filsafat di UIN Sunan Gunung Djati Bandung melakukan penistaan terhadap Allah. Kala itu stigma kampus kami berubah dari Institut Agama Islam Negeri (sebelum menjadi UIN) diplesetkan menjadi “Ingkar Allah Ingkar Nabi”. Cibiran itu terasa betul. Lebih pedas dari cabai rawit sekalipun.
    Melly kali pertama masuk UIN Jakarta pada tahun 2004. Memulai karir sebagai mahasiswa semester satu seperti pada umumnya: polos, manut kata senior dan pasrah mengikuti Program Pengenalan Studi dan Almamater (Propesa atau Ospek sebagaimana kita mengenalnya). Saat tiba giliran bagi tiap mahasiswa baru memberikan pandangan tentang jurusan barunya di UIN, Melly tampil memberikan beberapa patah kata. Dari situ orang sudah berkesimpulan bahwa Melly bukan orang sembarangan. Gaya bicaranya bukan seperti anak SMA. Ia sudah berani membeberkan bahasa-bahasa ilmiah di tiap kalimat pembukanya. Tampaknya ia sadar, ia bukan lagi anak remaja.
Detik-detik Menghadapi Ujian
Setelah berjalan satu tahun kedepan, Melly berkembang menjadi mahasiswi UIN yang berbeda. Kecintaannya terhadap ilmu membawanya menjadi mahasiswi yang melebihi usianya. Melly seperti bukan mahasiswi UIN berumuran 19 tahun pada umumnya. Kecintaannya terhadap ilmu membuatnya sering terlihat nongkrong di perpustakaan ketimbang menghabiskan waktu di bioskop. Mengutak-atik isi buku daripada larut dalam pergaulan semu.

Nilai semester awalnya selalu diatas 3,5. Berkat kecerdasannya, sebagai presiden BEM (Sistem di UIN mengharuskan menyebut pemimpin BEM, dengan sebutan presiden bukan ketua) saya mengamanahkannya untuk mengisi pos Departemen Keilmuan. Sebuah departemen yang tentunya terhitung danger bagi tiap-tiap BEM di UIN. Departemen ini harus aktif mengadakan seminar, kuliah umum, pelatihan, hingga diskusi-diskusi mingguan yang temanya pun tidaklah ringan. Selain tema ke-Islaman, beberapa kali kajian ini juga membahas tentang Pendekatan Rasional Emotif, Behavioris, hingga Logoterapi. Kami ingin mahasiswa memiliki framework seimbang antara kuat dengan spirit keislaman tapi tidak awam jika suatau saat dihantam oleh gagasan Barat. Dan Melly menikmati itu. Ia memang sangat menyukai diskusi dengan nalar kritisnya yang tajam. Maklum Melly besar di Lembaga Dakwah Kampus, ia memiliki framework Islam yang cukup kuat untuk tidak begitu saja menerima pandangan di luar Islam.
Waktu berganti waktu, hingga kemudian Melly mulai mengidap penyakit misterius. Teman-temannya tidak lagi melihatnya di kampus. Aura tidak sedap mulai meliputi perasaan kami semua. Kabar angin tidak begitu jelas memberitahu dimana keberadaan Melly saat itu. Hingga kemudian kami mendapat informasi, Melly kini menderita kelumpuhan dalam arti sebenarnya. Ya mahasiswi penikmat panjat gunung itu terbaring tidak bisa kemana-mana. Kakinya terdiam tak dapat bergerak, sedangkan di dalam kerudungnya kerontokan mulai meliputi mahkotanya satu per satu. Mata kami tercengang mendengar berita menyakitkan itu.
Kawan-kawan kami pun kemudian bergegas mengunjunginya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat. Setelah membuka pintu kamar, rekan-rekan sekelas Melly menutup mulut kecilnya. Mereka jatuh haru berderai air mata melihat sosok gadis enerjik dan periang tersebut telah terkulai lemah. Sebagian civitas akademika mahasiswa Konseling Islam tidak mampu berkata apa-apa. Jiwa kami terbungkam. Melly yang kami kenal sebagai mahasiswi solehah sedang diberi ujian maha dahsyat oleh Allah. Sampai-sampai kami beranggapan inikah akhir dari perjalanan hidup Melly? Melihat beratnya ujian yang ia alami.
Ketegaran Seorang Pecinta Ilmu Yang Pantang Menyerah
Uniknya, keharuan dari para sahabat dengan cepat ia tepis. Melly dengan gaya tomboynya menyadarkan kawan-kawan untuk tidak bersusah payah menangisi dirinya. Melly adalah tipikal wanita tegar, ia benci air mata. Apalagi sengaja disuguhkan untuk dirinya. Bahkan berkali-kali Melly harus menyadarkan temannya bahwa ia tidak seburuk yang kami perkirakan. Walau Melly sadar betul kankernya bisa merenggut nyawanya sewaktu-waktu. “Tapi sumpah, Mel baik-baik aja kok.” ucapnya menyiratkan ia tidak ingin kita semua larut dalam kesedihan panjang.
Di tengah keterbatasan itu, ada cita-cita yang tidak ikut lumpuh seperti kakinya. Sekalipun kondisinya amat lemah, namun kecintaannya terhadap ilmu membuatnya tetap ingin melanjutkan kuliah. Meski pada akhirnya, ia harus siap menganggung beban: bolak-balik ke perpus, naik lift dengan kursi roda, mengejar mata kuliah meski harus bertarung dengan harapan!. Itu pun belum dihitung rasa sakitnya. Namun, bukan Melly namanya jika menyerah pada kenyataan. Ia telah berikrar untuk tidak menangis. Keinginan terkuatnya adalah memberikan kado manis kepada Allah dan keluarga tercinta tentang makna terindah seorang pecinta ilmu. Meski tak berapa lama lagi ia hanya memiliki satu kaki. Beberapa kali ia sempat mendiskusikan skripsinya dengan saya. Kala itu saya sendiri sudah dalam tingkat akhir menyelesaikan kuliah. saya memang memiliki pengalaman diskusi panjang dengan Melly. Menurut penulis, Melly adalah salah satu mahasiswi yang cukup berani hadir untuk diskusi dengan mahasiswa yang lebih senior. Ia cukup “tahan” diajak untuk menelanjangi psikoanalisis. Ya psikologi vulgar yang mengatakan tuhan itu hanya hasil ilusi manusia.
Tidak hanya disitu, sebelumnya Melly sadar. Ia harus diuji kembali oleh beberapa nilai kuliahnya yang belum ia ambil di semester tujuh. Termasuk mata kuliah lainnya yang mesti mengulang di semester awal. Hingga jika ditotal keseluruhan ada tujuh mata kuliah yang harus ia ambil. Bayangkan di tengah kondisi kaki tak bisa digerakkan, ia tetap rajin ke kampus menyelesaikan segala kekurangannya. Dan itu benar-benar dilakukannya lebih dari ikhlas, meski jarak Bekasi-Ciputat terlalu jauh bagi seorang perempuan yang diuji dengan keterbatasan. Namun sekali lagi, kesabaran dan kekuatan memupuskan segala ketakutannya. Melly yakin Allah akan memperlakukannya dengan baik, jika ia selalu berusaha dan berdoa, meski ia kini berkursi roda.
Seiring berjalannya waktu, ujian Allah betul-betul menyentuh titik terlemah tubuhnya. Melly harus menerima kenyataan pahit bahwa dokter pengasuhnya di RSCM memberi tahu sang keluarga bahwa kaki si buah hati harus segera diamputasi. Dengan penuh ketegaran, Melly memasrahkan dirinya kepada Allah. Aktifis dakwah kampus ini bersiap hidup dengan kaki pincang. Kanker bisa jadi adalah keladi yang menggagalkan kehidupannya. Tapi Melly paham betul bahwa kita harus selalu berbaik sangka kepada Allah. Melly boleh kecewa, tapi tidak untuk kecewa kepada Allah.
Setelah operasi selesai dilaksanakan, Melly sadar dari pembiusannya. Dengan kekuatan mentalnya, ia memberanikan diri mengangkat kepala untuk melihat kakinya. Melly tersenyum meratapi sebelah kakinya telah menghilang. Namun ia tetap tidak mau menyerah. Bagaimanapun hidup harus terus berlanjut. Tak berapa lama ia kemudian mengerjakan segala tugas kuliah di pembaringan RSCM. Ya tujuh mata kuliah yang belum sempat usai ia ambil, karena keburu menjalani operasi. Semuanya berjalan beriringan ditengah rintihannya menahan rasa sakit pasca operasi.
Setelah semua mata kuliahnya selesai, ujian kembali datang. Ia ingat masih ada satu lagi hutangnya kepada kampus, yakni membuat skripsi. Subhanallah lagi-lagi Melly tak putus asa. Ia sama sekali tak berniat melempar handuk lalu memilih berkutat dengan rasa sakitnya. Bayangkan Melly pun juga tidak memelas kepada pihak kampus agar ia dibebaskan dari skripsi. Inilah yang melatarbelakangi saya tidak menyesal memberinya posisi Departemen Keilmuan kepadanya saat saya menjadi ketua BEM. Bahkan di BEM, Melly juga ikut membantu bidang departemen yang lain. Dalam acara training motivasi, safari dakwah, mabit, pelatihan, ta’aruf mahasiswa baru, dan sebagainya. Melly selalu hadir disitu. Ibarat kata Melly selalu memberi semangat jika BEM kami “kurang darah”. Sampai disitu, kami sama sekali tidak terfikir tentang bakal ujian apa yang akan menimpanya. Tidak ada satupun tanda-tanda mengarah kesana.
Kado Terindah Dari Allah
Akhirnya dengan kerja kerasnya selama ini, Melly berhasil menyelesaikan skripsi dengan baik. Semuanya dilakukan di kasur pembaringan, lengkap dengan rasa sakit yang terus menggerogoti tubunya. Keletihan pasca operasi dan proses menjalani Kemoterapi tiap harinya.
Melly kemudian menjalani Sidang Munaqosyah. Di hadapan para penguji, ia menjelaskan tentang penelitiannya. Dosen tidak merasakan betapa di tengah presentasinya, Melly sebenarnya menahan rasakan sakitnya. Senyum Melly membuat orang lupa bahwa ia masih menjalani Kemoterapi secara intens di RSCM. Semua keluarga hanya bisa bangga dalam hati betapa Melly begitu trengginas menjawab pertanyaan penguji. Mereka bangga bukan karena Melly adalah mahasiswi pintar, mereka bukan bangga karena sang buah hati adalah bidadari cinta yang berhasil bertahan di tengah kondisi tak berperi, tapi mereka bangga telah dikaruniai seorang buah hati yang kuat imannya dan tak pernah sekalipun terlontar dari mulutnya tentang arti kekecewaannya kepada Allah.
Sampai pada waktu setelah selesai sidang, ia tidak sadar bahwa nilai skripsinya tergolong tinggi. Baginya, ia sudah cukup bersyukur dengan bisa menyelesaikan skripsi ini. Namun sapa nyana, logika seorang Melly masih jauh dibawah rencana Allah. Kejutan itu datang, saat ia diwisuda. Melly mendapat kabar gembira bahwa ia telah berhasil mencatatkan dirinya sebagai mahasiswa dengan indeks prestasi tertinggi di fakultas (cumlaude) dan berhak atas gelar alumni terbaik. Ya mahasiswi satu-satunya dalam sejarah UIN yang mendapatkan gelar mahasiswa terbaik meski hanya memiliki satu buah kaki. Satu-satunya mahasiswa yang tidak memberi ruang bagi air mata untuk menyerah. Melly adalah bukti bahwa tauhid bukan sekedar kata kunci, tapi juga kata kerja. Kerja nyata untuk membangun harapan kepada Allah setelah diuji dengan pemaknaan.
Saya mengucapkan tasbih berkali-kali. Bagaimana mungkin orang yang saya kenal hidup dengan keterbatatsan, meski bolak-balik RSCM-Ciputat untuk Kemoterapi, meski menahan sakit dalam mengerjakan skripsi, harus tetap semangat meski harapan diguncang kenyataan, bisa memiliki IP cumlaude dan menduduki peringkat IP tertinggi Se FIDKOM serta yakin Allah dibelakang ini semua. Melly adalah kata. Fragmentasi keterpecahan rasa takut untuk menjadi energi. Jangan pernah katakan tidak pada keterbatasan.
Ketika saya mengkonfirmasi kepada Ketua Jurusan apakah gelar terbaik itu hanyalah kado dari Dekanat atas jerih payahnya selama ini. Ketua Jurusan itu menampik dengan keras. Ia mengatakan bahwa Melly lulus murni, tanpa ada bantuan keringanan nilai atas simpati dosen meski secuil. Subhanallah. Inikah janji Allah atas seorang pecinta ilmu yang mengerahkan segala daya ikhtiarnya hanya kepada Allah.
Kita mungkin kemudian mencoba bertanya, bagaimana dengan masa depan Melly seterusnya. Sebagai seorang wanita, adalah lumrah bahwa mungkin cinta adalah kata yang jauh jika melihat kondisinya. Saat itu saya membuka HP dan mengirim pesan selamat kepadanya. Saya kemudian malah terkejut saat diberi tahu bahwa ada bonus dari Allah untuk dirinya. Bahwa ternyata ia telah menikah sesaat setelah dirinya diwisuda. Seorang dosen dari IPB telah berhasil memikat hatinya. Subhanallah dengan kondisi seperti ini, Melly masih sanggup menikah dan yakin bahwa keadilan Allah adalah nyata.Saya kemudian bertanya-tanya inikah yang dijanjikan Allah tentang orang-orang yang bersabar, tentang kisah orang-orang yang memakai akalnya untuk berfikir, bukan untuk kecewa.

Betatapun Hancurnya Kita, Yakinlah Allah Tetap Bersama Kita.
Ikhwah fillah, ada satu fase dalam hidup kita, betapa kekecewaan bisa menghadapkan kita pada jalan kenistaan. Kadang ujian dan cobaan Allah menjadi buah bibir kita atas sumpah serapah kita kepada Allahuta’ala. Ikhwah fillah, sadarlah, Allah akan menguji kita di titik terlemah kita. Allah akan menyentuh di bagian terpenting yang menjadi ciri ketidakberdayaan kita. Apakah itu kehilangan anggota tubuh kita, kehilangan fungsi tubuh kita, hingga kehilangan daya tubuh kita. Namun yakinlah ikhwah jika itu tidak dapat kita tanggulangi dengan hati jernih, bukan tidak mungkin hal itu akan berdampak pada konten yang lebih dalam lagi. Dimulai dengan kehilangan iman kita, kehilangan fungsi iman kita, hingga kehilangan daya iman kita. Namun yakinlah ikhwah, sekalipun Allah menguji di titik terlemah kita, Allah tidak akan tega membiarkan hambaNya sampai betul-betul menjadi lemah.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Al Baqoroh 286)

tulisan: Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi
ah, malu sekali..
malu sekali........
T.T
eh iya itu judul sebikin bikinnya saya,bukan judul aslinya :D

Rabu, 01 Agustus 2012

kecewa

"Bagi manusia, hidup ini juga sebab-akibat, Ray..
Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa..
Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu..
Saling mempengaruhi, saling berinteraksi.
Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar..
Indah! Sungguh indah! Sama sekali tidak rumit!" (Bidadari Bidadari Surga, hal 63)

kadang, aku ingin tertawa
begitu mudahnya orang berprasangka..
aha, aku sendiri juga sering, terlampau malah

kadang, aku nyaris terpingkal
begitu mudahnya orang sakit hati
ah, apa bedanya dengan diriku?tak ada

kadang, aku hampir tergelak
mengapa mudah sekali orang kecewa
pada yg memang tempat alpa dan tak pernah sempurna
nah, kau sendiri?
jawabku: aku jarang kecewa, tapi lebih sering mengecewakan -__-

kadang, aku mulai cekikikan
mengapa banyak orang sok tahu
mengira-ngira, yg parahnya semua perkiraan buruk
ah, hati..kau masih ditempatmu?

kadang, aku berpikir..
bisakah kecewa menjadi ladang ibadah?
bisakah?



jika kau masih kecewa,
pilihlah salah satu, aku atau kau yg secepatnya pergi saja dari bumi
ramadhan-hampirpurnama

Senin, 06 Februari 2012

untuk ummiku

Bismillah..
rasanya lelah terus berkeluh..
ummi..
aku hanya ingin menuliskan sebait nyata, episode yg (mungkin) perlu kau tahu..

aku hampir memasuki semester enam ummi.. apa ummi pernah menyangka, bahwa aku akan mencecap pendidikan formal sampai sejauh ini duluu?
dan untuk lima tahun terakhir ini..
maafkan aku, dan hanya itu yang bisa kusampaikan: maaf

rasanya hari ini tak hanya dingin ditanah pasundan, tak hanya keriput dihati, menciut dan mencicit semakin kerdil..
rasanya hari ini tak hanya tampar, pahit, sesak..juga sakit..

ummi.. aku benci dengan aku lima tahun ini..
atau kah justru lima tahun ini aku tlah 'menjadi diriku sendiri'

diriku sendiri yang kenyataannya: tak mampu

aku tak sanggup untuk menyampaikannya padamu ummi.. bahwa aku sangat bodoh dan tidak mampu

aku bukan kebanggaanmu dan entah kapan bisa membanggakanmu..
apalagi..
yaa..apalagi untuk... membahagiakanmu..

lalu..aku hidup untuk siapa?
sementara.. (bahkan) sampai detik ini aku tak sanggup sendiri, tanpamu..

lalu aku selama ini mengejar apa? jika impianku untuk membahagiakanmu dengan menjadikanmu tak malu, menanggung beban terus2an karnaku saja aku tak mampu?

ummi.. aku beruntuk sekali memilikimu.. juga memiliki ibu..
tapi maafkan aku.. karna tak pernah ada bahagia yang kuselipkan untukmu.. juga ibu..

maaf..

sebelum berakhir hidupku.. aku akan terus berusaha ummi.. semampu-ku.. karna sungguh, bagaimana aku akan meminta lebih pada Rabb-ku..

well..hidup harus berlanjut kan mi, bu..
semoga..

#aku masih punya serpih2 harapan itu.. insyaAllah..

Jumat, 22 Oktober 2010

Merah Saga

Saat langit berwarna merah saga
dan kerikil perkasa berlarian..
(aku gugup..) gemetar mengirim sms "maaf" pada setiap orang yg kusayang
meluncur laksana puluhan peluru
terbang bersama teriakan takbir..
sms terkirim sudah...
semua menjadi saksi
atas langkah keberanianmu
kita juga menjadi saksi
atas keteguhanmu...
satu per satu membalas smsku
ada yg sekedar bertanya...ada yg jauh lebih peka...
Ya Alloh...firasat ini...perasaan yg semakin dekat
ketika yahudi yahudi membantaimu
merah berkesimbah di tanah airmu
sahabatku membalas sms-ku...
kemudian kami terlibat percakapan seperti biasa, bertanya "progres"
akhirnya kuungkap perasaanku..aku gugup.. dan aku sayang skali padanya
mewangi harum genangan darahmu
membebaskan bumi jihad palestina
perjuangan telah kau bayar dengan jiwa..
dia membalas..."hatimu selembut bidadari...itu yg aku tahu.."
syahid dalam cinta-NYA
aku tergugu...
rindu...
betapa aku sangat lemah..ya Robb..kuatkanlah..
dan Kau pastikan di akhir hidupku aku bersama-Mu.. kumohon..
.

Selasa, 13 Oktober 2009

Brother-2

Apakah kesabaran itu masih menyertaimu? pulang kapan? adakah cita itu tlah kau raih?... Terima kasih ya..untuk semuanya.. maaf juga..untuk semuanya… m-a-a-f.

Kamis, 16 Juli 2009

Permohonan maaf

Saya mau minta maaf kepada semua pembaca walaupun bacanya karena kesasar ke blog ini..^-
Sesungguhnya niat awal adanya blog ini adalah untuk media dakwah.. Tapi afwan, ternyata saya belum tau apa2..jadi blognya ya kayak gini..
Afwan karena saya cuma anak ingusan yang baru belajar.. Dan bagi saya.. Apapun dapat kita jadikan renungan, refleksi kehidupan dan tentunya sebuah pelajaran yang paling dapat kita pahami..
Maka, maafkan karena blog ini belum mewakili tiu semua..
Yah, walaupun belum banyak yang baca, sebelum blog ini terkenal saya minta maaf duluu:)
Selain itu.. saya mau minta maaf pada semua teman sekolah saya..maaf karena saya belum begitu berarti buat kalian.. pada bapak ibu guru saya dari TK sampai SMA maafkan semua keusilan muridmu yang satu ini..maafkan belum bisa membuatmu bangga menjadi guru bagiku..kepada sahabatku beruang madu..maaf karena aku tidak terlalu baik menjadi sahabatmu..maaf karena selama ini aku selalu banyak berharap dan sedikit memberi.. Pada kakak kelasku, mas Pr. maaf atas semua tingkah saya yang kekanak-kanakan, maaf atas semua sikap saya yang menyakitkan.. Pada ukh UK, maaf atas semua kelancangan mulut ini berkata-kata..
Dan tentunya saya memohon maaf pada Sang maha Memaafkan.. maafkan hamba yang belum bisa menyampaikan permohonan maaf ini secara langsung..