Kamis, 24 April 2014

Bertahan

Bertahan

by Azhar Nurun Ala

Terberkatilah mereka manusia-manusia yang merdeka—siapa saja yang telah berani melangkah dari masa lalu, bahwa memang tak seharusnya kita terus menangisi apa-apa yang telah terjadi. Terberkatilah kita yang telah jauh berjalan hingga ke titik ini—titik di mana kita hanya bicara tentang hari ini dan hari esok, sementara hari-hari yang lalu hanya sesekali kita tengok untuk kita tertawakan, untuk kemudian melaju lagi jauh ke depan dengan ritme yang lebih cepat.
Kita pernah terseok, terjatuh, juga terluka hingga tak henti-hentinya berair mata. Kita pernah ceroboh melakukan hal yang bodoh, keliru, juga melakukan begitu banyak dosa sampai-sampai merasa tak layak lagi hidup di dunia. Tapi hidup adalah perjalanan, bukan? Dan di dalam perjalanan itu memang jalan tak selamanya mulus: ada jalan menurun dan menanjak di sana, ada kelokan-kelokan biasa hingga tajam, ada cabang-cabang jalan buntu yang menipu, ada godaan-godaan untuk melupakan arah tujuan yang membuat kita hanya menikmati saja semua yang tersedia, ada cacian-cacian yang memuakkan, ada juga rasa lelah yang dengan terampil kita dramatisasi untuk kita klaim ‘aku telah berusaha sekuat mungkin’ lantas kita duduk menyerah—kita pasrah seolah-seolah ketakberdayaan yang kita rasakan adalah anugerah Tuhan yang tak tertolak. Setiap perjalanan punya dinamika masing-masing, dan kabar paling baik dari semua kenyataan ini adalah bahwa kita tidak pernah sendiri.
Meski aku tak selalu di sampingmu, bukankah Tuhan begitu dekat dan selalu ada?
Jadi bertahanlah.
Percayalah bahwa beban yang kini tengah kita tanggung ada dan hanya akan ada atas izin-Nya. Percayalah bahwa bekas-bekas luka yang pernah tercipta akan membuat kita selalu sadar bahwa kita memang manusia biasa, sekaligus menjadi pengingat dan pelecut semangat kita bahwa perjuangan—apapun bentuk dan tujuannya—selalu membutuhkan pengorbanan. Yakinlah bahwa segala bentuk ketertekanan yang kini tengah menderamu, adalah cara Tuhan untuk membuatmu lebih kuat—memaksamu meangoptimalkan semua potensi yang ada karena tiap kita punya benih untuk menjadi hebat. Tiap kita punya kesempatan untuk menjadi juara.


karena tiap kita punya benih untuk menjadi hebat. Tiap kita punya kesempatan untuk menjadi juara.

kamu bukan bocah (kecil) lagi

...

....

...

jika ada doa yang mengancam, mungkin akan ada doa yang menggugat

"kenapa aku"

"lah,kenapa bukan kamu?"

inget posisimu adalah hamba, jalani yang menjadi jatahmu, selesaikan yang menjadi bagianmu, hadapi, hadapi..

ayo kuat! kamu bukan bocah kecil lagi yang bisa cari perhatian dengan 'nakal' terus-terusan
kuat!! selesaikan jatah hidupmu..

DIA yang paling tahu kok bagaimana kamu

kuatlah!
dan husnudzonlah..

ayo bangkit, move on, kamu bukan bocah kecil lagi yang bisa teriak2 nangis biar dikasih permen..

"permintaanku sederhana, kenapa aku harus membayar mahal sekali untuk permintaan sederhana yang DIA berikan GRATIS pada banyak orang?!!, kenapa aku? kenapa aku?"

"aku sudah dibatas, aku tak bisa meneruskannya, mungkin setelah ini aku akan gila"

hei heii.. hush..
pasti ada maksudnya, pasti RENCANA-NYA SELALU YANG TERBAIK

kuatlah..
ayo..


23 tahun, adakah definisi itu jelas bagiku
bolehkah aku menggugat-Mu?
*astaghfirullah*

sudahlah,
ayo..
kamu bukan bocah kecil lagi.. se-le-sai-kan jatahmu didunia
pasti ada jalan,
semua akan indah pada saatnya
rencana-Nya selalu yang terbaik
kamu hanya belum tahu saja.. kamu hanya sedang di-uji oleh-Nya..
sudahlah,
ayo..
kamu bukan bocah kecil lagi

S-T-R-O-N-G
#ntms kalian tahu #ntms kan?
note to my self, bukan NOT to my self
:p 

Rabu, 23 April 2014

Perempuan (cerpen by Tasaro GK)

Di mana lagi aku temui perempuan semacammu? Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar kepadaku.
Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu? Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu.
Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu? Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata.
Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari perempuan seinspiratif dirimu? Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram yang engkau pilih sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal penyatuan kita dulu. Hanya itu. Karena aku memang tidak punya apa-apa.
Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu? Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari. Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe, cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling indah sepanjang pernikahan kita. Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kaumenyambutku dengan tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi.
Kita bahagia. Sangat bahagia?.. Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang tingkah anak-anak tetangga? Kala itu kita begitu menginginkan hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak bertahun-tahun sebelumnya. Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey?
Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan kata-kata sebisaku, “tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak apa-apa.” Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan kepadamu, “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih muda.” Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu, lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya di depan rumah kita yang sepetak. “Yang dalam, Kang. Biar nggak digali anjing.”
Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu? Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih di tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. “Kang, Mimi ke Ujung Berung, jual cincin.” Cincin yang mana lagi? Engkau sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing. Terutama ? untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang, dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu, tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang membawa uang. Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan lain seperti dirinya?
Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.
Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri.
Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia. Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna, kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku? Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk perjuanganmu melahirkan anak kita? “Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa. Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi.” Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas. Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen. Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.
Kaumencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu. Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. “Terus kamu kenapa masih di sini? Pulang saja,” kata atasanku ketika itu. Engkau tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya “tentara kecil” kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi, tidak. Atasanku bilang, tidak. “Pulang saja,” katanya. Baru kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu. Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu. Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.
Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kaumulai merasakan mulas, semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat. “Istri saya akan melahirkan,” kataku yakin.
Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan aku menolak untuk meninggalkanmu. “Dulu ada suami yang ngotot menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan,” kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu. Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku. Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan, sementara “tentara kecil” kita tak pula mau beranjak. “Banyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan. Tapi anak ini kakinya melintang,” kata dokter. Aku berusaha tenang. Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi wajah berpeluhmu,Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi. Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu.
Aku akan mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena ingin membuatku bahagia. “Sudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga,” bisikmu persis di telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati, rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata bagi hidupku. Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis di telingamu, “Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu selama 5 tahun. Hayu semangat!”
Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu, ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, “Kenapa saya, Tuhan! Kenapa kami?” Sebab, Tuhan akan menjawab, “Kenapa bukan kamu? Kenapa bukan kalian?” Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. “Semua akan baik-baik saja.” Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup. Seandainya aku boleh mendampingi operasimu?. Tapi tidak boleh. Aku menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha tersenyum, tetapi sendirian. Tidak ? tidak terlalu sendirian.
Ada seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, “Aku ada di situ, menemanimu.” Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali, ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. “Apa kepala bebalmu tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!” Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara terindah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. “Ini anak Bapak?” Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang sangat senior. “Selamat, ya. Bayinya laki-laki.” Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya, Allah?.bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan oleh semua kata yang ada di dunia???
Makhluk itu terpejam tenang semacam malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat. Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan. Ingatanku kembali kepadamu.
Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari, dan saudara kembarku. “He is so cute,” kata SMS ku kepadanya. Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta. Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku, dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita. Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit getaran di bibir.
Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di dunia ini. Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari. Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya tangisnya tak meledak-ledak. “Terima kasih, Kang,” katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus, Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus sedunia? Lalu ke mana kata “terima kasih” yang seharusnya kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata “terima kasih” mu itu membuat wajahmu semelekat maghnet paling kuat di kepalaku. Mengurusimu dan bayi kita.
Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan. Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada waktu bersamaan.
Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50 cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang, jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak ada duanya di dunia.
Ada bisik bangga, “Ini anakku? anak laki-lakiku. ” Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya kelak semembentang hatimu. Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah. Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad: YANG TERPUJI? dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian, pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji? mulia?dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey?
Ini menjadi awal yang indah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu. (persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang samudra)

husnudzon pada ...

harus saya akui, saya masih suka takjub dengan segala kebaikan yang orang sandang, atau yang bisa orang lain lakukan.. ya, saya takjub karna saya ga bisa lakukan hal yang sama
misalnya, saya suka takjub dengan seorang mba yang bisa melakukan 'hal-hal hebat' dalam pandangan saya, menyelesaikan masalah beruntun dengan segera, sigap mengambil sikap, nggak lola, nggak bingungan, cerdas, juga karismatik! sering muncul dalam benak saya, "kok bisa sih beliau lakukan itu? kok saya nggak bisa sih?"

teman2 ada yang pernah ngrasain seperti saya begitu?

harus saya akui, saya masih kurang sekali dalam menghusnudzoni diri sendiri.. padahal ia punya hak untuk dihusnudzoni..
misalnya, ada seorang kawan yang cerdas, berkali2 menang lomba karya tulis, atau kawan lain yang dapat beasiswa, atau kawan lain yang memang cerdas..tampak dari gaya bicaranya, cara memandang masalahnya..
dan selalu berakhir:"kok aku nggak bisa begitu?" -_-

padahal.. padahal
diri kita berhak untuk dihusnudzoni baik
karna Allah menciptakannya dengan sebaik2 penciptaan, tak kurang. sebaik-baik penciptaan

Allah.. karuniakan.. karuniakan kelezatan dalam berbakti kepada-Mu..
karuniakan kelezatan yang melebihi apapun paling lezat di dunia..

see you next time
-bersambung

hari bahagia uda :')

saya tidak tahu bagaimana mekanisme semesta mengatur hubungan antar personal, seketika cocok, seketika cinta, seketika terasa dekat. atau bahkan sebaliknya, sering membersamai tapi tak kunjung saling mengerti, atau yang wajar2 saja, kedekatan, kecocokan linear dengan frekuensi kebersamaan dan rentangwaktu mengenal.
beberapa orang, saya rasakan begitu dekat seolah seperti bagian dari keluarga saya, dekat dan menjai bagian penting dalam hidup saya
beberapa dari mereka adalah mba syifa, murabbi pertama saya, luar biasa saya merasa dekat dengan beliau, padahal siapa saya? anak kampung yang sering bingungan. tapi sempurna ketika bertemu mba syifa, semua luluh menjadi embun, berada di dekatnya begitu nyaman, seperti seorang bayi dalam pelukan ibundanya.
selanjutnya adalah mba dian, mengenalnya dalam waktu yang singkat..sudah terasa dekat, bahkan saya berani bercerita tentang sesuatu yang pribadi yang saat akan saya ceritakan ke mba syifa tercekat..saya hanya pelan berbisik, mba dian tahu maksud saya, saya malu-malu sekaligus prihatin memulai bicara..mba dian tahu dan menepuk pundak sembari bilang, "sebaiknya, ikhlas dulu saja dek..kita tidak tahu sedasyat apa rencana Allah atas hal2 yang kita tak tahu"
selain mereka adalah seorang sahabat yang hari ini melewati satu tahap menuju kelulusan strata satu nya, ya, Refa. pertemuan dengannya "yg serba kebetulan" membuat saya mengingat jelas detailnya dan sangat membekas dalam hati saya. belum lagi pemahamannya yg mendalam dan tak terduga yang sering menyadarkan saya, dia adalah guru bagi saya meski usianya jauh dibawah saya. saya mencintaimu karna Allah fa.. :)
selain mereka, mungkin kalian sudah membaca salah satunya: mas raka ya, mas raka itu nama samaran, nama aslinya mas ivan, haha. satu tahun mas ivan seperti kakak bagi saya, tidak sekedar 'kakak2an' yang suka buat alibi orang2, sungguh menjadi kakak laki2 bagi saya. ya,mungkin kalian cannot imagine ya, tapi seumur hidup saya merasakan punya kakak laki2 ni ya sama mas ivan
selanjutnya alqaan, kalian tahu alaan? dia adalah ketua rohis 1 di sma saya. well, sebenarnya kami tidak terlalu dekat,you know well lah, masa ikhwan akhwat anak rohis dekat *wkwkwk* tapi harus saya akui, alqaan ini seseorang yang pandai menjaga hubungan persaudaraan. dan sepertinya definisi hubungan persaudaraan kami saat ini tidak lagi soal hijab ikhwan-akhwat itu, bagi saya dia salah satu saudara dalam lingkungan ikhwah yang terbaik, saya belajar banyak tentang pemikirannya, caranya menciptakan solusi, walaupun harus saya akui sebenarnya dia termasuk kategori ikhwan menyebalkan dan sedikit 'tampak modus' kalo ke akhwat (ampun qaan,hha)
selain itu?banyak. sebutin nggak yaa.. :D banyak, saya belum kepengin ngebuka-nya :p sabar aja ya..ekekeekekk

dan hari ini salah seorang dari mereka: uda Dendhy..saudara yang saya kenal di IMTPI, manusia minang..melangsungkan hari bahagianya.. uda, belakangan saya memanggilnya begitu, cocok dengan darah minangnya yang kental. kami hanya bertemu di lampung saat munas dan d purwokerto saat rakornas, tapi cukup banyak hal yang kami rencanakan untuk gerbong wajihah yang kami masuki itu.. walaupun rentang perjalanan memberi lebih banyak pembelajaran :')
dan seperti saya bilang diawal, kadang saya tidak mengerti bagaimana mekanisme semesta mengatur semua ini, uda seperti keluarga dekat sendiri.. barakallahulakum wa baraka'alaikum wa jama'aa bainakuma fii khair.. samarada sampai jannah ya uda :D



uda doakan kemudahan dan keberkahan dari allah untuk mu dek,, dalam skripsi dan kehidupan setelahnya... satu pesan dari uda untuk mu dek, skaligus apa yg pernah uda rasakan stlah mnjalani ini...
tetaplah selalu ber prasangka baik ke allah dan sekitar.. karna banyak kebaikan yang hadir setelah kita melakukanya

pernah suatu hari uda menegur saya karna saya pesimis dengan sesuatu yang saya inginkan, yang saya cita-citakan, katanya: "optimislah, jangan pesimis begitu.. suka-suka Allah hendak apa, yang penting kita usaha"
ah uda... :'(
maaf belum bisa kesana,
mungkin juni.. doakan juni bisa sekalian kesana..
ketemu uda dan istri -akhwat shalihah itu-.. insyaAllah :)

"perjuangannya sulit betul dek" 
hahaa. pada akhirnya uda dapat juga kan? bravo uda (y)

saya bersyukur dipertemukan dengan mereka.. membuat saya merasa sungguhan punya banyak sodara ^^9

Selasa, 22 April 2014

kuat, semangat!

pengin nulis banyak,
tapi bingung mulai darimana

pengin nyemangatin banyak orang
hati2 yang menunggu untuk disentuh

pengin nguatin banyak orang
pundak2 yang mulai ringkih dan merapuh sendiri

tapi,aku bingung mulainya darimana

apalagi dengan kondisi yang sama: butuh disemangatin n dikuatin :p
jadi makin susah buat ngeluarin kata2..

berharap, smg kita syahid n husnuk khotimah ya..
di jalan yang Allah ridhoi..
dengan jatah masing2 di dunia yang Allah beri..

berharap, smg kita nanti reunian, sambil mengenang banyak saat di dunia
berbahagia disana..
ya, disana..yang mengalir sungai2 di bawahnya

tetep kuat ya!

banyak yang sayang..
jika semesta sedang menyembunyikan
selalu ada Allah, selalu ada Allah..


7 kejutan dalam sehari
apapun yang terjadi, smg tetap kebaikan yang mengiringi
Allahu Rabbi..betapa lemah kami tanpa penjagaan dari-Mu
~menjelang ramadhan, lets GO! Move ON!

Senin, 21 April 2014

ruang yang kau sediakan #2 [serial tifani dan azzam]

gadis itu hendak beranjak ketika tiba-tiba ekor matanya menangkap seseorang yang begitu dikenalnya sejak kecil.
azzam! ngapain dia disini?! huuh. gerutunya.

yang ditangkap oleh ekor mata justru sudah menyadari sejak lama, dan ketika gadis itu (namanya tifani) sempurna menolah, azzam sudah nyengir melihatnya.

"dari tadi lu ngliatin gue?" semprot tifani langsung.

"iya, hahaa. muka lu kocak. ada hal 'berat' yang lagi lu pikirin ya fa?"

"heu -.-, dasar profesor sotoylogi"

"gue serius nanyanya fa..."

"jawab dulu pertanyaan gue: ngapain lu ada disini sekarang?"

senyum manis. hal yang azzam lakukan ketika menyembunyikan sesuatu.
"gue lagi ngecek frekuensi kita aja fa..haha, masih se-frekuensi ternyata, buktinya gampang banget gue nemuin lu disini"

mm, tifani diem sejenak. tumben bahasanya azzam rada berat.
 "ga ngerti gue sama maksud lu zam"

"yaelah ujubune tifaniiii!!, lola lu peliara ye.. hahahaa" azzam kabur dan mengambil kunci motor tifani..

"eh, itu motor gue!"

"gue pinjem dulu dah..ada urusan bentar"
sebelum tifani lanjut protes azzam buru2 klarifikasi: "tenang, cuma bentar kok shalihah sahabatku.. lu tunggu aja di cafe cokelat sebelah ye, gue yang bayar dah"

tifani nggak punya pilihan, dia percaya sama azzam walaupun rese luar biasa sahabatnya itu.
yang membingungkannya adalah: "buat apa azzam ada di kota ini sekarang? ada urusan apa dia? dan kenapa tepat disaat semua ini sedang dihadapi tifani.."
ah, mending gue minum cokelat dingin aja, daripada mikirin maksudnya si azzam. ntar gue tanya baik-baik dah ke dia..biasanya kan juga gitu, hehee "husnudzon selalu lebih baik" pikir tifani sambil cengar cengir
dan ada sms masuk dari azzam, isinya singkat "pesenin gue cokelat panas ya,haha"

---
benar, memang tidak lama, sekitar 10menit sejak sms pesan cokelat panas itu, azzam sudah kembali.
dikota ini, waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, jam 8 malam.
tifani memang memiliki kebiasaan tertentu saat terjadi hal tertentu,
ya, dia akan mendatangi tempat yang nyaman dan bisa membuatnya rileks. dan disanalah azzam sengaja menunggu tifani dan benar saja, mereka bertemu.
persahabatan yang unik. karna sebenarnya secara intensitas komunikasi, mereka terbilang cukup jarang.

tepat cekelat panas baru tersaji..
azzam mengambil tempat duduk semeja dengan tifani, yaiyalah..emang mereka mau ngobrol pake toa -__- heu, emang mau ngobrol ya..

2 menit yang hening.

"fa.."azzam membuka percakapan
"gue emang sengaja kesini mau nemuin lu, gue tahu tempat mana yang bakalan lu datengin" jeda lagi. azzam emang pinter bikin orang penasaran, denger2 di tempat kerjanya sekarang dikota besar, dia sering diminta buat mengisi suatu aja bertajuk motivasi
 "kenapa lu nggak cerita buat urusan segede ini ke gue?"

erg -,- tifani kaget

"urr..urrusan apaan zam?"

azzam pasang muka 'wew'... "udah minum cokelat tetep lola aja lu"

gue timpuk juga dah ngatain mulu.gerutu tifa

hahahaa. mereka tertawa sejenak bersama.

tifani ambil napas panjang, azzam kira..bakal ada yang dia ceritain, ternyata tifani bener2 cuma ngambil napas panjang. dasar! oke kalau hari ini mungkin jatah gue yang banyak ngomong pikir azzam

"tifa...lu jelas bukan orang lain lagi bagi gue, gue pikir lu juga tahu..
dan gue juga mungkin bukan oranglain buat lu, kita dah kenal dari kecil. walaupun jarang ketemu atau ngobrol, gue akui..sejauh ini, teman terbaik gue ya lu fa..mungkin hal yang sama juga yg lu rasain, he'eh.."azzam sadar banyak kalimatnya yg aneh, dia cuma garuk2 kepala aja.
"jadi..nggak mungkin gue akan biarin lu ..erg..gue kesulitan cari kata2 yg tepat. jadi nggak mungkin gue akan ngebiarin lu nggak bahagia,hehe hehe" lega,azzam menyelesaikan kalimatnya. fiuuhh

tifani nyengir, lu lucu amat zam..
"..gue baik2 aja, lu ga usah khawatir. menghela sejenak, tifani meneruskan, "gue cuma belum dapet jawaban terbaiknya"

"kalau boleh gue tanya" tetiba azzam menyela
"sebenernya lu yakin nggak dengan semua ini?"

tifani menunduk, ah, dia nggak mau terlihat berkaca di depan azzam, sekalipun azzam adalah teman terbaiknya.

"tifa..."

nggak bisa nahan, tifani akhirnya sesegukan

gue rasa sebaiknya semua ini diselesein, tapi azzam menahan untuk tidak mengatakannya, dia mempertimbangkan keadaan tifani sekarang

"tifa...lu harus hadapi ini..lu harus berani"

"gue udah sampein zam, gue udah bilang, tapi nggak ada satupun yang menggubris, bahkan dia sekalipun"

sial.bagaimana aku bisa percaya pada orang seperti itu. azzam berpikir.
"kalau gitu, sebaiknya lu ambil jalan sendiri aja secepatnya"

"hah?! maksud lu zam?"

hem -_- kebiasaan lola
"maksud gue, lu segera urus proses sama yg lain"

"apa-apaan lu zam, gue belum siap lah!" protes, tifani mulai nggak suka, azzam terlalu ceplas ceplos.

"tifaaa! itu satu-satunya solusi. gua nggak mungkin ngebiarin lu sama dia, dengan sikapnya sekarang aja gue udah tau bakal seperti apa sikapnya nanti, walaupun mungkin dia punya ribuan alasan untuk diterima, karna lepas dari sikapnya sekarang, gue tahu dia penuhi semua kriteria baik"

"itu bukan solusi satu-satunya"
erg...maksudnya?
"gue pegang sebuah kunci, dan kunci ini bisa membuka 3 pintu sekaligus. sekarang gue lagi usaha ngedapetin kunci itu untuk berfungsi..
..insyaAllah semua bisa clear gue selesein kalau 1-2 bulan kedepan bisa gue lewatin"
tifani senyum

azzam juga tersenyum, tapi tidak sepenuhnya dia lega. azzam tahu betul tifani, bisakah tifani menyelesaikannya?

gue harus tetep keliatan tenang di depan azzam, berabe kalo azzam ikutan andil di urusan ini,makin runyam ntar, tifani mbatin.

"yayy!! jadi lu kesini cuma buat nanyain aku soal ini zam?ampun dah..penting banget gue buat lu yak, ekekek"

"heu,sambil ada kerjaan sebenernya gue kemari" sambil ngasal azzam jawab
"tifa, gue serius nih..lu benerin bisa ngatasin ini?"

"yap" tifa meyakinkan sambil senyum lebar, itu ekspresi tifa yang paling meyakinkan memang

"hmm. oke lah, mungkin aku bisa balik malem ini ke kota"

"hui..cepet amat zam"

"ya,mau apa lagi, itu pilihan lu fa.. gue tahu, ini semua terasa berat buat lu, gue pengin ikut bantu ngringanin beban lu, sebagai sahabat dan teman terbaik. tapi tampaknya,kali ini gue juga mesti ngerti, gue paham..lu tetep mau jaga izzah lu sbg seorang muslimah, sekalipun itu sama gue..laki2 bukan mahram yg saat ini mungkin paling kamu percaya, hehe
baiklah, see you next time tifa, jangn lupa kabarin gue. dan satu lagi, gue siap jd konsultan kapan aja :D"
azzam beranjak..

secepat itu.. tifa tertegun
sebenernya,siapa sih ini yang lagi nyembunyiin sesuatu? fiuhh.
tifani juga berkemas, pulang.

Jumat, 18 April 2014

mauuu [end]

masih ingat dengan postingan saya yang ini? hehee :D

pemberitahuan, saya sudah baca
semoga ga kayak tegar atau rossie
ribet, kayak ga kenal tarbiyah aja hidupnya :p

tapi kalau kayak jasmine, bahkan lily, ga masalah lah.. :)

lumayan jadi inspirasi namain anak2 sepaket gitu: anggrek, sakura, jasmine, lily dan emaknya namanya rossie dan bapaknya namanya tegar karang.
emang dasar pengarang,
bang tere, bang tere.. gue mau bikin novel juga ah

*sepertinya saat semua ini ditulis, saya lagi nge-lindur :D

adios

nasehat #2

kali ini, izinkan aku memberi nasehat padamu dik
mungkin jarak kita tak terlalu jauh, dua, tiga atau empat tahun saja
izinkan aku, yang terlalu banyak cela ini memberi nasehat.. sedikit dan mungkin untuk terakhir kalinya..

jangan pernah melihat satu hal hanya dari satu sisi dik
karna satu hal itu bukanlah sebuah benda satu atau dua dimensi saja,
kau harus melihatnya, memikirkannya, memandangnya dengan objektif dari berbagai sisi..

dan jangan seperti natrium yang sangat reaktif..
spontan dan reaktif itu perlu, tapi jgn sampai seperti natrium ya.. yang terlewat reaktif sehingga sangat mudah meledak dan menghancurkan semuanya
aku khawatir.. itu juga akan menghancurkan keping2 persaudaraan, antara kita, antara kalian
menghancurkan kepercayaan, bahkan yang lebih parah menghancurkan cinta
dan semuanya berubah menjadi zombi..bergerak tapi tak ada nyawanya
seolah hidup tapi sebenarnya mati
terlihat tertawa padahal sama sekali tak bahagia

kunasehati kau dik..sedikitlah turunkan egomu.. agar kebahagiaan itu awet bersamamu sampai kau mati kelak
kau tahu dik? iblis begitu senang dengan perpecahan, ia-iblis- begitu bahagia melihat ketercerai-beraian.. kau ingin iblis terus terbahak sementara dadamu semakin terasa sempit? tidak-kan-dik?
cobalah buka perasaanmu, dan hatimu, dan mata juga telingamu..
kami dan kita semua mencintaimu..

kau tahu dik? hal apa yang membuat seseorang menjadi bahagia?
ialah saat seseorang merdeka sekaligus memerdekakan, ia bahagia sekaligus membahagiakan..
itulah kebahagiaan sejati

dan kau tahu apa makna kemerdekaan bagiku (dan mungkin bagi banyak orang)? ialah dengan MENJADI DIRI SENDIRI. biarkan kilaunya menjadi pembeda, berkilau dan saling mencahayai..
ada yang menegurmu dik karna sifatmu? bukankah itu wajar?
ada yang mengomentari kebiasaanmu dik? bukankah itu hal biasa?
tak semestinya hal itu menghancurkanmu, menjadi berkeping-keping, sampai2 sekitaran tak lagi mengenalimu..
kembalilah dik..
bebungaan layu tanpa senyum cerahmu tahu :p


~lepas subuh, lewat purnama jumadil tsani 1435 H
griya IM

note: maafin gua ya Nat, gua udah ghibahin elo #ngomongsamanatrium

yang salah #3

sebelumnya tidak pernah terpikir akan muncul pikiran seperti ini dikepalaku
pikiran bahwa semua ini lebih baik kutanggung sendiri, tanpa siapa2,
tanpa 2 oranglain yang menjadi bagian teramat penting dalam hidupku
tanpa kasih sayang dan ketulusan mereka yang sering membuatku menjadi merasa telah salah

jika semua ini kutanggung sendiri..sakit itu hanya akan menghujam hatiku
sekarang nyatanya ada dua hati lain yang telah turut merasakan apa2 yang kurasakan
dan semua ini telah menyakitinya, aku tahu itu. dan itu sungguh sangat menyiksa

kenapa tak biarkan saja aku tanpa sesiapa saja?
kenapa tak biarkan saja hidupku dan hidup 2manusia itu tak bertemu menjadi bersama?
kenapa..biar kutanggung sendiri saja semua! aku tak pernah kuasa menyakitinya lagi, berkali kali lagi

jika dua hati itu memang milikku, tentu tak akan seberat ini
dua hati itu adalah beda yang kini bersama dalam hidupku
yang telah mengambil alih semua peran kasih sayang dan tanggungjawab atas hidupku
bagaimana aku kuasa kembali menjadi "durhaka"?
pernahkah dalam hidupku 23 tahun terakhir persembahkan yang terbaik bagi keduanya?
pernahkah dalah hidupku 23 tahun terakhir menjadi bahagia nya?
pernahkah?
kurasa tidak.. dan aku sepertinya ingin menghilang -_-

yang salah adalah..
betapa sulit dan beratnya menyandang status ini, sebagai buah hatimu
dan mungkin lebih sulit dan berat lagi bagimu
menyandang status sebagai orangtuaku


adios

yang salah #2

sudahlah..

bulan lalu bukannya sudah down, kalau sekarang berpikir hal yg sama nanti kamu down lagi..

aku menceracau mendengarkan nasehatnya, seperti biasa, eh -__-

tidak ada pilihan lain selain dihadapi bukan?

erh..eh..iya

sabar saja..
dan ayok dikerjakan lagi.
:)

dia menyemangatiku lagi, sempurna menggenggam hatiku
mungkin kelakuan2nya yang seperti inilah yang membuat api cinta itu terus menyala, dalam keadaan seperti apa jua

selama rentang perjalanan..akan banyak hal yg mjd sebab sebuah api padam,
entah itu dingin, deras hujan, badai, bahkan tepukan tangan sendiri yang teledor

dia menyemangatiku lagi, sempurna menggenggam hatiku
sempurna menunjukkan identitasnya sebagai seorang yang tangguh dan muslimah yang kuat

pernahkah aku melakukan hal serupa pada orang lain? atau manusia2 yang kukasihi?
kurasa tidak. dan aku tertohok. kualitas iman dan strata amalku sungguh masih jauh dari harapan.
ampuni hamba ya Allah..

terimakasih ya sayangku :*



ket, judulnya apa,kamu cerita apa -.-
ah ya..itu judul nya..
yg salah memang sepenuhnya saya, diri sendiri
harus ngaku, emang salah. dan nyesel..dan nyesel banget. ya Allah .. T_T

Rabu, 16 April 2014

Mas Raka [end]

saya akan melanjutkan tulisan tentang mas raka ini, mungkin ada yg penasaran *hehe,muka datar*
inget tulisan yang ini? ya, sedikit melanjutkan, biar pada tahu sekarang gimana kabar beliau. penting ket? buat saya penting :D
oke, baiklah..biar ga salah paham, saya termasuk orang yang mudah memberikan apresiasi pada siapapun, musuh sekalipun..bisa saya berikan penghormatan tinggi, ya tergantung orangnya sih. ceritanya mas raka ini, cukup berpengaruh dlm hidup saya, terutama masa2 awal di kampus sebagai mahasiswa.

beliau mungkin termasuk senior, saat saya dan 2 orang teman saya yang lain akhirnya bersepakat untuk memilih sebuah rumah menjadi tempat tinggal kami sementara.
ketika saya maba, mas raka dan kedua temannya yang lain sebut saja mas galih dan mas wayan, mereka bertiga sudah masuk tingkat 4. bagi kami yang masih maba saat itu, beliau2 ini adalah senior sejati..suka nasehatin n tempat kami ngadu, hahaa. singkatnya dari hal kecil sampai servis komputer sekalipun, urusan kita diurusin sama mas2 ini.
tapi tentu saja, porsi interaksi kami paling banyak sama mas raka, beda dengan 2 temannya, beliau tidak termasuk aktivis, ^^
kami sering denger cerita2nya, sering dibilangin ini itu, sering juga diajak debat dan ribut. rame.. kami dikasih solusi pas kesulitan mau solat jamaah karena kondisi rumah -yg begitulah-, dan kami juga ditunjuki jalan kesini dan kesana..
tanpa sadar, sebenernya kami sering meminta pertimbangan pendapat atau lainnya, tanpa sadar kami memang sudah seperti adik2 yang harus ditanggung beliau, haha.
dan dari kami bertiga yang tidak pernah merasakan hubungan persaudaraan tentu siapa lagi kalau bukan saya, maka saya takjub dengan semua mekanisme yang terjadi, kok bisa? karna menurut saya, diluar hubungan pertemanan atau yang lebih serius dari itu, tidak ada -atas nama persahabatan-. ya, memang kami tidak bersahabat sih, kami bertiga bahkan berempat dengan mbak kos kami, dekat. cukup dekat seperti keluarga dengan mas raka. beliau selalu tulus menolong dan membantu kami, periang dan suka bercanda.

saya pernah meminta dijelaskan lebih detail tentang ashobiyah pada mas galih, atau bertanya tentang cahaya dan kegelapan, secara beliau orang fisika, walaupun pertanyaan saya sebenarnya lbh filosofis bukan saintis,hehe, kemudian diminta berkenalan dengan salah seorang adik perempuannya yang juga aktivis kampus senior tingkat 3 kala itu. saat orangtua menjenguk saya di kosan, orang yang paling ngiri adalah mas wayan, biarpun bukan anak tunggal beliau ini agaknya sama2 anak mamih kayak saya, hahaa. dan dengan mas wayan ini saya dan teman2 sering dapet cerita lucu tentang aktivis di kampus dari mulai perbedaan gerakan dan debat2nya yg sengit namun lucu, atau cerita kocak tentang ikhwan dan akhwat yg "pura-pura" menundukkan pandangan. hha, mungkin kapan2,hal ini bisa saya ceritakan terpisah :) (?)
dan mas raka ini..selalu tepat jahil saat saya homesick, biasanya saat homesick ibu kos yang akan memeluk saya dan ya-you know what i mean- saya nangis, sumpah cengeng banget.dan mas raka sebagaimana seperti kakak laki2 lain, mengatai dg girang..ujungnya berantem, persis kan kayak adegan di rumah? -_- diluar itu, mas raka ini juga sempurna menjadi kakak bagi kami, beliau pernah menggantikan sidang tilang saya, karna saya lagi ikut munas d lampung, memperbaiki motor kaze saya yang kadang eror, dan banyak lagi..bahkan hal2 baik itu dilakukannya pada kami hampir tiap hari.. :D
saya menyadari bahwa beliau2 ini sudah menjadi bagian keluarga bagi saya dan kawan saya pada 2 kesempatan, yang pertama adalah saat saya pulang dari lampung dan disambut 'heboh' keluarga kosan, ibu kos, teman2, termasuk mas2 ini.
singkat cerita kemudian kita makan bareng, mas raka tanpa sadar mengalir cerita begitu saja, tentang hidupnya, keinginannya, perasaannya, dan hubungannyadengan seorang wanita yang kami tahu sebagai tunangannya, seperti biasa dia bercerita riang,seolah semua sudah berlalu lama..dan saya emang dasar cengeng ya..menangis begitu saja mendengar cerita mas raka, mbak kos saya menepuk pundak, 2 teman saya yg lain mencibir *lu cengeng banget ket, yg ngalamin aja sante..
mas raka berhenti sejenak tidak melanjutkan ceritanya..tersenyum saja melihat saya, sambil bilang "lanjutin maknnya" hahaa..malu bgt guweh -_-

sampai suatu hari, hari kelulusan beliau bertiga.. kami semua senang, walaupun saya ga ikut ngrayain..lagi di kampus *tsah
iseng waktu lagi ke sekrenya mas galih, liat2 buku dan nemu skripsinya mas raka, huwaa..ada nama kami bertiga, plus dikasih c.S.TP, huks..terharu..ga bilang2..hahaa

dan hari ini..saat kami semua berpisah di tempat2 yang berbeda..
mbak kami yang sudah menikah, bekerja dan memiliki Ahza--putranya..
mas galih yang telah bekerja, menikah dan memiliki anak..
mas wayan yang belum nikah2 juga, hha
dan mas raka yang sudah menemukan cinta nya, setelah pernah terluka, luka yang membuat kami turut sedih.. semua memang indah pada waktunya, sebagaimana yang sering beliau sampaikan pada kami.. dan mas raka sudah menemukan momentumnya, barakallah kakak kami,,, *sungkem*
semoga nanti anaknya mirip dan kayak ibunya, bapaknya rese soalnya. hahahaa
dua karib saya yang satu sudah bekerja, dan yang  satu sudah berpulang..
saya? heu -__- detik ini msh d kampus, 2 bulan lagi insyaallah out:D

gaje ya? ga penting ya? biarin
saya ingin mengingat mereka...lebih lama..



terimakasih telah mengajarkan untuk tetap riang menatap kehidupan
bahwa semua akan indah pada waktunya
bahwa kesabaran adalah segalanya
bahwa kerja keras adalah bagian dari hidup ini
bahwa membahagiakan orang lain, adalah kebahagiaan sejati
bahwa belajar dan bekerja keras itu selalu beriringan
bahwa..hidup akan terus berjalan, suka atau tidak kita dengannya
terimakasih mas dan mbak dan kawanku semua..
uhibbukum fillah..

Idealis Pemimpi

Tipe Idealis Pemimpi sangat berhati-hati dan oleh karenanya tampak pemalu dan pendiam bagi orang lain. Mereka berbagi kehidupan emosional mereka yang kaya serta pendapat-pendapat kuat mereka dengan sedikit sekali orang. Namun orang sering keliru menilai mereka dingin dan pendiam. Mereka memiliki sistem nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang murni dan mulia yang menonjol di dalam diri mereka yang demi hal-hal itu mereka bersedia mengorbankan banyak hal. Joan of Arc atau Sir Galahad adalah contoh tipe kepribadian ini. Tipe Idealis Pemimpi selalu berusaha keras memperbaiki dunia. Mereka dapat sangat memikirkan orang lain dan melakukan banyak hal untuk mendukung mereka dan membela mereka. Mereka tertarik dengan sesama mereka, penuh perhatian dan murah hati terhadap mereka. Begitu antusiasme mereka akan suatu hal atau orang bangkit, mereka dapat menjadi pejuang yang tak kenal lelah.

Bagi tipe Idealis Pemimpi, hal-hal praktis tidak benar-benar penting. Mereka hanya menyibukkan diri dengan tuntutan-tuntutan harian yang duniawi saat benar-benar perlu. Mereka cenderung hidup sesuai dengan semboyan „yang jenius mengendalikan kekacauan“ – yang biasanya memang demikian sehingga biasanya mereka memiliki karir akademik yang gemilang. Mereka kurang tertarik dengan detail; mereka lebih suka melihat sesuatu secara keseluruhan. Ini artinya mereka masih memiliki pandangan menyeluruh yang baik ketika sesuatu mulai menjadi rumit. Namun demikian, sebagai akibatnya, sesekali dapat terjadi tipe Idealis Pemimpi melewatkan sesuatu yang penting. Karena mereka menyukai kedamaian, mereka cenderung tidak terang-terangan menunjukkan ketidakpuasan atau kejengkelan mereka melainkan memendamnya. Ketegasan bukan salah satu kekuatan mereka; mereka membenci konflik dan persaingan. Tipe Idealis Pemimpi lebih suka memotivasi orang lain dengan sifat ramah dan antusias mereka. Barangsiapa mendapatkan mereka sebagai atasan tidak akan pernah mengeluh kekurangan pujian.

Di tempat kerja, tipe Idealis Pemimpi adalah teman dan pasangan yang suka menolong dan setia, orang-orang yang memiliki integritas. Kewajiban sangat sakral bagi mereka. Perasaan orang lain penting bagi mereka dan mereka senang membuat orang lain bahagia. Mereka puas hanya dengan lingkaran kecil pertemanan; kebutuhan mereka akan kontak sosial tidak begitu menonjol karena mereka juga butuh banyak waktu untuk diri sendiri. Basa-basi kecil bukan keahlian mereka. Jika seseorang berharap berteman dengan mereka atau memiliki hubungan dengan mereka, orang itu harus mau berbagi dunia pemikiran mereka dan bersedia berpartisipasi dalam perbincangan mendalam. Jika Anda berhasil melakukan itu Anda akan dianugerahi dengan kemitraan yang luar biasa intensif dan kaya. Karena tuntutan-tuntutan mereka yang tinggi terhadap diri sendiri dan orang lain, tipe kepribadian ini kadang-kadang menjejali hubungan dengan gagasan-gagasan romantis dan idealis hingga tingkat tertentu sehingga membuat pasangan merasa terbebani atau minder. Tipe Idealis Pemimpi tidak jatuh cinta dengan mabuk kepayang namun ketika mereka jatuh cinta mereka menginginkannya menjadi cinta sejati yang tak berkesudahan.

nih yg mau ikutan test nya klik :D

Senin, 14 April 2014

lelucon hidup #1

kelakar itu
buahahaa
mungkin ada benarnya

sampai jumpa di kemudian hari komandan!

dan guyonan penuh sindiran itu
mungkin ada benarnya juga,
huahahaahaa

sampai jumpa dilembar pertanggungjawaban selanjutnya juara!

dan sarkastik yang terakhir
mungkin banyak benarnya
dan aku meredam semua itu
ya.
hahahahahahaa

sampai jumpa di akhir yang menjadi bahagia kita Sang!


hidup memang lelucon,
dan kesejatian itu sesungguhnya bernama: KESENDIRIAN
 #tidakbermaknajomblo

hakikatnya, seerat apapun kita
kita bukanlah satu, kita miliki kaki, tangan, otak, hati, mata dan teling yang berbeda
suatu saat,kita akan saling ditinggalkan atau meninggalkan, dan akhirnya..semua kembali lagi sendiri
hidup, hanya soal itu
le-lu-con saja
buahahahaa

memasuki hari ke sembilan:
bak roll coaster, enjoy it! :D

Jumat, 11 April 2014

berarti

mungkin hidupku tak akan lama
tapi aku citakan hidup yang tak lama ini bisa berarti




wahai mentari, bisa kau bagikan sedikit senyum cerahmu itu?

duhai senja...sampai kapan lagi aku harus menunggumu menetap lebih lama?

Sabtu, 05 April 2014

yg salah

Cerita itu tentang Ani Komariah Sriwijaya, seorang ibu rumah tangga asli Boyolali tapi tinggal di bandung, lulusan ITB, yang pada 2006 lalu menggegerkan masyarakat karena membunuh ketiga anaknya yang masih kecil dengan cara membekap mereka dengan bantal sampai meninggal. Mungkin masih banyak yang ingat kasusnya. Banyak yang mengira bahwa alasan pembunuhan itu adalah karena Bu Ani depresi memikirkan masalah ekonomi dan mengkhawatirkan masa depan anaknya yang suram. Bu Ani kemudian diputus bebas oleh pengadilan dan diperintahkan untuk menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa. Pak Faudzil Adhim kebetulan tergabung didalam tim psikologi yang memeriksa kondisi kejiwaan Bu Ani waktu itu, dan cerita latar belakang kenapa Bu Ani memutuskan untuk mengakhiri hidup anak2nya inilah yang mengundang kucuran airmata dan menegakkan bulu roma kami semua yang mendengarnya.

Bu Ani sendiri, boleh dibilang adalah potret sempurna dari keberadaan seorang anak. Dari kecil sampai lulus ITB, prestasi akademiknya selalu cemerlang. Pengalaman sosialnya juga bagus. Intinya, dari luar dia merupakan anak yang diidam-idamkan semua orangtua, titik. Ketika kemudian menikah dan menjadi seorang ibu, dia juga tidak beda dengan ibu-ibu lainnya yang sangat menyayangi anak-anaknya, segenap jiwa dan raga. Lantas kenapa dia sampai memutuskan mengakhiri hidup anak-anaknya sendiri?? Sebelum mengungkapkan alasan yang berhasil digali oleh tim psikologi yang memeriksanya, Pak Faudzil menggambarkan suasana siang itu, ketika Bu Ani melaksanakan niat yang sudah bulat diambilnya sejak beberapa waktu sebelumnya.

Siang itu si anak sulung Nadhif (6 tahun) baru pulang sekolah. Mungkin sekitar dhuhur, ketika sehabis sholat Bu Ani menyambut kedatangan si sulung dengan senyum dan pelukan sayang seperti biasa. Kemudian disiapkannya makan siang untuk Nadhif, ditemaninya si sulung makan siang bersama adiknya Faras (3 tahun, si anak tengah) . Si bungsu Umar (9 bulan) saat itu sedang tidur siang.

Sepanjang makan siang itu, Bu Ani lebih banyak mengelus rambut anak2 dan menciumi kepala mereka daripada hari-hari yang lain. Setelah selesai disuruhnya Nadhif dan Faras mandi. Sehabis mandi, mereka diberi pakaian yang nyaman dan dibedak seluruh tubuhnya sampai harum. Bu Ani kemudian menyuruh si sulung bermain di ruangan lain sementara dia mengantar si tengah tidur siang di kamar. (Aku tidak yakin yang mana diantara mereka yang lebih dulu diminta untuk tidur siang, tetapi kurang lebih begitu kejadiannya, satu anak diantar tidur siang dan yang lain bermain di luar kamar).

Bu Ani tak lupa mengajak si anak membaca doa sebelum tidur, bahkan dengan lembut menyanyikan beberapa lagu pengantar tidur yang diminta anaknya. Ketika kemudian dia yakin bahwa si anak sudah tertidur pulas, diambilnya bantal dan ditangkupkannya ke wajah anaknya tersebut….kuat-kuat….lama…
.cukup lama sampai nafas si anak berhenti…

Kemudian Bu Ani memanggil si anak lain yang sedang bermain di luar kamar. “Ayo, temani saudaramu tidur siang nak…” Dengan kelembutan dan kasih sayang yang sama diantarkannya si kecil ke hangatnya tidur siang dan mimpi yang indah… Dan Bu Ani sekali lagi mengambil bantal untuk ditangkupkan ke wajah si kecil… Si kecil pun kembali meregang nyawa tepat disamping saudara yang tanpa sepengetahuannya sudah lebih dulu meninggalkannya.

Dan terakhir, si bungsu Umar, yang masih bayi dan terlelap tidur pun, kemudian menyusul kedua kakaknya…meregang nyawa didalam pelukan Bu Ani…

***

Kisah diatas sangat mengerikan buat kita semua, tentu saja… Tetapi kalau ada yang lebih mengerikan adalah alasan Bu Ani melakukannya. Kalau melihat latar belakang pendidikannya, tentu hal seperti ini kurang masuk akal. Seharusnya Bu Ani sebagai seseorang yang berpendidikan tinggi, lebih bisa mengatasi tekanan mental maupun emosi didalam dirinya. Tetapi apa yang dialaminya (seperti yang diceritakan oleh Pak Fauzdil di PSC) ternyata memang sangat besar, jauh lebih besar daripada yang kami semua kira.
Setelah melewati penggalian yang lama dan dalam oleh tim psikologi, terungkap alasan sebenarnya dibalik keputusan Bu Ani…

Ani Komariah, dari luar memang potret anak yang sempurna. Tetapi sangat ironis dan dramatis, kecemerlangan dirinya dihadapan semua orang, ternyata tidak bisa dilihat oleh si Ani terpancar keluar dari mata ibu kandungnya sendiri. Ibunda dari Ani, diceritakan tidak pernah merasa puas dengan apapun yang dicapai oleh putrinya. Dan sang Ibu adalah tipe wanita yang SANGAT PENGOMEL!! Sekeras apapun Ani berusaha memberikan yang terbaik dalam hidupnya, tetap saja yang dia dapat ketika pulang adalah omelan tidak puas dari ibunya. Sebanyak apapun nilai A yang dia dapat, begitu berhadapan dengan ibunya langsung menjadi tidak berarti karena akan selalu dibandingkan dengan prestasi teman lain yang nilai A nya lebih banyak. Setinggi apapun prestasi yang dicapai Ani, yang dilihat sang Ibu adalah orang lain yang berprestasi lebih tinggi lagi. Omelan demi omelan tanda ketidakpuasan, sepertinya hanya itu yang Ani dapat selama dia tumbuh dewasa. Dan itu merupakan sebuah luka yang besar yang kemudian berurat akar dalam dirinya.

Ketika Ani menikah serta melahirkan ketiga anak-anaknya, omelan-omalen tak puas dari sang ibu bahkan sama sekali bukanlah yang terburuk yang bisa terjadi…

Selama mendidik putra-putrinya, pelan-pelan Ani belajar dan menyadari bahwa kebiasaan ibunya mendidik dia dulu, tanpa sadar seringkali dilakukannya pada anak-anaknya. Sekeras apapun niatnya untuk bertekad tidak mau meniru cara mendidik ibunya yang penuh omelan tak puas itu, tetapi sesering itu juga tanpa disadarinya, itu terjadi… Anaknya tumbuh dengan omelan yang (walaupun tidak sebanyak dirinya, tetapi) mirip dengan yang selalu diterimanya dulu dari sang ibu…

Ani kemudian belajar dan menemukan bahwa luka yang ditorehkan sang ibu didalam hidupnya, tak mungkin terhapuskan… Lebih buruk lagi, kemudian dia memutuskan bahwa luka itu menular, menurun dan melukai anak-anaknya juga… Luka yang kali ini dia timbulkan sendiri…. Dia torehkan tanpa sadar kedalam hidup anak-anak yang dicintainya… Luka yang menyebar dengan kuat, bahkan tekad bulatnya yang kuat untuk menjadi ibu yang baik pun, tak kuasa menghentikannya…

Sebagai seorang ibu, Ani merasa bahwa dia adalah ibu yang sudah terlanjur terlaknat. Terlaknat oleh luka dan kebiasaan buruk tak tersembuhkan yang sudah kadung ditorehkan ibunya dulu. Dan lebih buruk lagi, sekarang, tanpa dia sadari dan bisa hentikan, dia akan mencetak 3 calon orangtua yang terlaknat juga, yaitu anak-anaknya. Ani merasa nanti ketika anak2nya sudah menjadi orangtua, tanpa sadar mereka pasti akan mewarisi caranya memperlakukan anak-anak, sekeras apapun mereka mungkin akan mencoba menghentikannya.

Tak terbayangkan oleh Ani nasib cucu dan keturunannya, kalau luka ini akan terus menjalar turun kepada keturunannya. Kalau omelan-omelan jahanam itu akan terus menelan korban, melukai hidup banyak orang karena tidak bisa dihentikan penularannya. Melukai banyak orang yang kemudian hanya akan berakhir sama, menjadi penyebar dan pembawa kebiasaan terkutuk itu…

Konon, Bu Ani masih mengakui betapa cintanya dia pada sang bunda… Tetapi pada akhirnya, sebagai seorang ibu yang juga sangat mencintai Nadhif, Faras dan Umar, Bu Ani memutuskan bahwa dia tidak sanggup lagi mencintai anak-anaknya… Tidak dengan cara seperti itu…
 
 
 
cara mencintai yg salah.. terkadang, menjadi takut menjadi ibu, setidaknya dalam waktu dekat ini. terkadang teramat rindu, tapi.. ah,mungkin kisah ibu diatas adalah kisah seorang manusia yg tidak mengenal dirinya, juga tidak mengenal Tuhannya, dan juga tidak mengenal tarbiyah
Allah..save me please.. until the end, until the last breath...  

saya minta maaf untuk yg sering kecipratan cara saya mencintai yang salah, saya memang penuntut..dan tidak sabaran..
semoga Allah terus mampukan saya utk belajar dan memperbaiki diri..
:')
surga memang mahal..

Kamis, 03 April 2014

""

tombo ati, iku limo perkarane..
kaping pisan moco qur'an lan maknane,
kaping pindho, shalat wengi lakonono,
kaping telu wong kang soleh kumpulono
kaping papat ngudu weteng ingkang luwe
kaping limo dzikir wengi ingkang suwe..
...

kau sudah tahu cinta tak bisa dipaksa, ia adalah kejujuran hati yang terdalam
maka cukupkan saja dengan DIA, cukupkan saja..

Allah..karuniakan hati seluas samudera.. kembali jernih meski tinta jutaan gurita mengotori..
Allah..karuniakan hati seluas samudera, mencintai tanpa pamrih..memberi layaknya matahari..tak mengharap kembali

bukankah dakwah adalah cinta, jika sudah tak punya cinta bagaimana dakwah bisa kau lakukan?

Allah..paringono sabar inggile sabar..
Allah..paringono ikhlas...

:')



kadang suka malu, bertahun-tahun Allah takdirkan membersamai manusia2 keren dan luar biasa macam mba syifa, kiki, kifu, alqaan, maela, dayu, dan sampai sekarang masih membersamai iis, siti, refa dan lainnya.. tetap saja saya menjadi si hitam ditengah2 putih, atau batu kali diantara permata..
hue.. beruntung sekali saya, mungkin berkah bagi saya, musibah bagi mereka kali ya..hehehee
ah..i'm an ordinary, just ordinary.. try hard to be an extra ordinary,but i can't, i can't
dan inilah titik terburuk sepanjang hidup saya *semoga*, kegagalan demi kegagalan..berkali2..pd berbagai peran.. yah,,saat ini kepercayaan diri saya dititik nadhir, mendekati hancur, atau mungkin sebaiknya dibiarkan hancur dulu sejenak..untuk saya utuhkan lagi

Allah..paringono kurus #gagalfokus

)|(